ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Selasa, 21 Februari 2017
BS logo

Mochtar Riady: Tetap Sehat Meski dengan Penyakit Jantung
Kamis, 16 Februari 2017 | 13:03

Pendiri Lippo Group Mochtar Riady (kedua dari kanan) bersama CEO Siloam Hospitals Lippo Village dr. Anastina Tahjoo (kanan), Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah dr. Antonia Anna Lukito (ketiga dari kiri), dan Cardio Metabolic & Heart Failure Franchise Head PT Novartis Indonesia Kent K Sarosa (kedua dari kiri) meresmikan pembukaan klinik gagal jantung (Heart Failure Clinic) di Siloam Hospitals Lippo Village, Karawaci, Tangerang, Banten, Selasa (14/2/2017). Foto: Investor Daily/ Emral Pendiri Lippo Group Mochtar Riady (kedua dari kanan) bersama CEO Siloam Hospitals Lippo Village dr. Anastina Tahjoo (kanan), Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah dr. Antonia Anna Lukito (ketiga dari kiri), dan Cardio Metabolic & Heart Failure Franchise Head PT Novartis Indonesia Kent K Sarosa (kedua dari kiri) meresmikan pembukaan klinik gagal jantung (Heart Failure Clinic) di Siloam Hospitals Lippo Village, Karawaci, Tangerang, Banten, Selasa (14/2/2017). Foto: Investor Daily/ Emral

TANGERANG - Setelah konsultasi rawat jalan maupun pascarawat inap, sering kali penderita gagal jantung dan keluarganya tidak memahami konsekuensi penyakit tersebut. Bagaimana sebaiknya pengaturan makanan di rumah, olahraga apa yang dilarang atau diperbolehkan, serta bingung dengan fungsi maupun cara konsumsi obat.

Menyadari kondisi ini, Siloam Hospitals Lippo Village Karawaci meresmikan klinik baru khusus untuk penanganan penyakit gagal jantung secara terpadu, Selasa (14/2). Tujuan utama klinik yang diberi nama "Heart Failure Clinic" ini untuk membantu pasien agar bisa hidup lebih berkualitas meski menderita gagal jantung.

Saat meresmikan klinik ini, Chairman dan Founder Lippo Group, DR Mochtar Riady mengatakan yang terpenting bagi penderita jantung adalah sehat secara psikologis. Penderita yang tetap berpikir sehat dan gembira juga akan meningkatkan kualitas hidup. Selain itu, rutin kontrol kesehatan jantung ke dokter dan patuh terhadap rangkaian pengobatan yang diberikan.

“Kalau kita menderita suatu penyakit dan menganggapnya beban atau selalu takut, maka kita malah tambah sakit. Senang akan membuat kita merasa selalu sehat meski sedang sakit,” kata Mochtar.

Mochtar mengatakan hal ini berdasarkan pengalaman pribadinya sebagai penderita jantung. Selalu gembira, berpikir positif, rutin kontrol dan patuh anjuran dokter maupun orang-orang di sekitarnya membuat Mochtar tetap bugar meski menderita gangguan jantung. Bahkan ia masih kuat berolah raga di usianya yang ke 89 tahun.

Mochtar mengisahkan awal mula ia terdiagnosis menderita kelainan jantung pada usia 60 tahun oleh dokter jantung di Indonesia. Kemudian sekitar tahun 1985--saat masih menjabat CEO Bank Central Asia (BCA)--Mochtar melakukan general check up di sebuah rumah sakit di Los Angeles, Amerika Serikat, bersama partnernya Sudono Salim. Dari hasil check up ini, dokter menganjurkan melakukan cek rutin karena ada masalah pada jantungnya, walaupun tidak serius.

Tiga tahun kemudian, dokter di Jakarta mendiagnosisnya menderita gangguan di jantung dan perlu perhatian. Oleh gubernur Bank Indonesia kala itu, Radius Prawiro, Mochtar dianjurkan memeriksakan jantung pada dokter spesialis jantung terkemuka di Sydney, Australia. Di sana, Mochtar divonis menderita penyakit jantung serius, dan satu-satunya pengobatan adalah tindakan operasi. Mendengar ini, Mochtar merasa takut dan berpikir akan meninggal akibat penyakit jantung ini.

“Mendengar itu saya ketakutan. Karena di tahun 1990-an, operasi itu bukan hal yang biasa seperti sekarang ini, tetapi sangat serius. Jadi saya cepat-cepat pulang ke Jakarta dan menyelesaikan semua pekerjaan dan masalah saya, seperti utang-utang dan pembukuan. Saya pun buat pesan dengan partner saya, kalau misalnya saya tidak selamat saat operasi, tolong selesaikan semuanya,” kata Mochtar.

Namun, Mochtar sempat pasrah dan mengurungkan niatnya untuk menjalani operasi jantung. Selama 1,5 tahun ia menjalani hidup dengan penyakit jantung hingga akhirnya Radius Prawiro kembali mengingatkan untuk menjalani operasi.

“Waktu itu Pak Radius mengatakan saya egois. Dia mengatakan Mochtar itu bukan miliki diri saya sendiri, tetapi milik orang lain. Istri saya masih muda, dan anak-anak masih membutuhkan saya. Saat itu saya berumur 60 tahun, istri 50 tahun lebih dan anak 20 tahun,” katanya.

Mochtar akhirnya memutuskan terbang ke Sydney untuk menjalani operasi. Di Sydney tim dokter melakukan operasi 5 bypass sekaligus. Operasi bypass jantung adalah salah satu penanganan untuk penyakit jantung koroner, yaitu penyakit karena penyempitan dan penyumbatan pembuluh nadi koroner jantung.

Kini, hidup dengan penyakit jantung tak membuatnya takut atau terbeban. Mochtar menjalani hari-hari layaknya orang sehat meski usianya kini 89 tahun.

“Usia saya 89 tahun, tetapi merasa baru 70-an, dan sebenarnya jantung saya sudah terlalu tua dan tidak berfungsi optimal. Tetapi saya selalu gembira dan berpikir saya sehat, dan sampai sekarang saya sehat. Saya memutuskan rutin jalan kaki, tiap bulan ke dokter, dan mendengarkan nasihat istri yang menjaga kesehatan saya,” ujarnya.(SP/b1)


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!