ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Selasa, 21 Februari 2017
BS logo

Indonesia di Kancah Regional dan Global
Jumat, 3 Februari 2017 | 10:57

Diskusi Ekonomi Global. Managing Director, Chief Country Officer Deutsche Bank Indonesia Kunardy Lie(tiga dari kanan) bersama Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Republik Indonesia Luhut Binsar Pandjaitan (tiga dari kiri) serta (ki-ka) Deutsche Bank Asia Pacific Treasurer Andrew Martin, Deutsche Bank Asia Chief Economist Taimur Baig, Direktur Fasilitasi Promosi Daerah BKPM Husen Maulana, dan Managing Director, Head of Global Transaction Banking Deutsche Bank Indonesia Elwin Karyadi (kanan), pada acara Economy and Investment Roundtable 2016 di Jakarta, Kamis (3/11). Salah satu poin diskusi dalam acara tersebut adalah aktivitas positif dalam perekonomian riil Indonesia menciptakan optimisme untuk investasi. Foto ilustrasi: Investor Daily/IST Diskusi Ekonomi Global. Managing Director, Chief Country Officer Deutsche Bank Indonesia Kunardy Lie(tiga dari kanan) bersama Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Republik Indonesia Luhut Binsar Pandjaitan (tiga dari kiri) serta (ki-ka) Deutsche Bank Asia Pacific Treasurer Andrew Martin, Deutsche Bank Asia Chief Economist Taimur Baig, Direktur Fasilitasi Promosi Daerah BKPM Husen Maulana, dan Managing Director, Head of Global Transaction Banking Deutsche Bank Indonesia Elwin Karyadi (kanan), pada acara Economy and Investment Roundtable 2016 di Jakarta, Kamis (3/11). Salah satu poin diskusi dalam acara tersebut adalah aktivitas positif dalam perekonomian riil Indonesia menciptakan optimisme untuk investasi. Foto ilustrasi: Investor Daily/IST

Posisi Indonesia di kawasan Asia Tenggara (Asean) sangatlah penting, baik dari sisi geopolitik maupun ekonomi. Berdasarkan data Bank Dunia tahun 2015, dari total penduduk Asean yang mencapai 630 juta, sebanyak 257 juta atau 40,85% berada di Indonesia.

 

Sedangkan dari total produk domestik bruto (PDB) Asean yang mencapai US$ 2,44 triliun, Indonesia memberi kontribusi sebesar US$ 862 miliar atau 35,35% dari total PDB kawasan ini.

 

Dari 10 negara Asean, nilai ekspor Indonesia berada di urutan kelima terbesar. Dari total nilai ekspor nonmigas Asean sebesar US$ 1,16 triliun pada 2015, nilai ekspor Indonesia yang mencapai US$ 150 miliar berada di bawah Vietnam (US$ 162 miliar), Malaysia (US$ 200 miliar), Thailand (US$ 214 miliar), dan Singapura yang menempati urutan pertama (US$ 351 miliar).

 

Di tengah pelambatan ekonomi dunia, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang rata-rata sebesar 5% berada di urutan ketiga dunia setelah Tiongkok dan India. Dalam laporan terbaru Januari 2017, Bank Dunia memproyeksikan, dalam tiga tahun ke depan, ekonomi Indonesia tumbuh lebih baik dari Negara tetangga Asean seperti Malaysia sebesar 4,3-4,5% dan Thailand 3,2-3,4%.

 

Sedangkan pertumbuhan Filipina diproyeksikan berfluktuasi yakni 6,9% pada 2017, 7,0% pada 2018, dan 6,7% tahun 2019. Kebijakan pemerintah negara-negara di kawasan ini untuk memacu investasi infrastruktur terbukti membuat perekonomian kawasan ini relatif kuat.

 

Indonesia memiliki potensi ekonomi besar dan sangat diperhitungkan pada masa depan. Namun, ancaman utama Indonesia di kawasan ini adalah Vietnam. Ekonomi Vietnam yang tumbuh pesat dalam beberapa tahun terakhir ini merupakan dampak dari kerja sama perdagangan internasional yang dilakukan negara ini. Salah satunya dengan ikut Trans Pacific Partnership (TPP).

