ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Sabtu, 24 Juni 2017
BS logo

Bank Ekspansi
Rabu, 14 Juni 2017 | 8:46

Kepala Eksekutif Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Fauzi Ichsan (enam dari kiri) didampingi Deputi Pengawas Perbankan II OJK Santoso Wibowo (enam dari kanan) dan Pemimpin Redaksi Majalah Investor Primus Dorimulu (kiri) bersama penerima penghargaan Bank Umum Terbaik 2017 (dari kiri ke kanan) Dirut PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Suprajarto, Wakil Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk Eugene Keith Galbraith, Direktur Keuangan & Risiko Kredit PT Bank Negara Indonesia Tbk Rico Rizal Budidarmo, Direktur PT Bank Mayapada Internasional Tbk Andreas Wiryanto, Direktur Bank KEB Hana Indonesia Kontantinus Liem, Direktur PT Bank Sinarmas
Tbk Johny Mailoa, President Director Bank BNP Paribas Indonesia Luc Cardyn, Direktur Utama Bank Mandiri Taspen Pos Josephus K. Triprakoso, dan Direktur Utama PT Bank Ganesha Tbk Surjawaty Tatang (kanan) foto bersama usai acara Bank Terbaik 2017 versi Majalah Investor di Jakarta, Selasa (13/6/2017). Investor Daily/DAVID GITA ROZA Kepala Eksekutif Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Fauzi Ichsan (enam dari kiri) didampingi Deputi Pengawas Perbankan II OJK Santoso Wibowo (enam dari kanan) dan Pemimpin Redaksi Majalah Investor Primus Dorimulu (kiri) bersama penerima penghargaan Bank Umum Terbaik 2017 (dari kiri ke kanan) Dirut PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Suprajarto, Wakil Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk Eugene Keith Galbraith, Direktur Keuangan & Risiko Kredit PT Bank Negara Indonesia Tbk Rico Rizal Budidarmo, Direktur PT Bank Mayapada Internasional Tbk Andreas Wiryanto, Direktur Bank KEB Hana Indonesia Kontantinus Liem, Direktur PT Bank Sinarmas Tbk Johny Mailoa, President Director Bank BNP Paribas Indonesia Luc Cardyn, Direktur Utama Bank Mandiri Taspen Pos Josephus K. Triprakoso, dan Direktur Utama PT Bank Ganesha Tbk Surjawaty Tatang (kanan) foto bersama usai acara Bank Terbaik 2017 versi Majalah Investor di Jakarta, Selasa (13/6/2017). Investor Daily/DAVID GITA ROZA

Perbankan menunjukkan tanda-tanda akan kembali tancap gas tahun ini, setelah dalam lima tahun terakhir pertumbuhan kreditnya anjlok. Selain faktor mulai membaiknya harga komoditas, menguatnya kepercayaan pebisnis global terhadap Indonesia – pascaperolehan investment grade dari S&P – bakal memacu ekspansi bank.

 

Laju ekspansi kredit perbankan di Tanah Air terus merosot seiring terpaan krisis ekonomi global sejak tahun 2012. Pertumbuhan kredit turun dari tahun 2011 sebesar 24,6% menjadi 23% dengan rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) 1,9%.

 

Berikutnya, terjungkalnya harga komoditas sejak 2014 membuat laju pertumbuhan kredit bank makin merosot hingga tinggal 7,9% tahun lalu, dengan NPL membengkak menjadi 2,9%.

 

Jika kita bandingkan, ketika ada krisis ekonomi dunia tahun 2008, masa pemulihan ekonomi nasional hanya butuh waktu setahun dan pada 2010 hingga 2011 sudah melesat lagi. Hal ini karena harga komoditas cepat pulih dan bersamaan dengan itu, kredit juga terangkat kembali. Namun, berbeda saat krisis ekonomi global menerjang tahun 2012, masa konsolidasi ekonomi kita lama dan masih berlangsung hingga saat ini, karena lambatnya pemulihan harga komoditas.

 

Kondisi tersebut makin mengonfirmasi bahwa struktur ekonomi Indonesia masih sangat tergantung pada komoditas, terutama minyak sawit dan batubara. Hal ini menjadi titik lemah kita yang harus diperbaiki dengan industrialisasi dan hilirisasi.

 

Untungnya, memasuki kuartal I tahun ini, harga komoditas dan ekonomi kita membaik, didukung capital inflow yang menderas. Selain itu, tingkat keyakinan konsumen dan kinerja ekspor meningkat, ditambah inflasi terjaga dan angka pengangguran menurun. Perbankan pun mulai bisa bernafas lega dan menunjukkan tanda-tanda rebound, meski NPL triwulan pertama lalu masih sedikit naik ke 3%.

