ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Minggu, 26 Maret 2017
BS logo

DIDUGA LECEHKAN HUKUM,

Polresta Medan Dilaporkan Elza Syarief ke Presiden dan Kapolri
Sabtu, 18 Maret 2017 | 1:26

JAKARTA- Kepolisian Resort Kota Besar (Polrestabes) Medan dilaporkan Elza Syarief, Kuasa Hukum dari Siwaji Raja, dengan alasan dugaan melakukan tindak sewenang-wenang.


Elza mengaku telah mengirim surat ke Presiden dan Kapolri yang isinya tentang aduan atas tindakan sewenang-wenang Polrestabes Medan karena menangkap kembali Siwaji Raja dengan alasan memiliki novum atau alat bukti baru.


Siwaji alias RJ alias SR, yang ditahan sejak Minggu (22/1/2017), keluar dari Rumah Tahanan Polisi (RTP) Mapolresta Medan setelah permohonan praperadilannya dikabulkan Pengadilan Negeri (PN) Medan pada 13 Maret 2017.


Namun, baru selangkah meninggalkan gerbang pintu masuk, Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Sumatera Utara ini kembali ditangkap beberapa polisi berpakaian preman. Polisi beralasan menangkap kembali Raja karena memiliki novum atau alat bukti baru untuk menjerat Siwaji sebagai tersangka yang diduga sebagai otak pembunuhan Kuna.


Karena dinilai sewenang-wenang dan melecehkan hukum karena tidak menghormati putusan pengadilan, Elza pun mengadukan tindakan sewenang-wenang itu, kepada Presiden Republik Indonesia Joko Widodo, Kepala Kepolisian Republik Indonesia Jenderal Polisi Tito Karnavian, Kepala Badan Reserse Kriminal Komisaris Jenderal Ari Dono, Profesi dan Pengamanan Polri, dan Lembaga Kepolisian Nasional.


Elza juga menuding kepolisian telah melanggar Hak Asasi Manusia (HAM) kliennya.


"Dahsyatnya lagi yang melecehkan hukum, penegak hukum. Ini kami sayangkan, kami telah laporkan hal ini ke Presiden, Kapolri, Kabareskrim, Propam, dan Kompolnas," ujar Elza di Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (16/3/2017).


Putusan pengadilan, melalui majelis hakim tunggal Erintuah Damanik mengabulkan praperadilan RJ. Erintuah menganggap penyidik Polrestabes Medan tak memiliki bukti yang kuat menetapkan Raja sebagai tersangka penembakan Kuna. Atas putusan tersebut otomatis Raja harus bebas demi hukum.


Terdapat tujuh poin dalam putusan tersebut:

1. Mengabulkan permohonan praperadilan pemohon sebagian


2. Menyatakan penetapan tersangka berdasarkan surat perintah penyidikan nomor : Sp. Sidik/190/I/2017/Reskrim tanggal 18 Januari 2017 dan surat perintah penyidikan nomor: Sp.Sidik/199/I/2017/Reskrim tanggal 21 Januari 2017, surat perintah penangkapan Nomor: SP.KAP/45/I/2017/Reskrim tanggal 23 Januari 2017 dan surat perintah penahanan nomor: SP.HAN/23/I/2017/Reskrim tanggal 24 Januari 2017 TIDAK SAH dan tidak berdasar hukum, dan oleh karenanya penetapan, penangkapan dan penahanan aquo tidak mempunyai hukum mengikat.


3. Memerintahkan termohon untuk segera mengeluarkan pemohon dari ruang tahanan Polrestabes Medan segera setelah putusan ini.


4. Menghukum termohon membayar uang pengganti Rp 1.000.000.


5. Memerintahkan termohon untuk merehabilitasi nama baik pemohon dalam 1 media cetak nasional dan 1 media televisi.


6. Menolak permohonan praperadilan untuk selebihnya.


7. Membebankan biaya perkara kepada termohon nihil.


"Putusannya jelas yakni mengeluarkan pemohon dari ruang tahanan, terus menghukum termohon uang pengganti Rp1 juta. Tanya dengan Polrestabes Medan, apakah dia sudah membayar Rp1 juta ke kami? Itu kan’ uang pengganti kepada kami.  Selain itu, Polrestabes Medan, belum merehabilitasi nama Siwaji melalui penyiaran di satu media cetak nasional dan satu media televise,” ujar Elza yang mengadakan konferensi pers di kantornya di daerah Menteng, Jakarta.


