ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Minggu, 26 Maret 2017
BS logo

Melimpah, Cadangan Gas Bumi RI Capai 152,89 TSCF
Kamis, 21 Juni 2012 | 15:35

Seorang teknisi SBU Transmisi Sumatera Jawa, Bojonegara, melakukan pengecekan rutin pipa penyalur gas, beberapa waktu lalu. Foto ilustrasi: dok. Investor Daily Seorang teknisi SBU Transmisi Sumatera Jawa, Bojonegara, melakukan pengecekan rutin pipa penyalur gas, beberapa waktu lalu. Foto ilustrasi: dok. Investor Daily

JAKARTA - Indonesia masih memiliki cadangan gas bumi sebanyak 152,89 triliun standard cubic feet (TSCF). Cadangan gas bumi itu diluar total sumber daya gas metana batubara (coalbed methane/CBM) yang tersebar di 11 basin mencapai 453,30 TSCF dan potensi shale gas yang kini masih tahap studi.

"Dari total cadangan, sebanyak 104,71 TSCF merupakan cadangan terbukti dan 48,18 merupakan cadangan potensial," kata Direktur Pembinaan Usaha Hulu Ditjen Migas Kementerian ESDM, Edy Hermantoro, dalam Round Tabel Discussion tentang Renegosiasi Harga Jual Gas Bumi dan Permasalahannya di Warung Daun Cikini Jakarta, hari ini.

Dia mengatakan, penambahan cadangan dan eksploitasi gas di Indonesia cenderung lamban. Lain halnya dengan minyak, penambahan eksploitasi gas baru bisa dilakukan bila sudah ada pembeli.

Di sisi lain, hingga saat ini, gas masih dianggap produk sampingan. Indonesia masih menjadikan minyak sebagai energi utama. “Kalau ditanya apakah masih besar, tentu masih sangat banyak sumber gas kita dan masih puluhan tahun habisnya. Kalau ada yang bilang krisis gas, itu sebenarnya keterbatasan infrastruktur. Selain itu, gas bisa dikembangkan kalau ada pembelinya,” kata Edy.

Data Kementerian ESDM menyebutkan, cadangan gas bumi di Indonesia tersebar di Sumatera Barat sebanyak 5,56 TSCF dan 1,29 TSCF, Natuna sebanyak 50,94 TSCF, Sumatera Tengah 9,01 TSCF, Sumatera Selatan 15,79 TSCF, Jawa Barat 4,24 TSCF, Jawa Timur 5,73 TSCF, Kalimantan 17,36 TSCF, Sulawesi 3,83 TSCF, Papua 23,91 TSCF, dan Perairan Maluku 15,22 TSCF.

Edy mengakui, ketergantungan Indonesia pada BBM turut membuat gas kurang memiliki peran vital. Misalnya, harga BBM di Indonesia justru terendah di dunia. Sebagai gambaran, di Amerika Serikat (AS), Timor Timur, dan Filipina, harga BBM bisa mencapai Rp10-12 ribu per liter. Bahkan Myanmar menjual BBM dengan harga keekonomian, padahal negara itu belum lama merdeka.

Belum lagi persoalan infrastruktur yang terbatas. Peran pemerintah kata dia, hanya 0,5 persen dalam penyediaan infrastruktur gas. Sementara sisanya dilakukan swasta.

"Itu dilakukan melalui PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) Tbk, sebanyak 99,5 persen pengembangan infrastruktur gas itu dilakukan swasta. Jangan salahkan kalau Natuna dengan potensi gas yang begitu besar, tapi tetap saja gas tidak bisa mengalir kemana-mana karena tidak ada infrastrukturnya," kata Edy. (ID/tri listiyarini)


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!