ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Minggu, 26 Maret 2017
BS logo

Cegah Kasus Klitih
Kamis, 16 Maret 2017 | 8:38

Para remaja sedang beraktivitas di lapangan. Foto ilustrasi: twitter.com Para remaja sedang beraktivitas di lapangan. Foto ilustrasi: twitter.com

Segerombolan remaja di Yogyakarta menyerang seorang remaja tanpa sebab hingga tewas, akhir pecan lalu. Tujuh dari sembilan pelaku sudah diamankan aparat kepolisian. Seluruh pelaku yang tertangkap masih berusia di bawah 17 tahun. Hampir semuanya merupakan pelajar SMP dengan almamater yang berbeda, dan satu orang berstatus pelajar SMA di Yogyakarta.

 

Padahal, antara para pelaku dan korban sama sekali tidak saling mengenal. Peristiwa pembacokan itu dipicu adanya teriakan kata-kata kasar dari pihak korban saat berpapasan di Jalan Kenari, Yogyakarta.

 

Hal itu selanjutnya membuat seorang berinisial SR dari gerombolan remaja itu tidak terima dan kembali mengejar korban dengan lalu menyabetkan senjata tajam. Namun dari awal, kelompok remaja itu memang sudah membawa senjata tajam yang sengaja mereka siapkan ketika ada yang mengganggu langsung digunakan.

 

Selidik lebih lanjut, remaja-remaja itu jauh dari pengawasan dan peran orang tuanya. Hampir seluruh tersangka yang terlibat dalam kasus itu, menurut polisi, memiliki latar belakang keluarga broken home. Ada yang orang tuanya sudah berpisah, dan ada yang tinggal dengan orang lain. Kasus ini semestinya menjadi cerminan para orangtua untuk selalu memberikan perhatian dan pengawasan penuh kepada anak-anaknya.

 

Kiranya kasus ini mendorong penguatan peran keluarga dalam memberikan pendidikan kepada anak-anak mereka sebagai salah satu antisipasi kekerasan pelajar atau di Yogyakarta dikenal dengan istilah “klitih” ini. Jadi untuk memecahkan masalah ‘klitih’ ini tidak semata-mata dengan razia dan patroli, melainkan perlu peran bersama semua pihak baik orang tua maupun sekolah.

 

Peran pendidikan keluarga harus dioptimalkan. Program pendidikan keluarga biasanya dilakukan melalui kegiatan parenting, hari-hari pertama masuk sekolah, serta komunikasi intensif antara sekolah dan orang tua siswa.

 

Sebagai contoh, pada saat hari pertama masuk sekolah dapat dimulai komunikasi intensif antara orang tua siswa dan guru kelas atau wali kelas. Kedua pihak bisa melakukan serah terima tanggung jawab pendidikan di sekolah dan di rumah. Selain itu, perlu dilakukan penegakan tata tertib siswa di sekolah, serta mengoptimalkan jalur pendidikan nonformal dan informal yang sudah berjalan.

 

Peran pendidikan di keluarga menjadi faktor terpenting untuk mengantisipasi terjadinya kekerasan pelajar karena biasanya tindakan negative tersebut terjadi di luar jam sekolah. Langkah-langkah kecil secara kontinyu harus segera dijalankan. Apalagi berdasarkan catatan dari Jogja Police Watch (JPW) pada 2016 hingga 2017 setidaknya terjadi delapan kali kasus “klitih” di DIY dengan kasus terakhir terjadi pada Minggu (12/3). Di seluruh kasus, korban mengalami luka akibat senjata tajam, bahkan tidak jarang korban meninggal dunia.

 

Kendati begitu, kami berharap pihak kepolisian juga tetap terus melakukan patroli secara rutin di lokasi-lokasi yang berrpotensi menjadi tempat terjadinya tindak kekerasan terutama saat akhir pekan.

 

Edy Heri S

Yogyakarta


Google+


Beri Tanggapan Atas Surat Ini

Silakan kirim surat Anda melalui form di bawah ini. Mengingat banyaknya surat yang masuk, redaksi mengutamakan surat yang ditulis dengan baik dan disertai dengan identitas yang jelas. Andapun bisa menyisipkan foto. Semua field harus diisi!


Nama

:

Nama Institusi/Perusahaan/Lembaga

:

Telp Perusahaan (untuk verifikasi)

:

Alamat

:

Kota

:

No. Telp / HP

:

Alamat Email (Untuk Verifikasi)

:

Scan KTP/ Kartu Identitas Lain

:

resolusi maximum 400x265 pixel dan ukuran file 50Kb, hanya JPG atau JPEG.

Judul Pengaduan

: Re: Cegah Kasus Klitih

Masukkan kode diatas tepat seperti apa yang terlihat. Case Sensitive!