ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Minggu, 26 Maret 2017
BS logo

Asing Mulai Mengoleksi Saham
Senin, 20 Maret 2017 | 13:58

Pengunjung berada di galeri Bursa Efek Indonesia Jakarta, Senin (27/2).  Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza Pengunjung berada di galeri Bursa Efek Indonesia Jakarta, Senin (27/2). Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza

Merespons kenaikan suku bunga bank sentral AS, harga saham di bursa dunia melesat. Tak terkecuali harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Indeks harga saham gabungan (IHSG) pada perdagangan di BEI, Jumat (17/3), ditutup di level 5.540,43, sekaligus mengukir rekor baru. Rekor tertinggi sebelumnya, 5.523,29, sudah bertahan sekitar dua tahun. Lonjakan indeks tak lepas dari net buying investor asing yang mencapai Rp 5,42 triliun sepanjang pekan lalu.



Kekhawatiran akan anjloknya harga saham akibat keputusan The Federal Reserve (The Fed), bank sentral AS, tidak terbukti. Meski fed funds rates (FFR) dinaikkan 25 basis poin menjadi 0,75-1%, Rabu (15/3) waktu AS, harga saham dunia justru serempak naik. Indeks Dow Jones nyaris menyentuh 21.000. Ini adalah kenaikan kedua FFR dalam tiga bulan terakhir. Harga saham di berbagai bursa dunia sudah priced in atau disesuaikan dengan kebijakan The Fed.



Kenaikan FFR mercerminkan pemulihan ekonomi negara adidaya itu. Berbagai kebijakan ekonomi The Fed dan pemerintah AS mampu mendorong laju pertumbuhan ekonomi, menekan angka pengangguran, dan menaikkan harga barang dan jasa. Inflasi dalam batas tertentu menunjukkan kekuatan daya beli rakyat. Kenaikan suku bunga acuan penting untuk menyeimbangkan keadaan agar ekonomi AS tidak overheating.



Kalangan analis memperkirakan, IHSG tahun ini kemungkinan besar akan menembus level psikologis 6.000. Pada akhir tahun depan, indeks bisa mencapai 7.500. Ada sejumlah faktor yang mempengaruhi kenaikan harga saham. Pertama, rata-rata price earning ratio (PER) saham-saham di BEI sebesar 15 kali. Sedang rata-rata PER saham-saham di New York Stock Exchange (NYSE) sekitar 22,7 kali. Rata-rata PER saham-saham di Singapura Stock Exchange sekitar 22,93 kali.



Dalam kondisi seperti ini, pasar modal Indonesia menjadi tujuan utama dana investasi portofolio dari AS dan negara-negara maju. Dana investasi asing akan terus masuk ke Indonesia, mengincar saham, reksa dana, surat utang negara (SUN), dan obligasi korporasi. Imbal hasil atau yield obligasi pemerintah sekitar 7-8% masih lebih tinggi dibanding US Treasury bertenor 10% yang hanya 2%.



Kalaupun suku bunga AS tahun ini akan naik hingga 1,5%, masih ada selisih 3,25% jika dibanding BI 7-day reverse repo rate yang saat ini sebesar 4,75%. Jika FFR dinaikkan lagi untuk keempat kalinya menadi 2% dan US Treasury naik menjadi ke 3%, investasi di Indonesia masih tetap lebih menarik.



Kedua, bulan ini hingga April, banyak emiten yang menggelar RUPS dan membagi dividen. Kinerja keuangan emiten tahun 2016 lumayan bagus dan tahun ini diprediksi lebih bagus lagi. Membaiknya kinerja keuangan kuartal pertama 2017 dibanding periode yang sama tahun 2016 menjadi sinyal kenaikan laba bersih emiten tahun ini. Saham-saham sektor infrastruktur yang belum sempat naik pekan lalu, bahkan sejak awal tahun, akan bergerak naik. Pembelian oleh pemodal asing biasanya berpindah-pindah dari satu sektor ke sektor lain.



Ketiga, dana repatriasi yang didorong program tax amnesty akan masuk pasar modal. Sekitar Rp 150 triliun dana repatriasi tidak akan terus-menerus ada di perbankan. Dana-dana ini akan mencari return yang tinggi dan itu bisa diperoleh di pasar modal Indonesia.



Keempat, tahun ini, lembaga pemeringkat dunia, Standard and Poor’s (S&P) Global Ratings, akan menaikkan peringkat utang Indonesia, ke investment grade atau layak investasi. Dengan status layak investasi, pemodal asing yang selama ini ragu-ragu akan lebih yakin lagi untuk menanamkan dananya di Indonesia.



Kelima, jika tahun 2016 ada tambahan 16 emiten baru yang mencatatkan sahamnya di BEI, tahun ini jumlahnya lebih besar. Sekitar sembilan anak usaha BUMN sudah menyatakan siap untuk go public tahun ini. Selain itu, ada dua BUMN yang bakal IPO.


Keenam, pemodal lokal diperkirakan akan meningkatkan investasi di pasar modal. Sosialisasi dan edukasi pasar modal akan mendorong masyarakat berduit masuk pasar modal, tidak tertipu oleh investasi bodong.


Belajar dari masa lalu, pemodal lokal hendaknya tidak terus-menerus menjadi follower. Membeli saham setelah asing membeli. Saat ini, mereka yang membeli saham saat indeks di bawah 5.200 akan menikmati potential gain. Untuk sekadar mengecap girihnya investasi di saham, mereka boleh profit taking sebagian kecil.


Bagi pemodal yang belum sempat masuk, saham-saham infrastruktur masih cukup prospekif karena PER masih rendah. Kinerja keuangan emiten sektor infrastruktur tahun 2016 dan kuartal pertama 2017 cukup menggembirakan. Tapi, harga sahamnya tidak bergerak naik.


Asing mulai masuk pasar modal Indonesia, mengoleksi saham dan obligasi. Para pemdal lokal tak perlu ikut-ikutan. Dalam membeli saham, pertimbangan utama adalah kinerja fundamental emiten, bukan teknikal. Harga saham yang likuid akan selalu bergerak naik-turun. Tapi, harga saham dengan fundamental bagus, biasanya, menunjukkan tren naik jika dilihat dalam tentang waktu minimal satu tahun.(*)


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!