ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Sabtu, 24 Juni 2017
BS logo

Trump, Antara Dakwaan Pidana dan Pemakzulan
Oleh Iwan Subarkah | Minggu, 18 Juni 2017 | 7:01

WASHINGTON – Hingga menjelang satu semester menjalankan tugasnya sebagai presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump tak putus dirundung kontroversi. Kali ini ia diduga berupaya menghalangi penyelidikan hukum terkait dugaan keterlibatan Rusia dalam pemilihan presiden (pilpres) tahun lalu. Jika sangkaan ini terbukti benar, Trump belum tentu akan dikenai dakwaan. Namun, ia mungkin tidak akan lolos dari upaya pemakzulan.

 

Konsul khusus yang menangani penyelidikan terhadap dugaan keterlibatan Rusia dilaporkan tengah mempelajari apakah Trump berupaya menghalangi penyelidikan hukum. Washington Post pada Rabu (14/6) waktu setempat melaporkan, sejumlah pejabat intelijen senior setuju diperiksa tim penyelidik yang melapor kepada konsul khusus Robert Mueller, mantan direktur Biro Investigasi Federal AS (FBI).

 

Mengutip lima sumbernya  mengenai hal ini, Washington Post menyebutkan bahwa yang setuju untuk diperiksa termasuk direktur intelijen nasinal Daniel Conts, Laksamana Mike Rogers yang mengepalai Badan Keamanan Nasipnal AS (National Security Agency/NSA) dan deputinya yang belum lama ini keluar, Richard Ledgeti. New York Times (NYT), sama-sama mengutip sumber yang mengetahui investigasi ini membenarkan laporan tersebut.

 

NYT juga mengutip seorang pejabat intelijen yang mengatakan pihak Mueller sudah meminta dokumen- dokumen kepada NSA mengenai interaksi badan tersebut dengan pemerintahan terkait penyelidikan keterlibatan Rusia. Juga dokumen-dokumen untuk mengetahui apakah tim kampanye Trump berkolusi dengan Rusia, khususnya menyangkut teknologi informasi (TI) dan data hasil pilpres.

 

Mueller pun memiliki otoritas untuk menyelidiki apakah Trump berupaya menghalangi penyelidikan hukum di tengah mencuatnya bukti-bukti bahwa ia menekan FBI untuk menghentikan investigasi terhadap mantan penasihat keamanan nasionalnya, Mike Flynn. Trump terpaksa memberhentikan Flynn pada Februari 2017, karena ia dianggap berdusta kepada Gedung Putih tentang kontak-kontaknya dengan para pejabat Rusia tahun lalu, saat ia masih anggota tim transisi Trump.

 

Dalam kesaksiannya di Senat AS, pekan lalu, mantan direktur FBI James Comey mengaku Trump menekannya untuk menghentikan penyelidikan terhadap Flynn. Comey kemudian juga diberhentikan oleh Trump, yang mengakui bahwa keputusan untuk mendepaknya terkait penyelidikan Rusia. Trump marah pada Kamis (15/6) dan menyebut laporan terbaru yang mengaitkan timnya dengan Rusia adalah palsu.

 

“Mereka membuat kolusi palsu dengan kisah Rusia, yang kemudian sama sekali tanpa bukti, sehingga sekarang beralih ke kisah palsu tentang menghalangi penyelidikan hukum. Enak sekali,” ujar Presiden ke-45 tersebut via Twitter.

 

Dia menambahkan, rakyat AS sekarang sedang menyaksikan persekusi terbesar sepanjang sejarah politik AS, yang digawangi orang-orang sangat jahat dan berkepentingan. Namun, Trump tidak secara langsung menjawab dugaan ia berupaya menghalangi penyelidikan hokum sebagaimana dilaporkan. Padahal, penyelidikan ini berpotensi mendatangkan pemakzulan terhadap dirinya.

 

Trump juga tidak membantah bahwa dirinya sudah termasuk dalam segelintir presiden yang sedang menjabat dan menjadi subjek penyelidikan pidana.

 

Masa kepemimpinan Trump yang baru berjalan sejak 20 Januari 2017 sudah diliputi berbagai dugaan. Ia sedang diinvestigasi oleh Kongres dan FBI sekaligus bahwa Rusia ikut campur dalam pilpres 2016 untuk menguntungkan dirinya, dengan cara berkolusi bersama tim kampanye Trump. (bersambung)

 

Baca selanjutnya di http://id.beritasatu.com/home/dari-pemecatan-comey/161718


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!




Data tidak tersedia.