ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Sabtu, 24 Juni 2017
BS logo

RI Siap Penuhi Kebutuhan Biodiesel Tiongkok
Minggu, 18 Juni 2017 | 15:21

BEIJING – Indonesia menyatakan kesiapannya untuk memenuhi kebutuhan biodiesel Tiongkok yang diperkirakan mencapai 9 juta ton per tahun.

 

“Kami berharap bisa mendapatkan kesempatan memasok biodiesel ke sini (Tiongkok),” kata Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan seperti dilansir Antara di Beijing, Kamis (15/6) malam.

 

Sampai saat ini biodiesel dari Indonesia belum bisa memasuki Tiongkok. Berdasarkan data di Kemenko Kemaritiman, Indonesia memiliki persediaan sekitar 10 juta ton biodiesel yang belum terpakai. Tiongkok sendiri sampai saat ini baru menggunakan biodiesel tidak lebih dari 1 juta ton yang diperkirakan impor dari Malaysia.

 

Demikian pula dengan kelapa sawit dari Indonesia yang masuk ke Tiongkok masih sangat terbatas. “Kalau biodiesel bisa masuk ke sini, maka petani kelapa sawit pun kita bisa menikmati hasil panennya. Tiongkok butuh, kami punya,” ujar Luhut

 

Tiongkok telah meratifikasi Kesepakatan Paris tentang Perubahan Iklim. Tiongkok bersama Amerika Serikat (AS) tercatat menghasilkan 45% emisi global sehingga membutuhkan pengurangan emisi karbon 60-65% per unit GDP hingga 2030.

 

Untuk merealisasikan pengurangan emisi karbon, negeri Tirai Bambu itu harus memanfaatkan energi berbasis nonfosil sekitar 20% dari keseluruhan konsumsi energi. Dalam upaya pemanfaatan energi nonfosil itu, Tiongkok memproyeksikan 5% menggunakan bahan bakar biodiesel.

 

Terkait itu, Indonesia mengajukan beberapa tawaran, di antaranya perusahaan di Indonesia membangun pabrik pengolahan dan mengekspor sawit ke Tiongkok. Kemudian minyak sawit tersebut diolah di beberapa pabrik pengolahan minyak kelapa sawit menjadi biodiesel di Tiongkok.

 

Selain itu, perusahaan Tiongkok melakukan investasi di pabrik pengolahan minyak kelapa sawit di Indonesia dan mengolahnya menjadi biodiesel untuk selanjutnya diekspor ke Tiongkok. Alternatif lain yang ditawarkan Kemenko Kemaritiman adalah mendirikan proyek bersama sejumlah perusahaan dari berbagai bidang industri untuk meningkatkan penggunaan biodiesel.

 

Sebelumnya, kalangan pelaku industri biodiesel mengapresiasi kebijakan pemerintah Tiongkok yang menerapkan program biodiesel campuran 5% dengan solar atau B5. Penggunaan biodiesel di negara tersebut menjadi pasar potensial untuk meningkatkan ekspor produk sawit Indonesia terutama biodiesel.

 

Ketua Umum Asosiasi Produsen Biofuels Indonesia (APROBI) MP Tumanggor mengatakan, pemakaian B5 di Tiongkok akan menciptakan kebutuhan minyak sawit (CPO) sebesar 9 juta ton. (tl)


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!