ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Selasa, 21 Februari 2017
BS logo

Perekonomian Berbasis Inovasi
Oleh Achmad Deni Daruri | Kamis, 16 Februari 2017 | 10:18

Negara yang sukses dalam pembangunan adalah negara yang sukses dalam menciptakan inovasi dalam perekonomiannya. Berbeda dengan negara yang berbasis pertanian yang pada umumnya kesulitan menjadi negara yang unggul dalam inovasi, negara berbasis industry umumnya lebih sukses.

 

Buktinya adalah Korea Selatan yang berubah dari negara penghasil padi menjadi Negara industri yang inovatif.

 

Inovasi sebagai suatu “objek” juga memiliki arti sebagai suatu produk atau praktik baru yang tersedia bagi aplikasi, umumnya dalam suatu konteks komersial. Biasanya, beragam tingkat kebaruannya dapat dibedakan, bergantung pada konteksnya di mana suatu inovasi dapat bersifat baru bagi suatu perusahaan (atau agen), baru bagi pasar, atau negara atau daerah, atau baru secara sejagat.

 

Mesin yang mendorong ekonomi inovasi Amerika adalah seberagam seperti halnya semangat kewirausahaan. Terlepas dari ukuran bisnis atau sektor di mana ia bersaing, modal merupakan elemen umum dan penting yang menjadi bahan bakar mesin tersebut. Ini merupakan berbagai kegiatan kewirausahaan –dari yang tampaknya ide kecil yang didukung oleh keluarga, teman-teman, dan bank masyarakat setempat, hingga kegiatan penelitian dan pengembangan jangka panjang dari perusahaan multinasional –yang menciptakan kualitas pekerjaan yang mempertahankan keluarga Amerika dan memberikan kualitas hidup yang tak tertandingi di dunia.

 

Modal swasta, singkatnya, merupakan komponen utama untuk kesepakatan besar kegiatan kegiatan ekonomi, budaya, dan sosial. Inovasi merupakan eksploitasi yang berhasil dari suatu gagasan baru, atau dengan kata lain merupakan pemanfaatan pengetahuan, keterampilan teknologis dan pengalaman untuk menciptakan produk, proses dan jasa baru.

 

Dengan demikian, sistem inovasi sebenarnya mencakup basis ilmu pengetahuan dan teknologi (termasuk di dalamnya aktivitas pendidikan, aktivitas penelitian dan pengembangan, dan rekayasa), basis produksi (meliputi aktivitas-aktivitas nilai tambah bagi pemenuhan kebutuhan bisnis dan non bisnis, serta masyarakat umum), dan pemanfaatan dan difusinya dalam masyarakat serta proses pembelajaran yang berkembang. Pendekatan system ini dimaksudkan baik dalam memahami konstruksi dari objek-objek yang dimaksud, maupun dalam mengkaji isu dan implikasi kebijakannya (yang biasanya disebut dengan istilah kebijakan inovasi).

 

Pada tataran nasional, sistem inovasi disebut sistem inovasi nasional. Sementara pada tataran teritori yang lebih sempit (daerah/lokal), system inovasi sering disebut sistem inovasi daerah/lokal. Selain itu, dalam konteks-konteks khusus seperti sektor atau industri tertentu, maka pendekatan sistem inovasi sering menggunakan istilah sistem inovasi sektoral/industrial.

 

Dengan demikian, negara yang mampu menciptakan inovasi memiliki sistem inovasi yang bersifat endogen sebagaimana yang dikatakan OECD, di mana sistem inovasi merupakan himpunan lembaga-lembaga pasar dan non-pasar di suatu negara yang memengaruhi arah dan kecepatan inovasi dan difusi teknologi. Inovasi merupakan ide, praktik, atau objek yang dianggap baru oleh manusia atau unit adopsi lainnya.

 

Teori ini meyakini bahwa sebuah inovasi terdifusi ke seluruh masyarakat dalam pola yang bisa diprediksi. Beberapa kelompok orang akan mengadopsi sebuah inovasi segera setelah mereka mendengar inovasi tersebut. Sedangkan beberapa kelompok masyarakat lainnya membutuhkan waktu lama untuk kemudian mengadopsi inovasi tersebut. Ketika sebuah inovasi banyak diadopsi oleh sejumlah orang, hal itu akan mengalami ledakan permintaan.

