ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Sabtu, 24 Juni 2017
BS logo

631 Supervisor SPBU Dilatih Bujuk Konsumen Beli Pertamax
Selasa, 26 April 2011 | 9:40

Dirjen Migas Evita Legowo (kanan) saat memberikan pengarahan pelaksanaan pelatihan tenaga penyuluh lapangan pengaturan BBM bersubsidi di Jakarta, Senin (25/4). Kegiatan untuk persiapan pelaksanaan pengaturan BBM bersubsidi tersebut dijadwalkan diikuti sebanyak 22 angkatan dengan masing-masing sekitar 100 peserta yang terdiri atas supervisor SPBU dan aparatur pemda. Foto: Investor Daily/EKO S HILMAN Dirjen Migas Evita Legowo (kanan) saat memberikan pengarahan pelaksanaan pelatihan tenaga penyuluh lapangan pengaturan BBM bersubsidi di Jakarta, Senin (25/4). Kegiatan untuk persiapan pelaksanaan pengaturan BBM bersubsidi tersebut dijadwalkan diikuti sebanyak 22 angkatan dengan masing-masing sekitar 100 peserta yang terdiri atas supervisor SPBU dan aparatur pemda. Foto: Investor Daily/EKO S HILMAN

JAKARTA – Kementerian ESDM melatih 631 supervisor stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di wilayah Jakarta agar mampu membujuk calon konsumen membeli Pertamax. Pelatihan itu dilakukan terkait upaya pemerintah mengendalikan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.

Dirjen Migas Kementerian ESDM Evita Legowo mengatakan, pelatihan kepada supervisor ini agar para petugas SPBU setidaknya bisa menawarkan Pertamax kepada pelanggannya.

“Pengendalian BBM subsidi memang baru sebatas mengimbau masyarakat agar membeli Pertamax. Kalau punya mobil pribadi sudah waktunya mereka membeli Pertamax,” kata Evita usai membuka Pelatihan Tenaga Penyuluh Lapangan Pengaturan BBM Bersubsidi Bagi Supervisor SPBU di Wilayah Jakarta, di Hotel Oasis Amir, Jakarta, Senin (25/4).

Di wilayah Jakarta, saat ini ada sekitar 631 SPBU yang telah menjual Pertamax. Sedangkan jumlah supervisor mencapai 2.524 orang dan 18.930 operator. Namun, supervisor yang akan dibekali pelatihan hanya sekitar 631 orang. Direktur Pemasaran dan Niaga PT Pertamina (Persero) Djaelani Sutomo menambahkan, pelatihan ini nantinya juga akan dilaksanakan di daerah lain. Rencananya, pelatihan ini akan diadakan sebanyak 22 angkatan dengan peserta tiap angkatan sekitar 100 orang.

“Setelah di wilayah Jakarta dan sekitarnya, Pertamina juga akan melatih petugas SPBU di Bandung, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, hingga Sumatera,” jelas dia.

Djaelani mengatakan, sebelumnya Pertamina juga sudah memulai kampanye penggunaan Pertamax. Perusahaan minyak dan gas pelat merah itu telah memasang spanduk, running text, tiket, stiker, dan poster yang isinya mengajak masyarakat memakai Pertamax.

“Kita rencananya akan membuat iklan televisi juga. Kemarin pemerintah juga sudah buat iklan. Jadi masing-masing buat  tetapi porsinya beda,” kata dia.

Dalam pelatihan kali ini, Pertamina menyosialisasikan standar operasional pelayanan yang baru kepada supervisor SPBU. Dengan standar ini, petugas pom bensin diwajibkan menawarkan Pertamax atau Pertamax Plus kepada calon konsumen.

Namun, bila konsumen tetap memilih Premium, petugas SPBU harus menahan jumlah pembelian dengan menanyakan berapa liter yang dikehendaki. Setelah itu, petugas juga wajib membagikan pamflet mengenai product knowlegde Pertamax.

Terakhir, ditutup dengan ucapan terima kasih dan ajakan membeli Pertamax untuk pengisian selanjutnya. Meski demikian, efektivitas standar pelayanan yang baru ini dan pemasangan spanduk diragukan bisa menurunkan pemakaian BBM subsidi. Pasalnya, pelanggan akan tetap membeli bahan bakar yang harganya lebih murah.

“Spanduk tidak akan berpengaruh. Tetap saja Premium yang dicari karena harganya lebih murah. Mobil mewah saja masih beli Premium,” kata Firmansyahrudin, pengawas SPBU yang mengikuti pelatihan.

Kalangan pengusaha SPBU justru meminta pemerintah menaikkan harga BBM subsidi. Langkah ini dinilai lebih efektif untuk menyeimbangkan jumlah pemakaian Premium dan Pertamax. Apalagi, persaingan antar-SPBU Pertamina dan asing juga makin ketat.

Seperti diketahui, selama kuartal pertama 2011 konsumsi BBM subsidi sudah mencapai 9,6 juta kiloliter (kl). Angka ini lebih tinggi 5,4% dari kuota kuartal pertama 2011 sebesar 9,1 juta kl. Sementara jika dibandingkan dengan jatah tahun ini yang sebesar 38,5 juta kl, konsumsi BBM subsidi hingga Maret 2011 sudah mencapai 25%. (c05)


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!