ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Minggu, 26 Maret 2017
BS logo

Akselerasi Edukasi Investasi
Sabtu, 18 Maret 2017 | 8:25

Mafia investasi bodong yang terus memakan korban di Tanah Air harus segera ditumpas. Pemiskinan ini harus segera dihentikan, apalagi kian agresif memangsa masyarakat daerah yang cenderung masih lugu. Penipuan skema Ponzi dengan aneka kedok yang baru maupun lama itu seharusnya tidak lagi terjadi, jika Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan pemerintah mau peduli dan bahu-membahu mengakselerasi edukasi investasi.

 

Edukasi investasi di Tanah Air semestinya tidak ada lagi kendala, mengingat teknologi informasi (TI) sudah berkembang luar biasa pesat. FinTech atau financial technology juga sudah ada. Belum lagi startups baru yang terus bermunculan, termasuk yang bisa memberikan jasa untuk membantu akselerasi edukasi investasi hingga mempermudah berlangganan dan pembayaran.

 

Sebagaimana dulu pemerintah dan semua komponen bangsa merapatkan barisan untuk memberantas buta huruf, kini saatnya kita bergerak memberantas buta investasi dengan memanfaatkan TI. Apalagi, buta investasi ini membuat masyarakat di daerah uangnya menjadi hilang atau bahkan terjerat utang, sehingga semakin memperlebar kesenjangan ekonomi antara pusat dan daerah.

 

Edukasi untuk mempercepat melek investasi ini juga sejalan dengan kebijakan pemerataan yang kini menjadi prioritas pemerintahan Presiden Joko Widodo, yang bersasaran memberdayakan masyarakat daerah dan mengurangi ketimpangan antara yang kaya dan yang miskin. Pertumbuhan ekonomi tinggi bukan lagi sasaran akhir, apalagi jika hanya untuk memperkaya segelintir orang.

 

Pertumbuhan ekonomi harusnya berdampak efektif mengikis kebodohan, kemiskinan, dan ketidakadilan. Di sinilah edukasi investasi yang massif dan komprehensif semakin urgen dilaksanakan, dengan memanfaatkan kemajuan TI.

 

OJK bisa memanfaatkan jumlah langganan telepon seluler di seluruh Nusantara yang mencapai 282 juta, lebih banyak dari jumlah penduduk kita. Ponsel pun bukan lagi barang mewah, hampir semua penduduk kota hingga desa sudah punya, bahkan anak-anak SD. Pengguna internet di Tanah Air pun sudah sekitar 100 juta.

 

Dengan fakta ini, hampir semua penduduk dewasa Indonesia – apalagi kelompok menengah– bisa dijangkau edukasi investasi oleh OJK, bekerja sama dengan pemerintah dan lembaga terkait seperti Bursa Efek Indonesia. Apalagi, OJK memiliki dana melimpah triliunan rupiah, hasil iuran dari semua lembaga jasa keuangan di Indonesia yang dipungut berdasarkan aset.

 

Edukasi lewat internet tentulah tidak mahal dan sebenarnya gampang disebarluaskan, asal ada kemauan. Jika hoax memes saja laris manis dan cepat menyebar lewat medsos, tentulah OJK tidak akan kurang akal dan dana untuk mempekerjakan SDM profesional yang tak kalah kreatif dan agresif mendulang perhatian massal.

 

Edukasi lewat sms pun bisa dilakukan bekerja sama dengan operator seluler maupun perbankan yang sudah memberikan layanan sms banking maupun digital banking, seperti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI). Total nasabah BRI mencapai 60 juta orang lebih di kota maupun desa, dan akan terus bertambah seiring dengan dimilikinya satelit BRIsat. Bank pertama di dunia yang memiliki satelit itu kini bisa menjangkau hampir semua wilayah, hingga daerah-daerah kepulauan di berbagai pelosok Tanah Air.

 

Oleh karena itu, pertama-tama, masyarakat harus dididik bahwa orang tidak bisa kaya mendadak, tapi butuh kerja keras dan waktu. Jadi, jika ada yang menawarkan investasi instan dan bisa segera kaya, maka harus segera diwaspadai dan dilaporkan ke OJK, yang berwenang mengawasi dan memberi izin semua produk keuangan dan lembaga jasa keuangan di Tanah Air.

 

Kedua, OJK juga harus memberikan single identity bagi semua lembaga yang boleh memobilisasi dana investasi dari masyarakat. Jika kini pasar modal bisa memberlakukan Nomor Tunggal Identitas Pemodal (Single Investor Identification/SID), tentunya OJK juga bisa memberlakukan single identity bagi semua lembaga jasa keuangan yang beroperasi di masyarakat.

 

Artinya, masyarakat tinggal mengecek nomor indentitasnya untuk mengetahui apakah lembaga tersebut memiliki izin dan diawasi OJK untuk menawarkan instrument investasi. SID ini merupakan kode tunggal dan khusus yang diterbitkan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia bagi nasabah/pemodal atau pihak lain untuk melakukan kegiatan terkait transaksi efek, sesuai peraturan yang berlaku.

 

Ketiga, semua produk jasa keuangan harus mendapat izin, terdaftar, dan diawasi oleh OJK. OJK harus membuat sistem di mana masyarakat bisa mengecek sah atau tidaknya produk yang ditawarkan, seperti halnya bank bisa mengecek nomor KTP penduduk dan memeriksa apakah calon nasabah masuk daftar blacklist Bank Indonesia, sebelum menyetujui permohonan kreditnya. Begitu namanya tercantum dalam daftar hitam BI karena kredit macet, jangan harap orang bisa mendapat kredit dalam bentuk apa pun ke bank mana pun.

 

Keempat, bagi para calon investor pemula, sebaiknya mereka dikenalkan dulu dengan reksa dana yang memiliki banyak pilihan dan bisa dimulai dari investasi kecil, Rp 100.000. Selain bisa mengenali kebutuhan investasinya dan kemampuan diri untuk menanggung risiko, masyarakat juga bisa belajar mengelola investasi yang benar dan tidak emosional.

 

Masyarakat juga bisa belajar memahami tingkat keuntungan yang wajar dan mengendalikan risikonya. Masyarakat bisa belajar mengerti pula mengenai konsep high risk, high return dan sebaliknya, untuk disesuaikan dengan kebutuhan dan tipe investasinya.

 

Masyarakat pun memiliki pilihan investasi reksa dana yang beragam, baik jenis reksa dana saham, pendapatan tetap dalam denominasi dolar, pendapatan tetap dalam denominasi rupiah, pasar uang, dan campuran. Rata-rata, masyarakat juga bisa menikmati keuntungan sekitar 12-14% per tahun dengan berinvestasi di sini, lebih tinggi dari deposito bank yang memang sifatnya untuk penyimpanan dana cash sehari-hari.

 

Yang tak kalah penting, masyarakat juga tidak perlu dibikin ribet dengan segala macam administrasi yang memusingkan untuk registrasi, plus dipermudah pembayaran maupun penarikan investasinya. Ini misalnya mirip dengan cara mengaktifkan SIM card untuk berlangganan layanan operator seluler, dengan cukup mengisi data sesuai KTP. Sedangkan untuk top up investasi, cukup dengan membeli ‘pulsa’ reksa dana di berbagai outlet yang tersebar di mana-mana. (*)


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!