ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Minggu, 26 Maret 2017
BS logo

Industri Petrokimia
Rabu, 8 Maret 2017 | 7:46

Sebagian besar sektor industri di Tanah Air berdaya saing rendah. Jangankan bertarung di pasar global atau berkompetisi di pasar regional Asean, bersaing di pasar domestik dengan produk impor pun mereka babak-belur. Industri petrokimia termasuk di antara sektor industri yang masih karut-marut itu.


Seperti industri di dalam negeri pada umumnya, industri petrokimia juga mengalami anomali. Pasar produk petromikia, dari hulu, antara, hingga hilir sangat besar. Namun, pasar domestik dikuasai produk impor. Para produsen petrokimia di dalam negeri kalah bersaing karena harga produk impor jauh lebih murah.


Tak mengherankan jika dari tahun ke tahun, Indonesia mengalami defisit bahan baku industri petrokimia. Jangan heran pula bila industri petrokimia terus-menerus membebani neraca perdagangan Indonesia. Miliaran dolar AS harus dikeluarkan para produsen petrokimia, terutama di hulu dan antara, demi mengimpor bahan baku.


Tak hanya nafta, sebagian bahan baku petrokimia berbasis olefin, seper ti etilena dan propilena, masih diimpor. Hal serupa terjadi pada aromatik dan gas sintesis. Sekadar contoh, kebutuhan etilena saja setiap tahunnya mencapai 1,8 juta ton, tapi hanya bisa dipenuhi dari produksi dalam negeri sebanyak 860 ribu ton, sisanya masih diimpor.


Dengan struktur seperti itu, praktis industri petrokimia nasional sulit bersaing. Karena di hulunya sarat kandungan impor maka industri petrokimia di antara dan hilir, seperti industri plastik, PVC, karet sintetis, nilon, produk farmasi, serat, polimer, pestisida, uria, perekat, alkohol, spiritus, dan formalin menjadi mahal.


Dengan kandungan impor yang tinggi, tak cuma mahal, stabilitas harga produk petrokimia juga kurang terjamin. Begitu harga minyak melambung, harga nafta (hasil sulingan minyak bumi, bahan baku petrokimia) ikut melonjak. Kondisi yang sama terjadi ketika rupiah terdepresiasi. Buntutnya, produk antara dan turuannya ikut bergejolak.


Hal berbeda terjadi pada produsen petrokimia dari negara lain. Mereka mendapat jaminan pasokan dari pasar domestiknya. Alhasil, mereka bukan saja mendapat kepastian bahan baku, tapi juga harga yang lebih murah. Inilah antara lain yang membuat produk impor lebih kompetitif dari produk yang dihasilkan pabrikan dalam negeri.


Celakanya, bukan cuma kurs dan harga minyak yang menekan industri petrokimia di dalam negeri. Tarif perpajakan, terutama bea masuk (BM), juga tak bersahabat pada mereka. Tarif BM yang seharusnya mampu melindungi industri dalam negeri, malah ikut menekan mereka.


Untuk memproteksi industri antara dan hilir petrokimia lewat instrumen tarif, pemerintah sepertinya serba salah. Dalam kondisi bahan baku tak memadai, memproteksi bahan baku akan membut industri antara dan hilir kesulitan berproduksi. Apalagi pada era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) saat ini, semua negara mengusung semangat bebas BM. Cara terbaik yang dapat membantu industri petrokimia di dalam negeri adalah menggenjot investasi, terutama di hulu dan antara.


Maka kita bersyukur manakala PT Pertamina (Persero), PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (CAP), dan PT Lotte Chemical Titan Tbk berencana investasi besar-besaran hingga US$ 14-15 miliar untuk membangun pabrik pengolahan nafta (naphtha cracker) berkapasitas 3 juta ton etilena per tahun berikut produk turunannya.


Jika rencana itu terealisasi, kapasitas produksi etilena nasional bakal naik menjadi 3,9 juta ton dari saat ini 900 ribu ton per tahun. Paling tidak, industri hilir seperti industri plastik bakal terdongkrak. Kebutuhan bahan baku plastik nasional mencapai 5,2 juta ton tahun lalu. Dari jumlah itu, 2,8 juta ton dipasok dari industri nasional, sedangkan sisanya diimpor.


Kebutuhan industri hilir petrokimia dari tahun ke tahun memang meningkat pesat. Pada 2020, misalnya, kutuhan bahan baku plastik diperkirakan mencapai 7-8 juta ton. Dengan meningkatnya kapasitas industri petrokimia, ketergantungan terhadap impor bakal berkurang. Industri hilir dan antara petrokimia, seperti plastik, nilon pupuk, dan farmasi tak bisa dianggap remeh.


Tingginya harga plastik menjadikan produk makanan dan minuman menjadi mahal. Begitu pula tingginya harga nilon, dapat melambungkan harga sandang. Tak terkecuali harga produk farmasi. Jangan lupa, harga pupuk yang mahal juga bisa menyebabkan harga komoditas pertanian tidak kompetitif, sehingga merugikan para petani dan mendorong inflasi.


Dengan demikian, membantu industri petrokimia sesungguhnya bukan hanya menyelamatkan industri turunannya, atau menghemat devisa, neraca perdagangan, dan nilai tukar rupiah, tapi juga menyelamatkan perekonomian nasional secara keseluruhan.


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!