ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Jumat, 24 Maret 2017
BS logo

Lentera yang Menyalakan Cita-cita Anak Bangsa
Oleh Primus Dorimulu | Kamis, 16 Februari 2017 | 12:39

CEO Lippo Group James T Riady, bersama Dirut PT Star Pacific Tbk Samuel Tahir (kiri), President Lippo Group Theo L Sambuaga (kedua kiri), Associate Director Government Relation PT Multipolar Tbk, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Retail Indonesia (Aprindo) Roy Nicholas Mandey (ketiga kanan), Pemimpin Redaksi BeritaSatu News Channel Claudius Boekan (kedua kanan), dan Direktur BeritaSatu Media Holdings Henry Riady (kanan) berfoto
bersama di depan gerbang Sekolah Lentera Harapan, Ambon. Foto: Investor Daily/PRIMUS DORIMULU CEO Lippo Group James T Riady, bersama Dirut PT Star Pacific Tbk Samuel Tahir (kiri), President Lippo Group Theo L Sambuaga (kedua kiri), Associate Director Government Relation PT Multipolar Tbk, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Retail Indonesia (Aprindo) Roy Nicholas Mandey (ketiga kanan), Pemimpin Redaksi BeritaSatu News Channel Claudius Boekan (kedua kanan), dan Direktur BeritaSatu Media Holdings Henry Riady (kanan) berfoto bersama di depan gerbang Sekolah Lentera Harapan, Ambon. Foto: Investor Daily/PRIMUS DORIMULU

“Saya ingin menjadi dokter,” kata seorang siswa kelas IX Sekolah Lentera Harapan, Ambon. Rekan-rekannya tertawa menyoraki anak laki-laki hitam manis ini. Namun, dia hanya tersenyum tipis. Dari sorotan matanya terlihat keseriusan. Jawabannya bukan respons asal-asalan.


“Benar mau jadi dokter?” tanya seorang tamu dari Jakarta pagi itu, Rabu (8/2). “Ya, Pak. Saya mau menjadi dokter,” jawab siswa itu. “Sudah tahu, apa bakatmu?” sang tamu bertanya lagi. “Tidak tahu, Pak. Tetapi, saya mau menjadi dokter,” jawabnya dengan nada mantap.


“Apa pun alasan, yang terpenting, kalian sudah mempunyai cita-cita, punya mimpi,” kata James T Riady, CEO Lippo Group, pendiri Yayasan Pendidikan Pelita Harapan (YPPH), yayasan yang mengelola Sekolah Lentera Harapan.


Dengan cita-cita, anak bertumbuh dengan arah yang jelas. Sebaliknya, tanpa cita-cita, seseorang bagai layang-layang putus. Reaksi paling riuh saat seorang siswa menyatakan bercita-cita menjadi pendeta. Pada saat dunia mengagumi materi sebagai ukuran kesuksesan, masih ada juga anak di ibu kota Provinsi Maluku yang bercita-cita menjadi pendeta.


“Benar, mau menjadi pendeta?” tanya James. “Ya, Pak,” jawabnya singkat, penuh percaya diri.


Menurut James, maju-mundurnya dunia ini tidak hanya ditentukan oleh ilmu pengetahuan dan teknologi. Faktor paling utama dalam kemajuan dunia justru iman. Kerusakan dunia dilakukan oleh tangan-tangan yang kurang beriman. Iman yang dimaksudkan adalah kedekatan kita secara pribadi dengan Allah, pencipta semesta alam, dan penyelenggara hidup manusia.


Orang yang beriman selalu terdorong untuk melaksanakan perintah Tuhan. Mereka yang beriman akan tahu diri bahwa Allah itu Mahabesar, sedang manusia hanya debu di hadapan-Nya. Allah itu Mahasuci, sedang manusia adalah makhluk yang berlumuran dosa. Mereka yang beriman menyadari bahwa manusia ada karena Allah.


Manusia hidup dan sukses karena Allah. Karena itu, orang beriman akan selalu berpikir, siapa diri mereka, sehingga Allah begitu mengasihinya. Kesadaran ini mendorong orang beriman untuk mencintai Tuhan dengan selalu berusaha menghindarkan dan menjauhkan diri dari berbagai hal yang tidak berkenan di hadapan Tuhan.


“Pendeta sangat penting, karena tanpa mereka, siapakah yang mengingatkan manusia akan pentingnya iman dan perbuatan yang sesuai iman. Tanpa pendeta, siapa yang mengingatkan manusia, ciptaan Allah tertinggi yang memiliki natur dosa untuk kembali ke jalan yang benar?” tanya James. (bersambung)


Baca selanjutnya di http://id.beritasatu.com/lifestyle/berbagai-krisis-berpangkal-pada-krisis-iman/156615


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!




Data tidak tersedia.