ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Sabtu, 24 Juni 2017
BS logo

‘Bom Waktu’ BBM
Jumat, 29 Juli 2011 | 9:12

Mencermati manajemen alokasi bahan bakar minyak (BBM) membuat kita mengelus dada. Setiap hari, di kota-kota besar kita menyaksikan triliunan rupiah BBM dibakar percuma karena kemacetan lalu lintas yang akut. Hasil penelitian Fakultas Teknik UI menyebutkan, kerugian akibat kemacetan lalu lintas di Indonesia mencapai Rp 28,1 triliun.

Pemandangan kontras terjadi di daerah yang jauh dari pusat pemerintahan. Masyarakat sangat menderita karena kelangkaan BBM. Antre berjam-jam di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) sudah menjadi aktivitas rutin tiap hari. Pasalnya, harga premium di luar SBPU naik berlipat- lipat.  Di Jambi, misalnya, harga premium mencapai Rp 15.000 per liter, di Kisaran, Sumatera Utara, mencapai Rp 9.000 per liter.

Ini tentunya sangat tidak adil. Masyarakat kota besar yang taraf hidupnya relatif lebih makmur dibiarkan boros menggunakan BBM bersubsidi. Berapa pun kebutuhan BBM bersubsidi di kotakota besar seper tinya terus dipenuhi. Padahal, tiap hari jumlah kendaraan, baik mobil maupun sepeda motor, terus bertambah.

Kemacetan lalu lintas pun sudah menyerupai monster yang mengerikan bagi warganya. Sebaliknya, masyarakat di kawasan terpencil sangat menderita akibat sulit mendapatkan BBM. Ini bertentangan dengan kebijkan prorakyat miskin (pro-poor) yang menjadi pilar pembangunan pemerintahan saat ini.

Kondisi yang amburadul itu bermuara dari sikap pemerintah yang gamang mengatasi pembengkakan konsumsi BBM dan tidak siap mengantisipasi fluktuasi harga minyak internasional. Pemerintah terus menggenjot pertumbuhan ekonomi tetapi tidak mempersiapkan konsekuensi dari pertumbuhan ekonomi adalah pembengkakan konsumsi BBM.

Kita tak hendak menyalahkan pertumbuhan ekonomi, karena itu sangat dibutuhkan untuk penciptaan lapangan pekerjaan dan juga meningkatkan pendapatan per kapita masyarakat. Sebaliknya, sikap ragu pemerintah soal BBM justru berdampak destruktif bagi program pembangunan sekaligus menciptakan ketidakadilan bagi masyarakat. Sebab, sebagian masyarakat harus menanggung beban lebih besar akibat alokasi BBM yang tidak merata.

Realitanya, konsumsi BBM bersubsidi terus meningkat. Per Juli 2011, konsumsi BBM bersubsidi hampir mencapai 20 juta kiloliter, atau lebih dari separuh kuota BBM tahun ini sebesar 38,59 juta kiloliter.  Ini tentu sangat mengkhawatirkan karena belum memasukkan kebutuhan konsumsi BBM saat Lebaran yang biasanya melonjak tajam. Berdasarkan perhitungan Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan, setiap tambahan kuota BBM 1 juta kiloliter akan membengkakkan subsidi sekitar Rp 1,7 triliun.

Sungguh sangat disayangkan jika dana subsidi itu dibakar di jalanan, sementara pembangunan infrastruktur yang bisa menciptakan multiplier effect bagi pembangunan justru terbengkalai. Sikap ragu-ragu pemerintah dalam hal BBM menyebabkan maraknya penyelewengan dan penyelundupan. Dan ini ditengarai terjadi di 446 kabupaten/kota di Indonesia yang mengonsumsi BBM bersubsidi melebihi kuota yang telah ditetapkan tahun ini. Yang lebih parah lagi, banyak nelayan berganti profesi dari menangkap ikan ke penjual BBM bersubsidi karena lebih menguntungkan.

Karut marut penanganan BBM harus segera dihentikan. Jika pemerintah telah memutuskan tidak akan menaikkan harga BBM bersubsidi dalam waktu dekat, semestinya harus cepat pula membuat langkah konkret untuk membatasi konsumsi BBM bersubsidi agar masalahnya tidak berlarut-larut. Strategi pengurangan konsumsi BBM bersubsidi harus secepatnya diumumkan ke publik agar tidak terjadi resistensi.

Strategi penghimpunan pendapat dari publik diyakini bisa meredam berbagai gejolak. Bukan seperti saat ini yang diputuskan diam-diam dengan membatasi konsumsi BBM di sejumlah wilayah. Ini justru menimbulkan kesemrawutan dan kontraproduktif bagi perekonomian. Jika kelangkaan BBM bersubsidi dibiarkan terus meluas, tidak mustahil akan menimbulkan instabilitas politik. Masalah BBM jangan dibiarkan menjadi ‘bom waktu’ yang bakal membakar ekonomi Indonesia.


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!