ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Sabtu, 24 Juni 2017
BS logo

KEJAR PDB 5,6%, INVESTASI DIPATOK RP 795 TRILIUN (3)

Lebih Rendah dari Target BKPM
Oleh Yosi Winosa dan Hari Gunarto | Senin, 19 Juni 2017 | 13:56

Sejumlah ekonom justru menyebutkan kebutuhan investasi sebagai syarat mencapai pertumbuhan ekonomi 5,2-5,6% pada 2018 tak sampai Rp 795 triliun atau di bawah target BKPM.

Ekonom Indef  Bhima Yudhistira menyebutkan kebutuhan realisasi investasi tahun depan mencapai Rp 780,6 triliun atau naik 14-15%.

Sedangkan ekonom Bank Mandiri Dendi Ramdani memperkirakan realisasi investasi langsung setidaknya harus tumbuh 11,6% atau secara nominal sebesar Rp 759 triliun, dengan asumsi pertumbuhan ekonomi 5,3% dan inflasi 4,1%. Adapun dalam kalkulasi ekonom Bank Permata Josua Pardede, kebutuhan investasi langsung pada 2018 berkisar Rp 780-800 triliun, tumbuh 15-16% dari target realisasi investasi tahun ini.

“Kita pernah mengalami pertumbuhan realisasi investasi hingga 17,8% pada 2015. Artinya, melihat tren positif aliran investasi dan kondisi fundamental ekonomi yang semakin kuat, realisasi investasi 2018 bisa meningkat dari tahun ini,” ujar Bhima.

Baik Bhima, Dendi, maupun Josua memprediksi, PMDN berkontribusi sekitar 35% dari total realisasi investasi 2018, sedangkan PMA sekitar 65%.

Dari sisi sektoral, menurut Bhima, makanan dan minuman masih akan tetap memimpin (leading), disusul pertambangan dan migas, serta konstruksi. Dari sisi negara asal, Singapura diperkirakan tetap menduduki posisi teratas.

Di sisi lain, investasi dari Tiongkok diprediksi bertambah seiring maraknya pembangunan infrastruktur. “Jepang selama dua tahun terakhir kenaikannya juga signifikan,” ujar dia.

Josua menjelaskan, sektor-sektor yang diharapkan mendorong terwujudnya target realisasi investasi tahun depan antara lain industri permesinan dan elektronik, sektor pengadaan listrik, air dan gas, serta sektor transportasi dan komunikasi. Kontribusi sektor-sektor tersebut sejalan dengan komitmen pemerintah untuk mendorong percepatan pembangunan infrastruktur.

Dendi dan Josua juga sepakat bahwa investor potensial dari luar negeri antara lain berasal dari Singapura, Jepang, dan Tiongkok. Sektor infrastruktur, kelistrikan, manufaktur (industri pengolahan), dan telekomunikasi merupakan sektor-sektor yang layak menjadi target investasi 2018.

“Sektor manufaktur menarik terutama berkaitan dengan pemanfaatan sumber daya alam mentah agar bisa diolah (processing) menjadi barang yang punya nilai tambah tinggi. Sektor telekomunikasi juga menarik karena potensi demand dan kebutuhan layanan telkomunikasi terus berkembang, terutama investasi jaringan infrastruktur telekomunikasi,” papar Dendi. (bersambung)

Baca selanjutnya di http://id.beritasatu.com/macroeconomics/bkpm-harus-percepat-proses-perizinan/161772


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!