ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Senin, 26 Juni 2017
BS logo

Pemerintah Diminta Selesaikan Piutang Pertamina Rp 30 Triliun
Oleh Euis Rita Hartati | Senin, 19 Juni 2017 | 16:49

JAKARTA – Pemerintah diminta segera menyelesaikan piutang PT Pertamina yang jumlahnya mencapai Rp 30 triliun, dimana porsi terbesar berasal dari subsidi bahan bakar minyak (BBM) yang belum dibayarkan ke BUMN migas tersebut. Pasalnya, hal ini akan mengganggu cash flow Pertamina yang pada akhirnya akan berpengaruh pada program kemandirian energi nasional.


“Angka Rp 30 triliun itu sangat besar dan ini merupakan utang carry over. Neraca Pertamina akan menjadi jelek dan ini menyulitkan Pertamina untuk mendapatkan dana untuk membangun kilang. Jadi, pemerintah harus segera menyelesaikan masalah ini,” kata Anggota Komisi VII DPR RI Dito Ganinduto kepada Investor Daily di Jakarta, Minggu (18/6).


Sebelumnya, dalam acara Buka Puasa Bersama di Jakarta akhir pekan lalu, Direktur Utama Pertamina Elia Massa Manik mengungkapkan bahwa pihaknya memiliki piutang sekitar Rp 30 triliun. “Kalau piutang ini bisa dibayar saja, itu bisa cukup untuk membangun kilang besar, kita tidak perlu cari-cari dana,” kata Elia Massa Manik.


Lebih lanjut Direktur Keuangan Pertamina Arief Budiman mengatakan bahwa piutang tersebut terdiri atas piutang subsidi BBM dan LPG dari pemerintah, juga dari pihak lain seperti PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan militer.


Menurut Dito, jika pembangunan kilang terganggu, maka impor BBM akan terus menerus dilakukan yang menyebabkan devisa negara juga akan tergerus. “Tentunya lama kelamaan akan melemahkan rupiah. Kerugian negara akan jauh lebih besar,” tegas Dito.


Padahal sudah ada komitmen bersama bahwa pada 2030 Indonesia harus sudah mengurangi impor BBM dengan membangun dua kilang besar dan menjalankan proyek Refinery Development Masterplan Program (RDMP) Kilang Balikpapan, Kilang Balongan, dan Kilang Cilacap.

“Negara kita sudah sangat tertinggal dalam hal pembangunan kilang, bahkan jika dibandingkan dengan Singapura. Negara ini bahkan sudah memiliki kilang dengan kapasitas 2-3 juta barel per harii,” kata Dito.


Ditambah lagi, kata dia, Pertamina menanggung kewajiban mewujudkan program BBM Satu Harga di seluruh Tanah Air, yang membutuhkan biaya besar. Untuk diketahui, pada program BBM Satu Harga Pertamina harus mengeluarkan dana sekurangnya Rp 5 triliun per tahun. Hal ini mengingat berbagai moda transportasi harus digunakan Pertamina untuk menjangkau daerah-daerah terpencil, mulai dari truk tangki, kapal tanker, kapal kecil, hingga pesawat. (bersambung)


Baca selanjutnya di http://id.beritasatu.com/home/pertamina-hadapi-banyak-tantangan/161784


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!