ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Sabtu, 24 Juni 2017
BS logo

Tiphone Berencana Refinancing Utang Rp 2,5 Triliun
Senin, 19 Juni 2017 | 16:22

JAKARTA – PT Tiphone Mobile Indonesia Tbk (TELE) akan membiayai kembali (refinancing) utangnya senilai Rp 2,5 triliun. Perseroan berencana memperpanjang tenor utang sindikasi bank tersebut dengan tingkat bunga yang lebih rendah.


Sekretaris Perusahaan Tiphone Mobile Indonesia Samuel Kurniawan mengatakan, perseroan bakal mulai bertemu sejumlah bank yang telah menjadi kreditur pada Oktober atau November tahun ini. Rencananya tenor utang sindikasi bank tersebut akan diperpanjang hingga 2020.

“Utang itu akan jatuh tempo 2018,” ujarnya, pekan lalu.

Perseroan sudah mendapatkan persetujuan dari pemegang saham untuk menjaminkan lebih dari 50% asetnya kepada kreditur. Untuk memperpanjang tenor pinjaman, perseroan memang membutuhkan persetujuan tersebut dalam rapat umum pemegang saham luar biasar (RUPSLB).

Menurut Samuel, perseroan ingin segera memperpanjang tenor pinjaman itu menjelang semakin dekatnya pesta politik pada 2019. Dia mengaku tidak tahu kondisi politik nasional tahun depan menjelang pemilihan presiden 2019. oleh sebab itu, jika bisa perseroan akan mengamankan pinjaman tersebbut hingga 2020.

Pada 17 Juni 2015, perseroan menandatangani fasilitas pinjaman senilai Rp 2,5 triliun. Jumlah pinjaman tersebut terdiri atas tranche A sebesar Rp 1,87 triliun dan tranche B sebesar US$ 47 juta.

Arranger pinjaman itu adalah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank CIMB Niaga Tbk(BNGA), The Hongkong And Shanghai Banking Corporation Limited, Cabang Jakarta, PT HSBC Securities Indonesia dan Standard Chartered Bank. Agen pinjaman adalah Bca dan Agen penjamin (security agent) Bank CIMB.

Kredit pinjaman trance Aterdiri atas BCA dan HSBC Cabang Jakarta, sedangkan kreditur pinjaman tranche B terdiri atas Standard Chartered Bank dan Dubai Internasional Financial Centre. Jangka waktu pinjaman selama 36 bulan terhitung sejak tanggal perjanjian fasilitas.

Rencananya, Tiphone juga akan menerbitkan obligasi hingga sebesar 800 miliar. Perseroan akan menggunakan dana hasil penerbitan obligasi untuk refinancing obligasi yang akan jatuh tempo dan sisanya untuk memenuhi kebutuhan modal kerja.

Direktur Tiphone Mobile Indonesia Tan Lie in menjelaskan, obligasi yang akan jatuh tempo dalam waktu dekat sekitar Rp 500 miliar. Perseroan lebih membutuhkan dana untuk modal kerja.

“Bisnis kami mengharuskan membayar voucher di muka,” ujarnya.

Tiphone tercatat menerbitkan obligasi sebesar Rp 500 miliar pada Juli 2015 dengan tingkat suku bunga sebesar 11% per tahun. Obligasi tersebut akan jatuh tempo pada 10 Juli 2018. (fik)


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!