ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Minggu, 26 Maret 2017
BS logo

2016, Pertamina Bukukan Laba US$ 3,15 M
Senin, 20 Maret 2017 | 0:40

JAKARTA – PT Pertamina (Persero) berhasil membukukan laba bersih yang telah teraudit sebesar US$ 3,15 miliar pada 2016 atau lebih tinggi 122% dibandingkan realisasi 2015 yang tercatat hanya US$ 1,42 miliar. Perolehan laba tersebut didukung oleh kinerja operasi yang meningkat serta efisiensi dan penciptaan nilai tambah perusahaan melalui program Breakthrough Project 2016.

 

Direktur Keuangan Pertamina Arief Budiman mengatakan, peningkatan laba utamanya didorong oleh adanya efisiensi. Pada tahun lalu, perseroan berhasil melakukan efisiensi hingga US$ 2,67 miliar melalui Breakthrough Project 2016. Realisasi ini lebih tinggi dari target yang ditetapkan yakni US$ 2,13 miliar. Namun, lanjutnya, peningkatan laba secara fundamental disebabkan oleh membaiknya kinerja perusahaan.

 

“Seperti produksi minyak dan gas naik menjadi 650 ribu barel setara minyak per hari, yield kilang menjadi 77%, penjualan produk menjadi 64,63 juta kiloliter (KL), dan adanya inovasi-inovasi produk baru untuk mendapatkan ceruk pasar baru,” kata dia dalam jumpa pers di Jakarta, Kamis (16/3).

 

Pada 2016, Pertamina membukukan laba US$ 3,15 miliar, naik dari tahun-tahun sebelumnya yakni US$ 1,42 miliar pada 2015 dan US$ 1,45 miliar pada 2014. Kemudian, perseroan mencatatkan pendapatan US$ 36,49 miliar, turun dari tahun sebelumnya US$ 41,76 miliar.

 

Di sisi lain, biaya perseroan juga berkurang menjadi US$ 30,29 miliar dari US$ 37,84 miliar pada 2015. EBITDA Marjin perusahaan juga tercatat terus naik dari 8,2% pada 2014, menjadi 12,28% pada 2015, dan mencapai 20,73% pada tahun lalu.

 

Kinerja keuangan ini didukung oleh perbaikan kinerja operasi. Rincinya, produksi migas perseroan tahun lalu sebesar 650,01 ribu barel setara minyak per hari terdiri dari minyak 311 ribu barel per hari (bph) dan gas 1,96 miliar kaki kubik per hari (billion cubic feet per day/bcfd).

 

Sementara penjualan gas tercatat 708,68 triliun british thermal unit atau 130% dari target, serta transportasi gas 522,1 bscf. Selanjutnya dari pengolahan, semakin tingginya hasil produk bernilai tinggi (yield valuable product) menjadi 77,76% naik 4,5% dibandingkan dengan capaian tahun 2015.

 

Di sisi lain, biaya pokok produksi kilang Pertamina semakin rendah menjadi 97,1% atau turun 6,3% dibandingkan dengan tahun 2015 sebesar 103,6%. Kemudian volume penjualan produk BBM 64,63 juta KL atau naik 2,8% dan LPG juga meningkat 6,3% menjadi 12,09 juta KL.

 

Dari laba US$ 3,15 miliar, tambah Arief, sebanyak 70% diperoleh dari bisnis hilir perseroan. Hal ini jugalah yang menyebabkan pertumbuhan pada Oktober-Desember 2016 mulai melambat. Pasalnya, harga minyak mulai merangkak naik dan stabil di kisaran US$ 55 per barel.

 

Sementara Pertamina ditugaskan tidak hanya mencari untung, tetapi juga mempertahankan harga bahan bakar minyak (BBM) ke masyarakat tetap stabil. Karenanya pada tahun ini, porsi laba Pertamina disebutnya akan lebih seimbang dari sector hulu dan hilir. Hal ini mengingat dengan membaiknya harga minyak mentah, bisnis hulu perseroan juga akan semakin stabil.

 

Di sisi lain, bisnis hilir justru akan stabil, tidak melesat seperti awal 2016. Pada tahun ini, pihaknya akan terus melakukan efisiensi guna mendongkrak kinerja keuangan. Namun diakui Arief, perolehan efisiensi tidak akan sebesar tahun lalu.

 

“Base-nya semakin tipis. Di 2017 dari bottom up (efisiensi) US$ 1 miliar, karena harga minyak mulai stabil,” ujar dia.

 

Tahapan penting megaproyek pengolahan dan petrokimia juga dicapai pada tiga megaproyek yang sudah dijalankan selama 2016. Hal ini juga merupakan bentuk konkret komitmen pengembangan kapasitas kilang Pertamina menjadi 2 juta bphpada 2023. Rincinya, penandatanganan Joint Venture Development Agreement untuk RDMP Cilacap dengan Saudi Aramco, penuntasan Basic Engineering Design dan topping off fasilitas hunian pekerja untuk RDMP Balikpapan, serta kesepakatan Framework Agreement yang dilanjutkan dengan Joint Venture Agreement bersama Rosneft Oil Company untuk GRR Tuban.

 

“Pertamina telah melalui tahun 2016 dengan cukup baik. Namun, gejala yang muncul pada kuartal keempat 2016 masih tetap harus diwaspadai sepanjang tahun 2017 dengan berbagai langkah antisipasi yang sudah dicanangkan dan diamanatkan pemegang saham,” kata Direktur Utama Pertamina Elia Massa Manik. (ayu)


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!