ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Minggu, 26 Maret 2017
BS logo

Tingkat Konsumsi Buah dan Mandulnya Revolusi Oranye
Oleh Siti Nuryati | Sabtu, 18 Maret 2017 | 8:29

Siti Nuryati. Siti Nuryati.

Kampanye Gizi tahun 2017 ini adalah “Peningkatan Konsumsi Sayur dan Buah Nusantara Menuju Masyarakat Hidup Sehat”. Salah satu problem gizi Indonesia adalah minimnya angka konsumsi buah dan sayuran sebagai sumber pangan penyedia vitamin dan mineral bagi tubuh.

Tingkat konsumsi buah dan sayuran penduduk Indonesia saat ini memang masih di bawah standar Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO), yakni baru sebesar 73 kg/kapita/tahun (terendah di antara negara-negara lain di Asia), sementara standar kecukupan untuk sehat menurut FAO sebesar 91,25 kg/kapita/tahun. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang dilaporkan tahun 2016 menyebutkan bahwa 93,5% penduduk Indonesia usia di atas 10 tahun terbukti tidak cukup konsumsi buah dan sayur.

Untuk meningkatkan konsumsi buah dan sayur bagi penduduk Indonesia, Kementerian Pertanian RI telah mencanangkan beragam gerakan di antaranya Gerakan Makan Sayuran di tingkat provinsi di seluruh wilayah Indonesia sejak tahun 2006. Saat itu pencanangan dipusatkan di Indramayu, Jawa Barat. Juga gerakan Konsumsi Buah Nusantara. Setiap tahun gerakan-gerakan ini terus digulirkan. Jika dicermati, gerakan-gerakan semacam ini sangat penting mengingat perilaku makan penduduk Indonesia terutama di perkotaan telah berubah dari pola tradisional ke pola modern dengan kebiasaan mengonsumsi makanan dan minuman berisiko seperti makanan dengan kandungan lemak, gula, garam yang tinggi, sementara di sisi lain tidak cukup mengonsumsi buah dan sayur sebagai sumber serat, vitamin dan mineral.

Hasil pengolahan data Riset Kesehatan Dasar 2009 menunjukkan tak satupun sampel/responden Jakarta usia 20 tahun ke atas yang cukup konsumsi buah dan sayur. Padahal salah satu bagian dalam piramida kesehatan manusia digambarkan perlunya mengonsumsi buah dan sayuran yang dibutuhkan tubuh. Disarankan untuk mengonsumsi 5 porsi buah dan sayuran dalam sehari. Artinya, 3 porsi sayur (kurang lebih 400 gram) dan 2 porsi buah (kurang lebih 250 gram).

Mengapa tingkat konsumsi rendah? Jika kita coba menelisik faktor penyebab rendahnya konsumsi sayur dan buah penduduk Indonesia, maka ada beberapa kondisi yang bisa kita duga sebagai penyebabnya. Selain faktor pergeseran pola makan, hal lain yang tak kalah pentingnya adalah soal ketersediaan dan aksesibilitas masyarakat terhadap buah dan sayur.

Sekadar contoh, di era 80-an, di desa-desa masih kita jumpai fenomena anak-anak selepas bermain-main, pulang ke rumah sudah dalam kondisi kenyang makan buah. Pasalnya, di sepanjang area bermain, pohon buah-buahan tradisional seperti jamblang, mundu, salam, jambu-jambuan bertebaran dan begitu mudah didapatkan dengan gratis, tinggal petik dan makan. Pohon-pohon tersebut tumbuh di lahan-lahan kampung dan siapapun bisa mengaksesnya. Selain itu, aneka pepohonan bisa dimanfaatkan daunnya sebagai sumber sayuran.

Tapi kini, pemandangan tersebut hampir sulit dijumpai, apalagi di daerah perkotaan. Anak-anak zaman sekarang telah dimanjakan dengan aneka hiburan dari televisi, play station, pusat hiburan anak, dan sebagainya. Sembari menikmati hiburan tersebut, mereka ditemani aneka makanan ringan yang high density calori (makanan yang manis-manis ataupun berlemak) dan miskin serat, vitamin dan mineral. Kondisi ini tak hanya dijumpai pada anak-anak, melainkan juga pada orang dewasa.

Di sisi lain, pada kebanyakan penduduk dengan kondisi sosial ekonomi yang rendah, bahkan sangat rendah, buah dan sayur menjadi sesuatu yang amat mahal buat mereka. Jangankan untuk membeli buah dan sayur, untuk membeli seliter beras saja mungkin mereka kesulitan. Daripada dipakai untuk membeli buah dan sayur, lebih baik uang yang hanya sedikit tersebut digunakan untuk belanja beras, meski akhirnya dimakan tanpa lauk, karena lauk pun tak terbeli juga. Gambaran seperti ini akan sangat nyata terlihat pada keluarga-keluarga miskin bahkan super miskin.