 

Selain menjadi salah satu pendiri TPP, Vietnam juga sudah menuntaskan kesepakatan perdagangan dengan Uni Eropa. Karenanya, tak heran bila Vietnam memiliki akses pasar internasional yang lebih luas dibandingkan Indonesia. Sebagai satu kawasan, posisi Asean sangat penting di tataran dunia. Dengan total PDB sebesar US$ 2,44 triliun, ekonomi Asean adalah yang terbesar ketiga di Asia setelah Jepang (US$ 4,12 triliun) dan Tiongkok (US$ 11,00 triliun). Dengan pertumbuhan ekonomi rata-rata 5,3% sepanjang periode 2007-2015, Asean mencatatkan per tumbuhan ekonomi yang kuat secara konsisten.

 

Asean merupakan kawasan tujuan investasi, perdagangan, dan basis produksi perusahaan-perusahaan multinasional. Dengan total penduduk 630 juta dan jumlah kelas menengah yang terus meningkat, Asean adalah pasar terbesar ketiga di dunia yang sangat diperhitungkan.

 

Berdasarkan data yang dirilis Sekretariat Asean, nilai perdagangan kawasan Asean terus meningkat menjadi hampir US$ 1 triliun sepanjang 2014. Pada tahun yang sama, investasi langsung asing atau foreign direct investment (FDI) yang masuk ke kawasan Asean mencapai US$ 136 miliar atau 11% dari total arus masuk FDI global.

 

Sementara itu, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat, total realisasi investasi di Indonesia sepanjang 2016 menembus Rp 612,8 triliun. Jumlah ini melampaui target yang ditetapkan sebesar Rp 594,8 triliun (103%). Capaian investasi 2016 itu terdiri atas realisasi penanaman modal dalam negeri (PMDN) sebesar Rp 216,2 triliun atau naik 20,5% dan realisasi penanaman modal asing (PMA) sebesar Rp 396,6 triliun atau naik 8,4%.

 

Kita mengingatkan pemerintah agar terus meningkatkan iklim investasi agar Indonesia tetap menjadi tujuan utama investasi di kawasan. Pemerintah juga harus meningkatkan kinerja ekspor yang sudah disalip oleh Vietnam. Selain Vietnam, Indonesia juga harus mewaspadai kekuatan ekonomi Myanmar di Asean, terutama dalam menarik investasi asing. Indonesia harus mengamati pergerakan Myanmar yang mulai melakukan reformasi terhadap ekonomi negaranya.

 

Potensi pasar Indonesia yang besar selama ini memang mampu menjadi daya tarik untuk meningkatkan arus modal masuk. Namun, jika iklim investasi tidak dibenahi dan upah buruh terus meningkat, perusahaan-perusahaan multinasional akan memilih negara-negara tetangga sebagai basis produksinya. Apalagi negara-negara tetangga menawarkan kemudahan perizinan dan upah buruh lebih murah.

 

Persoalan yang dihadapi Indonesia saat ini adalah masih lemahnya daya saing dan rendahnya mutu sumber daya manusia (SDM). Di antara negara- negara Asean, kualitas SDM dan ketenagakerjaan Indonesia berada di perangkat kelima di bawah Singapura, Brunei Darussalam, Malaysia, dan Thailand. Dengan kualitas SDM yang rendah, Indonesia tidak akan siap menghadapi persaingan di kancah Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) yang sudah diberlakukan sejak awal 2016. Indonesia hanya akan menjadi pasar bagi negara Asean lainnya.

 

Kita berharap pemerintah Indonesia tidak terlena dengan sejumlah keunggulan yang dimiliki. Pemerintah harus benar-benar membenahi semua ketertinggalan Indonesia agar dapat bersaing di di kawasan Asean dan global. Asean. Peningkatan kualitas SDM akan menjadi kunci bagi Indonesia untuk bisa menjadi pemimpin di Asean. Seperti telah dibuktikan oleh Singapura. Walaupun wilayahnya kecil dan penduduknya sedikit, perekonomian Singapura mampu menjadi yang terbaik di Asean karena didukung kualitas SDM. (*)


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!