ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Minggu, 26 Maret 2017
BS logo

Implikasi Kenaikan Fed Funds Rate
Oleh Adrian Panggabean | Jumat, 17 Maret 2017 | 16:22

Kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat sebesar 25 basis point kemarin, didahului oleh keluarnya angka surplus neraca perdagangan Indonesia dan berbarengan dengan hasil pemilu di Belanda. Apa implikasinya untuk Indonesia?

Pertama, terkait angka neraca perdagangan bulan Februari 2017. Surplus neraca perdagangan kita, walaupun angkanya turun dibanding bulan Januari, secara umum masih menunjukkan bahwa ekspor neto masih akan berperan terhadap stabilitas neraca pembayaran, terhadap stabilitas rupiah, dan pertumbuhan ekonomi 2017.

Sebagai bagian dari asumsi pertumbuhan PDB tahun 2017 yang kami perkirakan akan mencapai angka 5,1%, saya memperkirakan total surplus neraca perdagangan tahun 2017 akan mencapai US$ 7,5 miliar. Selama dua bulan pertama tahun 2017 angka surplus neraca perdagangan sudah mencapai lebih dari US$ 2,5 miliar --alias lebih tinggi dari ekspektasi.

Harus diakui, dengan melihat running-rate ekspor bulanan selama 5 bulan terakhir, tampaknya kondisi eksternal memang masih belum mencapai tingkat di mana kita bisa berharap adanya pertumbuhan ekspor yang jauh lebih tinggi. Namun demikian, secara umum, paling tidak dilihat dari konteks pertumbuhan ekonomi dan stabilitas kurs rupiah, saya menilai positif angka neraca perdagangan bulan Februari tersebut.

Kedua, terkait hasil pemilu di Belanda yang dimenangkan oleh PM Mark Rutte. Menarik untuk dicatat bahwa tingkat partisipasi pemilih di Belanda mencapai di atas 80%, dan itulah yang antara lain menyebabkan tingginya hasil perolehan suara untuk Partai Liberal pimpinan PM Mark Rutte. Dengan menilik episode pergerakan/perubahan angin politik di Eropa kontinental selama 15-20 tahun terakhir, analis politik cenderung melihat Belanda sebagai leading indicator dari arah perubahan angin politik di Eropa.

Bila kita menganggap hasil pemilu Belanda, di mana kalahnya Wilders, sebagai pertanda preferensi politik masyarakat Eropa terhadap keterbukaan (alias politik non-populis) maka kita masih punya harapan bahwa politik keterbukaan mungkin akan juga menang di Perancis dan Jerman. Harapan akan menangnya politik non-populis punya implikasi besar terhadap stabilitas sektor finansial, karena preferensi politik Belanda, Perancis dan Jerman (ketiganya dianggap sebagai Eurozone core countries) jelas punya pengaruh terhadap masa depan mata uang Euro, yang pada gilirannya akan berimplikasi luas terhadap konstelasi dan keseimbangan mata uang dunia. Termasuk di dalamnya adalah nasib rupiah. Artinya, kemenangan PM Mark Rutte di Belanda adalah berita baik untuk mata uang emerging market, termasuk rupiah.

Ketiga, kemarin malam the Fed menaikkan suku bunga acuan sebanyak 25bps. Naiknya suku bunga acuan Amerika Serikat sudah diantisipasi oleh pelaku pasar. Sejak dua minggu lalu pasar sudah melihat probabilitas naiknya Fed funds rate sebagai keniscayaan. Sebagai bagian dari antisipasi pasar, USD Libor telah bergerak naik secara gradual. Yang menarik, walaupun USD Libor bergerak naik, indeks dolar (dikenal dengan kode DXY) tetap berkisar 101-103. Akibatnya, pasar tidak mengantisipasi adanya perubahan ekstrim dalam nilai mata uang.

Hal yang sama terjadi dalam mata uang euro. Euro Libor terus bergerak turun namun indeks mata uang Euro tetap berkisar 1,04–1,07. Ini mengindikasikan bahwa pascakenaikan Fed funds rate, kurs rupiah tampaknya berpotensi relatif stabil dengan pola pergerakan granular yang lebih ditentukan oleh fundamental. Maknanya, mungkin rupiah akan tetap berada di kisaran yang kita lihat selama dua bulan terakhir.

Yang juga menarik, kenaikan Fed funds rate kemarin malam ternyata diikuti oleh turunnya yield dari US Treasury dan naiknya indeks komoditas. Turunnya yield di US Treasury menyebabkan yield obligasi Indonesia menjadi relatif stabil pada kisaran 7,2-7,4%. Naiknya indeks komoditas, di sisi lain, jelas menguntungkan ekspor Indonesia dan menguntungkan mata uang negara-negara penghasil komoditas (termasuk di dalamnya Indonesia).

Ke depannya, saya memperkirakan rupiah akan bergerak pada kisaran IDR 13.300–13.600. Yield obligasi 10-tahun juga akan tetap berada dalam rentang 7,3–7,6% dengan kemungkinan turun ke arah 7,1% bila pada bulan Mei 2017 Indonesia dianugerahi dengan investment grade rating oleh S&P.

Adrian Panggabean, Chief Economist PT Bank CIMB Niaga Tbk 


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!