ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Senin, 26 Juni 2017
BS logo

Dampak Qatar Sementara
Kamis, 8 Juni 2017 | 8:17

Keputusan Arab Saudi, Bahrain, Uni Emirat Arab (UAE), dan Mesir memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar memicu ketegangan baru di kawasan Timur Tengah. Namun, pemutusan hubungan diplomatik yang diumumkan Senin (5/6) lalu itu diperkirakan hanya menimbulkan dampak sementara, baik terhadap harga minyak maupun pasar finansial.

 

Qatar bukanlah produsen minyak terbesar di antara anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC). Negara berpenduduk 2 juta jiwa ini hanya memproduksi minyak 600.000 barel per hari (bph), kalah jauh dibandingkan dengan Arab Saudi yang memproduksi 9,9 juta bph atau terbesar dari 12 negara anggota OPEC. Namun, Qatar merupakan penghasil gas nomor satu di dunia dan menyuplai 30% gas dunia.

 

Pemutusan hubungan bilateral tersebut justru menekan harga minyak mentah dunia. Ketegangan diplomatik di Teluk yang melibatkan anggota OPEC ini memicu kekhawatiran bisa melemahkan kesepakatan kartel ini yang ditujukan untuk menopang kenaikan harga minyak.

 

Adanya kasus Qatar ini berpotensi membuat kebijakan OPEC yang akan memangkas produksi 1,8 juta bph hingga Maret 2018 sulit terlaksana. Jika Qatar kemudian sampai memutuskan keluar dari OPEC, hal ini dapat mempengaruhi struktur pasar migas internasional. Qatar bisa menggenjot produksi lantaran tidak lagi terikat OPEC, pasar global akan semakin kebanjiran migas.

 

Di tengah kondisi pasar migas dunia yang sudah jenuh, Qatar bisa saja memainkan volume migas yang dijualnya, tanpa mempermasalahkan harga migas itu sendiri. Qatar bisa menjual murah produk migasnya supaya terserap pasar. Pelemahan harga minyak juga dipicu data persediaan minyak Amerika Serikat (AS) yang akan dirilis Badan Informasi Energi AS (EIA). EIA meningkatkan prospek produksinya untuk tahun ini dan tahun berikutnya. Produksi minyak mentah AS telah melonjak lebih dari 10% sejak pertengahan 2016 menjadi 9,34 juta bph.

 

Sebagai negara pengimpor minyak yang cukup besar, Indonesia sebenarnya diuntungkan dengan kembali melemahnya harga minyak mentah. Indonesia memiliki potensi untuk memanfaatkan peluang di saat harga minyak sedang anjlok ini. Hal ini mengingat Indonesia masih mengimpor minyak cukup besar guna menutup kebutuhan dalam negeri.

 

Dari total kebutuhan konsumsi minyak sebesar 1,6 juta bph, Indonesia hanya memproduksi sekitar 800 ribu bph di dalam negeri. Selisih kebutuhan minyak ini harus ditutup dengan impor. Dengan harga minyak yang lebih murah, harga jual eceran bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri kemungkinan tidak akan naik.

 

Transaksi perdagangan Indonesia dan Qatar juga tidak besar. Pada kuartal pertama 2017, nilai ekspor Indonesia ke Qatar hanya mencapai US$ 15,39 juta, dan nilai impor dari Negara Teluk itu sebesar US$ 164,91 juta. Indonesia memang menerima kiriman gas minyak cair (liquefied petroleum gas/LPG) dari Qatar, yang pada 2016 mencapai 1,5 juta ton. Namun, Indonesia tidak membeli langsung dari Qatar.

 

Di luar krisis diplomatik Negara-negara Teluk itu, investor lebih mencermati sejumlah isu global yang akan berpengaruh pada volatilitas pasar. Sejumlah peristiwa penting yang ditunggu pasar adalah hasil pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) terkait arah suku bunga acuan bank sentral AS atau Fed Fund Rate (FFR) pada pekan ketiga bulan ini. Investor mengantisipasi kemungkinan FFR dinaikkan dua kali tahun ini.

 

Selain itu, investor juga mencermati pemilu di Inggris hari ini. Pemilu di Inggris akan menghasilkan pemerintahan baru dan diharapkan dapat memberi kepastian tidak mengubah hasil referendum rakyat Inggris keluar dari Uni Eropa (Brexit). Dengan demikian, pasar semakin yakin bahwa tidak akan ada gejolak politik di Inggris.

 

Peristiwa besar yang juga ditunggu- tunngu investor adalah testimony mantan Direktur FBI James Comey di hadapan Komite Intelijen Senat AS hari ini. Investor khawatir testimony Comey ini dapat memicu gejolak politik di Washington dan berujung pemecatan (impeachment) Presiden Donald Trump. Informasi baru yang diungkapkan Comey ialah tentang keterlibatan Presiden Trump dengan intelijen Rusia, sehingga menyebabkan dirinya dipecat. Hal ini dapat membuat dolar AS rentan menghadapi penurunan signifikan.

 

Gejolak politik yang terus memanas di Washington itu telah mendorong investor melakukan aksi jual terhadap mata uang dolar AS berulang kali pada perdagangan kemarin. Adanya berbagai peristiwa penting di seluruh dunia pada pekan ini berpotensi memicu volatilitas pasar.

 

Namun, kita berharap semua peristiwa itu tidak membawa dampak negatif terhadap pasar finansial Indonesia maupun perekonomian nasional. Kita berharap kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang bagus mampu menangkal semua risiko yang datang dari luar. (*)


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!




Data tidak tersedia.