ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL COSMOPOLITAN WAWANCARA BUMN NEWS BUSINESS FINANCIAL PLANNING
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Rabu, 30 November 2016
BS logo

Krisis Eropa dan ‘Kematian’ Dua Mazhab Ekonomi
Oleh Anthony Budiawan | Kamis, 24 Mei 2012 | 7:08

Pada awal abad ke-20 terjadi persaingan antara dua ekonom besar, John Maynard Keynes dan Friedrich Hayek. Keduanya mewakili dua institusi besar dunia, yaitu Keynes untuk Cambridge (School of Economics) dan Hayek untuk London School of Economics.

Kedua ekonom tersebut mempunyai pandangan yang bertolak belakang, khususnya dalam hal kebijakan ekonomi yang harus diambil untuk memerangi resesi. Perseteruan kedua ekonom besar tersebut berlanjut di awal abad ini. Krisis global yang bermula dari krisis finansial 2008 seolah kembali menabuh genderang perseteruan yang sudah berumur satu abad tersebut. Uni Eropa, tepatnya zona euro, merupakan tempat pengujian dan pembuktian ajaran ekonomi mana yang paling tepat.

Kedua teoriter tersebut masingmasing sudah terbukti berhasil mengangkat kembali perekonomian global dari keterpurukan yang berkelanjutan: Keynesian economics berhasil meningkatkan pertumbuhan ekonomi global Pascaperang Dunia II pada 1950-an, dan Hayekian economics berhasil mengangkat perekonomian dunia keluar dari stagflasi berkelanjutan pada 1970-an.

Keserakahan Manusia
Pada saat resesi, Keynes menganjurkan agar peran pemerintah diperbesar untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, khususnya melalui stimulus fiskal dan defisit anggaran pemerintah. Teori ini diterapkan oleh banyak negara pasca-Perang Dunia Kedua, dan berhasil mengangkat ekonomi global dari resesi yang berkepanjangan di tahun 1930- an.

Hayek berpendapat sebaliknya. Resesi pada dasarnya disebabkan oleh ekspansi kredit/investasi yang berlebihan dan mengakibatkan gelembung ekonomi yang pada saatnya akan pecah menjadi resesi. Oleh karena itu, menurut Hayek, solusi terbaik adalah membiarkan kondisi ekonomi kembali secara alamiah ke titik seimbang tanpa intervensi pemerintah.

Setiap intervensi pemerintah untuk memerangi resesi akan berakibat fatal dan akan menyebabkan inflasi tinggi, tingkat pengangguran tinggi dan tingkat pertumbuhan ekonomi rendah, atau yang kemudian dikenal sebagai stagflasi. Prediksi Hayek pada akhirnya menjadi kenyataan, di mana ekonomi global memasuki periode stagflasi pada akhir 1960-an dan tahun 1970-an.

Ketika dunia sedang fr ustrasi menghadapi kondisi stagflasi berkepanjangan itulah Presiden Amerika Serikat Ronald Reagan (1981-1989) bersama Perdana Menteri Inggris Margaret Thatcher (1979-1990) melakukan terobosan besar dengan menerapkan ajaran Hayek sepenuhnya untuk memerangi stagflasi. Hal ini terbukti ampuh. Kedua negara adidaya tersebut berhasil membawa ekonomi global keluar dari impitan stagflasi yang sudah menahun.

Begitu spektakulernya kebijakan ekonomi berbasis Hayekian economics tersebut, sehingga kemudian kita mengenal istilah reaganomics, atau supply side ekonomi, di AS, dan thatcherism di Inggris. Sesuai ajaran Hayek, pemerintahan Ronald Reagan dan Margaret Thatcher memangkas peran pemerintah di dunia bisnis ke tiitik terendah sepanjang sejarah kedua negara tersebut.