 

Difusi inovasi sebenarnya didasarkan atas teori pada abad ke-19 dari seorang ilmuwan Perancis, Gabriel Tarde. Dalam bukunya yang berjudul The Laws of Imitation (1930), Tarde mengemukakan teori kurva S dari adopsi inovasi, dan pentingnya komunikasi interpersonal. Tarde juga memperkenalkan gagasan mengenai opinion leadership, yakni ide yang menjadi penting di antara para peneliti efek media beberapa dekade kemudian.

 

Tarde melihat bahwa beberapa orang dalam komunitas tertentu merupakan orang yang memiliki ketertarikan lebih terhadap ide baru, dan hal-hal teranyar, sehingga mereka lebih berpengetahuan dibanding yang lainnya. Orang-orang ini dinilai bisa memengaruhi komunitasnya untuk mengadopsi sebuah inovasi. Seseorang yang telah mengadopsi sebuah inovasi akan menyebarkan inovasi tersebut kepada jaringan sosial di sekitarnya, sehingga sebuah inovasi bisa secara luas diadopsi oleh masyarakat. Difusi sebuah inovasi tidak lepas dari proses penyampaian dari satu individu ke individu lain melalui hubungan sosial yang mereka miliki. Riset menunjukkan bahwa sebuah kelompok yang solid dan dekat satu sama lain mengadopsi inovasi melalui kelompoknya.

 

Dalam proses adopsi inovasi, komunikasi melalui saluran media massa lebih cepat menyadarkan masyarakat mengenai penyebaran inovasi baru dibanding saluran komunikasi interpersonal. Komunikasi interpersonal memengaruhi manusia untuk mengadopsi inovasi yang sebelumnya telah diperkenalkan oleh media massa.

 

Tidaklah berlebihan jika kebanyakan inovasi sukses cederung merusak pasar yang sudah ada. Inovasi itu bersifat disruptif yang mengembangkan suatu produk atau layanan dengan cara yang tak diduga pasar, umumnya dengan menciptakan jenis konsumen berbeda pada pasar yang baru dan menurunkan harga pada pasar yang lama.

 

Istilah disruptive innovation dicetuskan pertama kali oleh Clayton M. Christensen dan Joseph Bower pada artikel Catching the Wave di jurnal Harvard Business Review (1995). Artikel tersebut sebenarnya ditujukan untuk para eksekutif yang menentukan pendanaan dan pembelian di suatu perusahaan berkaitan dengan pendapatan perusahaan di masa depan.

 

Kemudian pada bukunya The Innovator’s Dilemma, Christensen memperkenalkan model Disruptive Inovasi. Di mana kemampuan pelanggan untuk memanfaatkan sesuatu yang baru dalam satu lini. Di mana lini terendah adalah pelanggan yang cepat puas dan yang tertinggi digambarkan sebagai pelanggan yang menuntut. Distribusi pelanggan ini yang secara mediannya bisa diambil sebagai garis putus-putus untuk menerapkan teknologi baru.

 

Itulah strategi yang diadopsi oleh Korea Selatan dengan mengirim pelajarnya ke universitas terbaik di Amerika Serikat, khususnya mulai strata satu hingga tiga dengan biaya pemerintah. Hal ini hanya dapat terjadi jika sisi penawaran juga mampu mengikutinya.

 

Untuk itu, Korea Selatan yang berdasarkan Indeks Bloomberg merupakan negara yang paling inovatif di dunia mengembangkan system sekolah yang dimulai dari pagi (7.40) hingga malam hari (22.00) untuk anak sekolah menengah atas. Hasilnya tidak mengecewakan, namun untuk itu Korsel juga meningkatkan kualitas lulusan sekolah dasar dan sekolah menengah pertamanya dengan barometer internasional seperti Pisa. Jika kualitas pendidikan RRC hanya bagus di kota Shanghai, maka sebaliknya Korea Selatan memiliki kualitas yang bagus untuk seluruh provinsinya.

 

Dengan melihat kecenderungan ini tampaknya berat bagi RRC untuk mengikuti pola keberhasilan Korea Selatan dalam menumbuhkan inovasi secara massal dan sukses.

 

Achmad Deni Daruri, Presiden Director Center for Banking Crisis


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!