ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Sabtu, 24 Juni 2017
BS logo

Totalindo Kantongi Kontrak Baru Rp 1,45 Triliun
Minggu, 18 Juni 2017 | 10:50

Totalindo Eka Persada. Foto: totalindo.co.id Totalindo Eka Persada. Foto: totalindo.co.id

JAKARTA – PT Totalindo Eka Persada Tbk (TOPS) membukukan tiga kontrak baru senilai Rp 1,45 triliun hingga pertengahan Juni 2017. Proyek tersebut berasal pemerintah dengan porsi 52,4% dan swasta sebesar 47,6%.

 

Direktur Utama Totalindo Donald Sihombing mengatakan, perseroan sudah mendapatkan kontrak senilai hampir Rp 500 miliar untuk proyek Sedayu City.

 

"Untuk middle end dijual Rp 15-25 juta per m2. Di bawah (nilai) itu kami sebut low end," jelas dia di Jakarta, Jumat (16/6).

 

Adapun proyek-proyek bintang lima merupakan proyek high end, seperti beberapa hotel dan gedung perkantoran di central business district (CBD). Perseroan akan fokus menggarap proyek rumah susun dan bangunan tinggi (high rise building).

 

Direktur Keuangan Totalindo Eko Wardoyo menjelaskan, proyek baru itu meliputi Marriott Ubud, apartemen Green Sedayu, serta rumah susun pemerintah provinsi di Nagrak dan Penggilingan. Sebelumnya, perseroan mendapatkan proyek dengan pemerintah seperti pembangunan beberapa rumah susun sederhana sewa (rusunawa) ataupun apartemen swasta kelas menengah.

 

Sementara itu, kemarin, Totalindo telah mencatatkan sahamnya (listing) di Bursa Efek Indonesia (BEI). Perseroan melepas 1,67 miliar saham baru atau setara 24,99% melalui penawaran umum perdana (initial public offering/IPO). Penawaran saham perdana berlangsung pada 12-13 Juni 2017, dengan harga pelaksanaan sebesar Rp 310 per saham.

 

Perseroan menjadi emiten ke-11 yang go public tahun ini dan tercatat sebagai emiten ke-546 di BEI. Perseroan memperoleh dana sebesar Rp 516,46 miliar dari IPO dengan perincian 60% akan digunakan untuk modal kerja dan 35% untuk pembayaran utang.

 

Selebihnya, sebanyak 5% akan digunakan untuk pengembangan lini bisnis konstruksi dengan pembelian mesin, alat berat, dan peralatan konstruksi. "Mungkin 60%-70% bisa (digunakan) tahun ini. Dari proyek baru itu butuh working capital lumayan besar, mungkin butuh Rp 300-400 miliar," ujar Eko.

 

Sementara kebutuhan belanja modal (capital expenditure/capex) perseroan yang disiapkan sebesar Rp 50 miliar atau sekitar 9,7% dari dana IPO. Pihaknya berharap pendapatan tahun ini mencapai Rp 3,4 triliun, sedangkan laba bersih sebesar Rp 270 miliar. "Laba bersih diproyeksi tumbuh 30%, pendapatan naik 14%," ungkapnya. (c01)


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!