ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Kamis, 29 Juni 2017
BS logo

Bulog Diminta Kembali Sebagai Stabilisator
Selasa, 1 Februari 2011 | 20:04

JAKARTA - Sejumlah kalangan meminta pemerintah mengembalikan fungsi Perum Bulog sebagai stabilisator harga pangan, khususnya gula.

Wakil Ketua Komisi VI DPR Aria Bima mengatakan, tidak terkendalinya harga gula saat ini, akibat pemerintah tidak memiliki instrumen pengendali harga, kecuali operasi pasar (OP).

"Namun OP hingga kini tidak sepenuhnya mampu membantu menyelesaikan masalah," katanya di Jakarta, Selasa.

Oleh karena itu, lanjutnya, Panja Gula memutuskan menjadikan Perum Bulog sebagai buffer stock pengendalikan harga komoditas strategis ini. Sebagai stabilisator gula, Bulog minimal mempunya stok dua bulan kebutuhan nasional.

Aria Bima yang juga Ketua Panja Swasembada Gula itu mengatakan, Panja telah merekomendasikan masalah pergulaan nasional yang antara lain menyebutkan izin impor baik raw sugar, gula kristal putih (GKP) dan sejenisnya diproses oleh satu lembaga.

Selain itu, terkait fungsi buffer stock gula nasional, pelaksana impor gula diberikan kepada Perum Bulog.

Panja gula DPR juga merekomendasikan agar revisi Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan (Kepmenperindag) No. 527/2004 terkait tata niaga gula dipercepat begitu juga dengan sistem pengawasan tata niaga.

"Untuk itu, pemerintah perlu memberikan lembaga pangan ini kewenangan mengimpor gula kristal manis ini agar fungsinya sebagai penyangga stok atau buffer stock gula nasional terjamin," katanya.

Alternatif lain, tambahnya, memberikan Bulog kesempatan membeli gula yang diproduksi pabrik gula dalam negeri, khususnya milik PTPN dan PT RNI.

Menurut ekonom Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Pande Raja Silalahi menyatakan, dalam situasi seperi sekarang usulan DPR agar implementasi impor gula (gula kebutuhan konsumsi dan gula rafinasi) dilakukan Bulog sangat beralasan.

"Mungkin itu (impor gula melalui Bulog) merupakan pilihan yang paling tepat saat ini," katanya seperti dikutip Antara.

Menurutnya, dengan memfungsikan Bulog sebagai pengelola penawaran, sangat besar kemungkinan fluktuasi harga gula di dalam negeri dapat diintervensi secara lebih efektif dan lebih efisien.

Dalam melakukan tugasnya, menurut dia, Bulog bisa bertindak sebagai perantara antara eksportir di luar negeri, industri dalam negeri dan distributor gula yang tersebar diberbagai wilayah di Indonesia.

Sebagai distributor, kata Pande, Bulog memang tidak perlu rugi, bahkan lembaga itu dapat membiayai kegiatannya dengan mengenakan fee bagi mereka yang meminta baik raw sugar maupun gula konsumsi dari dan melalui Bulog.

Namun demikian Pande mengakui, intervensi ini akan mendapat tantangan dari importir raw sugar yang sekaligus industri makanan dan minuman, namun hal itu dapat diatasi melalui kinerja Bulog.

Sementara ITU, peneliti Soegeng Sarjadi Syndicated (S3) Mohammad Dahlan menilai usulan impor gula dilakukan satu pintu sangat baik dan relevan.

Selama ini, lanjutnya, kebijakan tata niaga impor justru menciptakan struktur pasar yang mengarah pada pasar monopolistik melalui kartel apalagi, importir terdaftar (IT) sampai saat ini hanya empat importir.

Para importir, kata dia, secara bersama-sama dapat melakukan pengaturan volume impor, sehingga mereka dapat dengan mudah melakukan pengaturan stok gula nasional yang dapat mengakibatkan melambungnya harga.

Menurut dia, persoalan gula merupakan masalah nasional oleh karena itu untuk mengontrol harga gula domestik sekaligus mendorong produsen gula dalam negeri, maka penerapan impor adalah salah satu solusi yang dapat diandalkan.

"Masalahnya, siapa yang harus menjadi pengimpor? Saya usulkan agar pemerintah melalui Bulog yang menjadi importir tunggal," katanya.

Agar impor gula melalui satu pintu itu terealisir, baik Pande Raja, Mohammad Dahlan, maupun Aria Bima sependapat, agar pemerintah segera mengeluarkan kebijakan tata niaga gula baru, dalam bentuk keputusan Menteri atau Keputusan Presiden. (tk)

 


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!