ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Sabtu, 24 Juni 2017
BS logo

Meneguhkan Spirit Literasi
Oleh Benni Setiawan | Sabtu, 17 Juni 2017 | 13:27

Ramadan adalah bulan literasi. Bulan spesial di mana Alquran diturunkan (Q.S. al- Baqarah, 2: 185). Nuzulul Quran yang biasa diperingati setiap tanggal 17 Ramadan merupakan momentum tepat mengembalikan spirit literasi.

 

Spirit literasi itu tercermin dalam ayat pertama yang diturunkan Tuhan yaitu Surat al-Alaq (96:1- 5). ”Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan; Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah; Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam; Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”.

 

Ayat tersebut dengan gamblang memerintahkan kepada manusia untuk senantiasa lekat dengan membaca. Namun, kini bangsa Indonesia, yang dihuni lebih dari 90% muslim sedang mengalami masalah serius. Yaitu rendahnya minat membaca dan menulis.

 

Merujuk pada hasil survei United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (Unesco), pada 2011, indeks tingkat membaca masyarakat Indonesia hanya 0,001%. Artinya, hanya ada satu orang dari 1.000 penduduk yang masih mau membaca buku secara serius. Kondisi ini menempatkan Indonesia pada posisi 124 dari 187 negara dalam penilaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

 

Angka produksi buku di Indonesia juga terbilang cukup rendah. Setiap tahun, hanya sekitar 7.000-8.000 judul buku yang diterbitkan, jauh lebih rendah dibandingkan Malaysia yang memproduksi hingga 10.000 judul buku dengan setiap tahunnya.

 

Angka itu semakin memprihatinkan bila dibandingkan dengan Jepang yang menerbitkan 44.000 judul buku per tahun; Inggris 61.000 judul, dan Amerika Serikat 100.000 judul buku per tahun (Republika, 26 Mei 2015).

 

Ironisnya, jika merujuk data yang pernah dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2012 menyatakan 91,68% penduduk yang berusia 10 tahun ke atas lebih menyukai menonton televisi, dan hanya sekitar 17,66% yang menyukai membaca surat kabar, buku atau majalah.

 

Konsumsi satu surat kabar di Indonesia dengan pembacanya mempunyai rasio 1 berbanding 45 orang (1: 45). Padahal, jikta merujuk negaranegara maju, mereka mempunyai semangat membaca yang cukup tinggi. Di Amerika Serikat, jumlah buku yang wajib dibaca sebanyak 32 judul buku, Belanda 30 buku, Prancis 30 buku, Jepang 22 buku, Swiss 15 buku, Kanada 13 buku, Rusia 12 buku, Brunei 7 buku, Singapura 6 buku, Thailand 5 buku, dan Indonesia 0 buku.

 

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah bagaimana menggerakkan spirit literasi yang rendah di Indonesia?

 

Fitrah Kemanusiaan

Proses kreatif membaca dan menulis memerlukan pembudayaan. Pembudayaan itu dapat dimulai dengan mewartakan keutamaan membaca (iqra’), sebagaimana Allah telah memerintahkannya kepada Rasul terpilih, Muhammad., s.a.w.

 

Membaca merupakan sebuah keharusan untuk tidak menyebut kewajiban alami manusia sebagai ciptaan Allah. Manusia akan mengetahui esensi penciptaan diri dan Tuhannya adalah melalui membaca. Dengan demikian membaca merupakan fitrah kemanusiaan yang utama.

 

Dengan membaca manusia akan mempunyai cakrawala yang luas. Ia tidak mudah diperdaya oleh orang lain. Ia akan menjadi individu mandiri dan berkepribadian. Membaca juga menyegarkan pikiran. Membuat setiap kata yang terucap menjadi petuah bijak yang bermakna lagi bernilai. Pendek kata, membaca akan mampu mengangkat derajat manusia ke taraf insani. Lebih lanjut, literasi (membaca dan menulis) merupakan dua kesatuan utuh. Dengan menulis, manusia berusaha membahasakan kembali apa yang telah ia baca.

 

Menulis juga merupakan “pertaruhan” dari berbagai bacaan yang telah kita konsumsi. Menulis itu menyehatkan. Dengan menulis seluruh indera mampu bekerja. Maka tidak aneh jika banyak pembaca dan penulis mempunyai umur panjang jika dibandingkan dengan orang-orang yang tidak pernah membaca dan menulis.

 

Menulis pun, meminjam bahasa Pramoedya Ananta Toer merupakan kerja peradaban. Sebuah kerja keabadian yang membedakan manusia dengan makhluk lain. Pram menulis, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

 

Budaya Tandingan

Lebih dari itu, budaya membaca dan menulis merupakan bentuk perlawanan masyarakat atas budaya nonton televisi. Televisi, menurut Pierre Bourdieu, seorang pemikir Perancis, mungkin telah memberi sumbangan, bagi kehancuran etos serta keutamaan publik.

 

Televisi semakin gandrung menampilkan di panggung tipe-tipe orang yang gila nama dan popularitas, yang kepedulian utamanya adalah ditonton dan diberi tepuk tangan panjang; semua itu berbalikan dengan nilai-nilai komitmen yang penuh ketekunan dan tersembunyi pada kepentingan publik (B Herry- Priyono, 2010).

 

Gandrungnya masyarakat Indonesia pada buaian televisi telah banyak melupakan komitmen moral dan intelektual. Masyarakat Indonesia mudah terperdaya oleh citra manusia. Citra yang dibangun secara terus menerus (kontinu) membuat masyarakat sulit membedakan benar dan salah. Masyarakat pun kesulitan menilai karena pikiran dan nalarnya telah teracuni oleh televisi.

 

Televisi telah mengajarkan kebodohan dan kemasabodohan kepada siapa saja. Sebuah sikap yang kontras dengan literasi. Literasi mengajarkan kesahajaan, penghormatan, dan sikap kritis. Spirit literasi menggugah manusia untuk maju dan mandiri.

 

Pada akhirnya, semoga momentum Ramadan (Nuzulul Quran) tahun ini semakin mendekatkan masyarakat Indonesia dengan dunia literasi. Dunia yang akan mencerahkan kehidupan masyarakat. Dunia yang akan menjadi oase di tengah kegaduhan yang tak berisi.

 

Benni Setiawan, Dosen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan P-MKU Universitas Negeri Yogyakarta, Peneliti Maarif Institute for Culture and Humanity


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!




Data tidak tersedia.