Elza juga menanyakan bukti baru yang digunakan Polresta Medan untuk menangkap kembali Siwaji. Namun hingga sekarang tidak ada penjelasan soal novum baru itu dari Polresta Medan.


"Putusan pengadilan saja tak dihormati. Menahan kembali, itu sewenang-sewenang. Dasarnya ada bukti baru. Bukti baru yang mana?" ujar Elza.

Status tersangka

Sebelumnya atas penangkapan kembali RJ, Kapolrestabes Medan Kombes Sandi Nugroho –seperti dilansir Liputan6, Rabu (15/3)-- mengatakan penangkapan itu dilakukan setelah pihaknya kembali menetapkan status tersangka terhadap RJ.

"Kami hargai keputusan praperadilan. Dari hasil praperadilan diputuskan bahwa permohonan pemohon diterima sebagian yang memutuskan RJ bebas. Makanya, tadi kami bebaskan dan kami kembalikan ke keluarganya setelah melakukan pengurusan administrasi yang diperlukan," kata Sandi di Mapolrestabes Medan, Selasa (14/3).

Menurut dia, begitu polisi menerima salinan putusan praperadilan, mereka langsung menggelar rapat evaluasi terhadap seluruh proses penyelidikan dan penyidikan yang mereka lakukan. Rapat evaluasi tersebut juga dihadiri oleh Kapolda Sumut Irjen Rycko Amelza Dahniel dan unsur internal penyidik.

"Gelar perkara itu memutuskan keterlibatan RJ dalam kasus pembunuhan Kuna masih kuat, patut diduga sebagai pelaku yang turut serta dalam kasus pembunuhan," kata Sandi.

Ia menuturkan, dalam penetapan tersangka kali ini, pihaknya memiliki lebih banyak bukti untuk menjerat RJ. Termasuk, bukti-bukti baru berupa bukti materil dan keterangan saksi yang dalam praperadilan sebelumnya tidak menjadi pertimbangan hakim.

"Kami telah periksa ahli dari pakar telematika ini untuk membantah keterangan para tersangka yang sebelumnya menolak mengatakan pernah berkumpul. Namun kenyataannya, keterangan ahli membuktikan bahwa ada pada satu jam tertentu, mereka berada di lokasi bersama," tutur dia.

Menurut Sandi, masih banyak unsur-unsur lain sebagai alat bukti pendukung dan pihaknya juga sudah memperbarui berkas-berkas untuk penetapan tersangka, penangkapan dan penahanan. Polisi, kata Sandi, juga punya beberapa bukti material baru sehingga pihaknya berkeyakinan RJ terlibat dalam kasus itu.

Lebih lanjut, Sandi mengingatkan praperadilan merupakan langkah hukum yang menjadi hak warga untuk menggugat proses penyelidikan polisi. Namun, keputusan praperadilan itu tidak menghilangkan tindak pidana yang terjadi.

"Saya meminta semua pihak untuk menahan diri dan memberikan waktu kepada penyidik untuk bekerja. Kalau mau dipraperadilan lagi, silahkan. Itu hak mereka. Yang pasti kami sudah siap jika itu dilakukan lagi. Bahkan, kami jauh lebih siap dari sebelumnya," ucap Sandi.

Disinggung mengenai keberadaan terduga otak pembunuh pengusaha airsoft gun saat ini, Sandi menyebut yang bersangkutan sedang menjalani pemeriksaan di Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polrestabes Medan."Petugas sedang melakukan pemeriksaan terhadap RJ," kata dia.


Sebelumnya, RJ keluar dari Rumah Tahanan Polrestabes Medan karena putusan hakim yang memvonis bebas RJ usai mengajukan gugatan praperadilan di Pengadilan Negeri Medan, Senin, 13 Maret 2017. Sesaat dirinya bebas, petugas kembali menahannya. (gor)


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!