Kemiskinan mereka tak tertolong oleh kondisi sumberdaya alam di sekelilingnya. Pohon-pohon yang dulu biasa dijumpai tumbuh di sepanjang jalanan kampung, kini sudah lenyap, entah karena berganti bangunan beton atau memang punah keragaman hayatinya. Lebih parah lagi, membanjirnya buah-buah dan sayuran impor turut meminggirkan buah-buah lokal, sehingga petani lokal menjadi kurang bergairah. Padahal, andai segenap potensi buah dan sayuran lokal dioptimalkan pengembangannya, semestinya hal tersebut dapat menjadi salah satu cara untuk mengatasi masalah rendahnya konsumsi sayur dan buah penduduk Indonesia.

 

Revolusi Oranye

Rendahnya konsumsi buah mestinya bisa diatasi andai Gerakan Revolusi Oranye berhasil mencapai tujuannya. Namun sayang, sejak diluncurkan pada tahun 2013, gerakan ini belum secara signifikan meningkatkan baik angka produksi buah Nusantara maupun konsumsi buah yang cukup signifikan di kalangan penduduk Indonesia.

Berawal dari keprihatinan atas impor buah, konsep Revolusi Oranye diharapkan bisa meningkatkan kapasitas petani agar memiliki orientasi mencukupi kebutuhan dalam negeri dan pasar ekspor. Selama ini petani menanam buah di lahan tersebar dengan asal bibit tidak jelas sehingga produktivitas dan kualitas buah tidak bagus. Kualitas dan kuantitas produksi buah Indonesia yang tidak konsisten menyulitkan untuk bisa masuk ke pasar ekspor. Revolusi Oranye mengamanatkan dikembangkannya pertanian buah skala perkebunan dengan puluhan pilihan komoditas unggulan buah. Revolusi Oranye juga diharapkan menjadi instrumen diversifikasi pangan agar masyarakat sehat dan upaya meningkatkan kesejahteraan petani.

Permasalahan utama produksi buah Indonesia merata mulai dari soal produk yang kurang berkualitas, kurang berlanjut dan kurang konsisten, juga rendahnya produktivitas, kacaunya jalur tata niaga, serta lemahnya infrastruktur. Sehingga tak heran jika harga buah-buah lokal kita masih terhitung mahal untuk bisa dijangkau oleh masyarakat kelas menengah ke bawah. Di sisi lain buah impor membanjiri dengan harga yang lebih rendah dibanding buah Nusantara. Pada situasi inilah, konsumen merasa berat untuk membeli buah Nusantara, dan petani sebagai produsen pun harus dihadapkan dengan persaingan komoditas impor.

Tentu pekerjaan rumah kita sangat banyak, apalagi ketika target Revolusi Oranye lebih dari sekadar pemenuhan konsumsi buah dalam negeri yaitu menjadikan Indonesia sebagai produsen buah tropika terkemuka di Asean pada 2025 dan eksportir buah tropika terbesar dunia pada 2045. Sungguh sebuah target yang bisa dibilang sangat ambisius. Betapa tidak, tentu tak mudah menggeser posisi yang awalnya sebagai negara dengan tingkat konsumsi buah terendah di Asia, berubah menjadi yang tertinggi di kawasan Asia bahkan dunia, dengan tidak adanya percepatan pelaksanaan program ini. Belum lagi adanya trauma kita bahwa pemerintah sangat dikenal dengan kebijakan maju-mundurnya, sikap tidak konsisten dan ragu-ragu serta lemah energi untuk mewujudkan tercapainya sebuah program.

Untuk mewujudkan hal tersebut, Indonesia membutuhkan 2,2 juta hektar lahan untuk menanam dengan target ekspor sekitar 5,95 juta ton. Kita juga perlu dukungan hasil-hasil riset buah unggulan Nusantara, mulai dari aspek benih/varietas hingga teknologi packing house yang baik.

Mendesak perlu pematangan rumusan konsep, desain, rencana aksi, naskah akademis yang diperlukan dalam penyusunan pedoman pelaksanaan dan pedoman teknis yang nantinya melahirkan Peraturan Presiden, Keputusan Presiden, maupun Instruksi Presiden sebagai landasan hukum program nasional Revolusi Oranye ini. Juga penting adanya dukungan kelembagaan baik dari kementerian/lembaga, pemerintah kabupaten/kota, dan BUMN perkebunan terkait.

Dan pekerjaan yang tak kalah penting adalah bagaimana membangun kebanggaan atas buah tropika Nusantara dengan melakukan edukasi terus-menerus untuk menanamkan kecintaan terhadap pangan lokal (buah Nusantara).

 

Siti Nuryati, Penerima “Anugerah Penulis Muda 2009” Kementan RI  


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!