ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Minggu, 26 Maret 2017
BS logo

Menjadikan Bisnis sebagai Budaya
Oleh Mardiana Makmun | Kamis, 2 Maret 2017 | 23:55

Sharmila, Ketua Induk Koperasi Wanita Indonesia (Inkowapi) Sharmila, Ketua Induk Koperasi Wanita Indonesia (Inkowapi)

Tak kenal lelah, lewat Inkowapi dan Komunitas Sahara, Sharmila menularkan ilmu berbisnis kepada masyarakat Indonesia, terutama perempuan. Tekadnya satu, menjadikan bisnis sebagai budaya di Indonesia.

 

“Bisnis itu tidak diajarkan di masyarakat. Bisnis itu tidak jadi budaya di Indonesia. Karena itu lihat saja, tidak banyak anak-anak Indonesia yang sejak kecilnya bercita-cita menjadi pebisnis. Sebagian besar ingin menjadi pegawai negeri, pegawai bank, bukan pebisnis,” kata Sharmila miris kepada Investor Daily di Jakarta, baru-baru ini.

 

Keprihatinan Sharmila timbul melihat banyaknya perempuan-perempuan yang terpaksa berbisnis (berdagang) demi membantu keuangan keluarga. “Perempuan Indonesia itu sebenarnya berbakat bisnis, apalagi ketika terpaksa demi membantu keuangan keluarga, tetapi karena bisnis bukan budaya yang dibangun di masyarakat, hasilnya tidak maksimal. Ini yang menjadi perhatian saya,” kata Sharmila yang juga pendiri Komunitas Sahara (Sahabat Usaha Rakyat).

 

Dalam catatannya, ada lima permasalahan yang dialami perempuan pebisnis di Indonesia. “Legalitas, permodalan, pendidikan, jaringan dan pemasaran, serta tak melek teknologi informasi,” papar Sharmila.

 

Soal legalitas, kata Sharmila, menjadi yang paling membingungkan. “Pengurusan legalitas dengan sistem online itu sangat membingungkan ibu-ibu, saya berharap sistem ini lebih dulu disosialisasikan sehingga lebih mudah dimengerti,” kata Sharmila.

 

Selain tidak memiliki akses pada sumber permodalan, sebagian perempuan juga tidak memiliki kemampuan mengelola keuangan. “Uang usaha bercampur dengan uang pribadi. Padahal, suksesnya pengusaha bukan karena banyak duit, tapi bagaimana dia terampil mengelola uang,” tegas Sharmila.

 

Perempuan, kata Sharmila, juga banyak yang cepat berpuas diri. “Kalau sudah bisnis, tidak mau belajar lagi. Minimal ya dia harus belajar hal yang terkait dengan bisnisnya. Apalagi dunia bisnis juga selalu mengalami perubahan,” ungkap dia. Yang lucu, semua perempuan Indonesia sepertinya punya bakat berbisnis, tetapi mengapa jaringan pemasarannya hanya terbatas di komunitasnya saja.

 

“Ini juga terkait dengan banyak perempuan yang gaptek (gagap teknologi), tidak bisa memakai komputer atau smartphone, tidak mengerti internet, sehingga menghambat perkembangan bisnisnya,” papar Sharmila.

 

Tak heran, lanjut Sharmila, karena faktor gaptek inilah, saat ini perempuan secara umum berada di urutan belakang di kategori pelaku bisnis yang sukses. “Sekarang ini nomor satu pebisnis yang sukses berasal dari kalangan netizen, lalu youth, dan terakhir women,” papar dia.

 

Pelatihan

Melihat fakta itu, melalui Inkowapi, Sharmila gencar menggelar pelatihan untuk para perempuan. “Salah satunya pelatihan bagaimana membuat proposal untuk pengajuan pinjaman ke bank, pelatihan pengelolaan keuangan, dan lain-lain,” jelas dia.

 

Selain lewat Inkowapi, saat ini budaya berbisnis juga ia tularkan lewat Komunitas Sahara yang tak hanya menyasar perempuan tetapi juga pria. “Ada banyak masyarakat, baik wanita dan pria, dewasa dan anak muda, yang ingin berbisnis tetapi tidak mengerti caranya. Nah bergabung di Sahara akan mendapat pelatihan dan pilihan berbisnis sesuai program yang sudah diluncurkan,” jelas Sharmila.

 

Sebelumnya, pada 2016 Sahara meluncurkan bisnis travel mengingat tingginya pegerakan wisatawan domestik ke destinasi wisata di Indonesia. “Tahun 2017, Sahara meluncurkan program bisnis sembako. Cukup membayar Rp 35 juta, Sahara akan membuatkan toko sembako dan memasok sembako dengan harga murah sehingga bisa bersaing dengan toko lainnya,” kata Sharmila yang saat ini sudah membangunkan toko sembako untuk wilayah Jabodetabek, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

 

Soal modal, kata Sharmila, ada banyak jalan untuk mendapatkannya. Dia menceritakan pengalaman salah satu anggota Sahara yang membuatnya terharu dan bangga. “Ada ibu-ibu yang berhasil mendapatkan dana hibah setelah mampu membuat proposal pengajuan dana dari pelatihan yang kami berikan. Sekarang, ibu itu bisa membantu keuangan keluarga dari toko sembakonya,” cerita Sharmila bangga.

 

Kebanggaan dari keberhasilan para pengusaha yang dibimbingnya itu menjadi penyemangat hidup Sharmila. “Ini bagian dari ibadah saya. Saya gak pernah merasa lelah melakukannya, memberikan pelatihan dan edukasi kepada pengusaha pemula, terutama ibu-ibu, mungkin karena ini adalah passion saya ya,” ungkap dia.

 

Menilik ke masa kecilnya, ternyata Sharmila kecil sudah dididik menjadi pengusaha oleh ayahnya. “Ayah saya pengusaha. Beliau mengekspor rempah-rempah, mulai kayu manis, kapulaga, merica, bahkan juga mengekspor sapu lidi dan sandal jepit. Sejak kecil saya sudah diajari bagaimana berdagang, bahkan mengisi lembaran LC (letter of credit). Jadi sejak kecil, tak terpikir di kepala saya untuk menjadi pegawai negeri, saya cuma ingin jadi pengusaha,” tandas Sharmila. (*)


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!