ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Minggu, 26 Maret 2017
BS logo

Dorong Anak Senang Membaca pada Usia Emas
Kamis, 16 Maret 2017 | 17:32

JAKARTA - Berkat rajin membaca buku, Oprah Winfrey yang sempat dijuluki si anak miskin itu, menemukan jendela dunia hingga mengantarkannya menjadi perempuan sukses dengan kekayaan mencapai triliunan.

Books were my pass to personal freedom,” ungkap Oprah Winfrey.

Apa yang terjadi pada Oprah seharusnya juga bisa terjadi pada anak-anak Indonesia. Namun, kondisi literasi di Indonesia masih rendah. Berdasarkan studi Most Littered Nation In The World yang dilakukan oleh Central Connecticut State University pada 2016, minat baca Indonesia dinyatakan berada di urutan nomor dua terakhir yaitu pada posisi 60 dari 61 negara. Mirisnya, Indonesia berada di bawah Thailand yang berada di urutan ke-59.

“Indeks budaya baca orang Indonesia itu rendah. Indikasinya yaitu keterampilan mengenal huruf, mengenal kata, mengenal kalimat, hingga mengeluarkan pendapat, masih rendah,” kata Kepala Perpustakaan Nasional RI, Syarief Bando dalam peluncuran gerakan berbagi ‘Buku untuk Indonesia’ yang digelar BCA di Jakarta, Rabu (15/3).

Dosen Sosiolog Universitas Indonesia, Lucia Ratih Kusumadewi mengaku tidak heran dengan kondisi tersebut. “Melihat sejarahnya, orang Indonesia memang tidak memiliki budaya membaca dan menulis, yang tumbuh justru budaya lisan. Ini karena budaya membaca dan menulis hanya ditumbuhkan di lingkungan kerajaan saja, bukan di masyarakat,” kata Lucia.

Paradigma tersebut tentu harus diubah. Dekan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Tjut Rifameutia Umar Ali mengatakan, budaya membaca harus ditumbuhkan sejak usia dini. “Pada usia emas, usia 0-6 tahun, adalah saat yang baik untuk menumbuhkan minat membaca pada anak. Orang tua harus memberikan buku cerita, membaca bersama, atau mendongengkan isi buku tersebut,” kata Tjut.

Menurut Tjut, banyak manfaat yang bisa dipetik apabila minat baca anak ditumbuhkan sejak dini.”Berikan buku cerita dengan gambar menarik Ini akan merangsang inajinasi anak, merangsang kreativitas dan inovasi anak,” jelas Tjut.

Namun, selain masih banyak masyarakat yang tak mampu membeli buku, sebaran buku di daerah-daerah khususnya daerah terpencil masih minim. Menurut WHO, seharusnya satu buku diperuntukan untuk dua orang. “Tapi faktanya di Indonesia, satu buku diperebutkan 50 orang,” kata Syarief Bando. Perpustakaan Nasional RI kata Syarief memiliki 4 juta koleksi buku.

Demi menumbuhkan minat baca anak-anak Indonesia, BCA pun menggelar gerakan berbagi Buku untuk Indonesia. “Gerakan ini untuk memperluas akses-akses masyarakat terhadap buku. BCA mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk ikut ambil bagian sehingga anak-anak Indonesia mendapatkan akses buku sebagai sarana penunjang hidup,” kata Direktur BCA Jahja Setiaatmadja.

Caranya, masyarakat dapat memilih paket donasi yang tersedia. Dana yang terkumpul akan dikonversi menjadi buku dan disalurkan ke beberapa daerah di Indonesia. “Sebagai bentuk apresiasi, BCA akan menyediakan kaos kebaikan bagi masyarakat yang berpartisipasi di kegiatan ini,” tutup Jahja. (nan)


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!