Pemangkasan tarif pajak, pembatasan anggaran belanja pemerintah, dan swastanisasi besar-besaran terjadi di era pemerintahan Ronald Reagan dan Margaret Thatcher. Sayangnya, krisis finansial 2008 telah membuktikan keserakahan manusialah yang menyebabkan krisis finansial global dan menyeret Uni Eropa ke dalam krisis utang negara dan krisis sosial berkepanjangan.

Pada awalnya, krisis tersebut diselesaikan ala Keynesian dengan cara memberi stimulus fiskal dan ekonomi serta intervensi pemerintah untuk menopang ekonomi agar tidak terjadi kontraksi terlalu dalam. Ternyata solusi ala Keynesian tersebut justru menjadi bumerang. Krisis finansial 2008 kemudian berkembang menjadi krisis utang pemerintah yang lambat laun menjadi sangat serius dan dapat mengakibatkan kebangkrutan.

Irlandia, Portugal, dan Yunani sudah memperoleh dana talangan dari European Central Bank (ECB). Yunani bahkan menghadapi jurang kebangkrutan dan terancam akan keluar dari eurozone. Spanyol dan Italia juga dalam keadaan kritis dan dikhawatirkan dalam waktu dekat keduanya akan mengikuti jejak Irlandia, Portugal, dan Yunani.

Melihat kebijakan intervensi pemerintah ala Keynesian yang justru membuat krisis utang pemerintah malah lebih membahayakan lagi, para pemimpin eurozone, di bawah komando Merkozy (Kanselir Jerman Angela Merkel dan Presiden Prancis ketika itu, Sarkozy), kemudian mengubah kebijakan ekonomi negara- negara eurozone dari semula Keynesian menjadi Hayekian.

Kebijakan ekonomi ala Hayekian ini pun ternyata juga jauh dari menyelesaikan masalah. Kebijakan ini menuai protes dan perlawanan dari masyarakat karena ternyata perekonomian negara-negara yang menjalankan kebijakan tersebut malah terjerumus semakin dalam. Tingkat pengangguran di Spanyol dan Yunani pada kuartal pertama 2012 meningkat masingmasing menjadi 24,4% dan 21,7%, dan tingkat pertumbuhan ekonomi turun (kontraksi) masing-masing dengan 0,4% dan 6,2% (yoy).

Reaksi masyarakat sangat luar biasa menghadapi kenyataan pahit tersebut. Banyak pemerintahan yang menjalankan kebijakan pengetatan anggaran ini bertumbangan: Parlemen Belanda jatuh, Presiden Berlusconi dan Presiden Sarkozy tidak terpilih lagi, dan pemilihan parlemen di Yunani membawa partai sosialis Syriza menjadi pemenang kedua.

Ilusi Mata Uang Euro
Tampaknya kebijakan ekonomi ala Keynesian atau Hayekian tidak berdaya dalam menghadapi krisis eurozone kali ini. Ekonomi eurozone seolaholah masuk ke dalam lingkaran setan. Keynesian economics menghasilkan utang pemerintah yang menumpuk dan mengakibatkan krisis utang pemerintah, sedangkan Hayekian economics yang diharapkan dapat mengoreksi krisis utang pemerintah tersebut malah mengakibatkan konflik sosial dengan kondisi ekonomi yang makin terpuruk.

Apakah ini berarti the death of Keynesian and Hayekian economics? Apabila demikian, apakah ada teori konomi lain lagi yang dapat menyelesaikan masalah eurozone? Tapi, ada juga pemahaman lain bahwa krisis berkepanjangan eurozone bukan berarti ekonomi berbasis Keynesian atau Hayekian sudah tidak efektif lagi, melainkan ini mencerminkan permasalahan Uni Eropa yang berambisi membentuk kawasan mata uang bersama euro yang didasari atas ilusi.

Penulis adalah rektor Institut Bisnis dan Informatika Indonesia (IBII); direktur eksekutif Indonesia Institute for Financial and Economic Advancement (IIFEA)


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!