 

Bisa kita lihat, kredit sudah bisa ekspansi hingga 9,2% (year on year/yoy). Masa konsolidasi juga diperkirakan segera berakhir tahun ini, seiring rampungnya restrukturisasi utang luar negeri, meningkatnya penjualan terutama dari sektor barang konsumsi yang mulai bertumbuh baik, serta bertambahnya capital expenditure (belanja modal).

 

Recovery Indonesia pun terus menguat, didukung pembangunan infrastruktur besar-besaran, perbaikan fiskal, kemudahan perizinan, dan dampak program tax amnesty yang termasuk tersukses di dunia. Tak berlebihan jika pertengahan Mei tahun ini, Standard and Poor’s (S&P) menaikkan peringkat Indonesia ke level BBB-/stable outlook, atau naik kelas ke investment grade. S&P dari Amerika Serikat ini merupakan lembaga rating terbesar dan paling berpengaruh di dunia.

 

Indonesia sebelumnya pernah memperoleh status bergengsi tersebut, namun dicabut setelah diterjang krisis moneter (krismon) 1998/1999. Butuh waktu hampir 20 tahun dan melewati 4 presiden, barulah Indonesia bisa meraih kembali investment grade dari S&P.

 

Seiring dengan itu, pada bulan yang sama, akhir Mei 2017, perbankan kembali mencatatkan pertumbuhan kredit double digit atau mencapai 10,39%. Pencapaian ini jauh lebih tinggi ketimbang pertumbuhan kredit pada Mei 2016 yang hanya 8% (yoy).

 

Hingga akhir tahun ini, pertumbuhan kredit perbankan nasional diproyeksikan mampu menembus 10- 12%. Pertumbuhan ini terutama bakal ditopang sektor industri pengolahan yang menyumbang 22% terhadap total kredit dan sektor pertambangan yang sudah mulai ekspansif, seiring harga komoditas yang membaik. Kualitas kredit pun akan membaik, dengan NPL diperkirakan bisa ditekan ke level 2,7% sampai akhir 2017.

 

Perbankan dipastikan semakin prospektif ke depan, apalagi net interest margin (margin bunga bersih/NIM) masih mencapai 5-5,5% dan return on asset (ROA) 2-2,5% per April 2017. Raihan ini tertinggi di Asean, yang rata-rata hanya memiliki NIM 1,7-2% dan ROA 0,2-1,2% Tingginya NIM itu merupakan keberuntungan perbankan nasional, yang membuat tiga bank kita masuk 10 bank terbesar Asean berdasarkan laba bersih, yakni Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Central Asia (BCA), dan Bank Mandiri. Padahal, dari sisi aset, hanya satu dari Indonesia yakni Bank Mandiri yang masuk daftar 10 bank terbesar Asean berdasarkan aset.

 

Competitive advantage tebalnya NIM ini – yang membuat bank-bank asing berlomba-lomba masuk Indonesia – tentu saja jangan dibuang. Jika pun pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), hingga DPR meminta suku bunga kredit diturunkan untuk menggerakkan ekonomi, maka janganlah bank yang dikebiri dengan diharuskan memotong NIM. Namun, yang harus dilakukan adalah pemerintah dan otoritas yang lain benar-benar mau bekerja untuk menciptakan iklim yang kondusif bagi penurunan tingkat bunga kredit di Tanah Air.

 

Pasalnya, suku bunga tinggi juga dikarenakan oleh banyak faktor dan masalah yang lain, yang di luar kewenangan perbankan. Perbaikan itu bisa dimulai dari misalnya pemerintah bersama Bank Indonesia menurunkan inflasi, dengan menjaga harga-harga dan pasokan barang, terutama saat bulan Puasa- Lebaran seperti sekarang.

 

Peraturan pemerintah (PP) juga harus direvisi untuk memangkas pungutan yang dibebankan perbankan guna pembiayaan operasi OJK, dari saat ini yang didasarkan aset menjadi berdasarkan laba. DPR juga harus berperan dalam mengamendemen Undang-Udang OJK, yakni agar dana pungutan OJK yang masih tersisa tidak perlu dikembalikan ke kas negara, namun digunakan untuk menurunkan tariff pungutan tahun selanjutnya.

 

Selain itu, pemerintah wajib menurunkan kupon surat utang negara (SUN) yang zero risk tersebut, sehingga perbankan bisa menurunkan tingkat kupon obligasi yang diterbitkannya. Obligasi ini dibutuhkan bank terutama sebagai sumber dana bagi kredit jangka panjangnya, misalnya ke sektor infrastruktur dan investasi industri dasar hingga pengolahan. (*)

.


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!




Data tidak tersedia.