ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Minggu, 26 Maret 2017
BS logo

IORA, Peluang Baru
Selasa, 7 Maret 2017 | 12:37

Wakil Ketua IORA dari Afrika Selatan, Menlu Maite Nkoana Mashabane (kiri), Ketua IORA Menlu Indonesia Retno Marsudi (tengah) dan Menlu Australia Julie Biskop (kanan) berpose bersama setelah konferensi pers pada Pertemuan Tingkat Menteri Samudera India Rim Association (IORA) di Jakarta pada Senin (6/3). Foto:: AFP Wakil Ketua IORA dari Afrika Selatan, Menlu Maite Nkoana Mashabane (kiri), Ketua IORA Menlu Indonesia Retno Marsudi (tengah) dan Menlu Australia Julie Biskop (kanan) berpose bersama setelah konferensi pers pada Pertemuan Tingkat Menteri Samudera India Rim Association (IORA) di Jakarta pada Senin (6/3). Foto:: AFP

Memperingati dua dekade usianya, negara-negara di lingkar Samudera Hindia yang tergabung dalam Indian Ocean Rim Association (IORA) menggelar konferensi tingkat tinggi (KTT) di Jakarta, 5-7 Maret ini. Pertemuan puncak ini adalah inisiatif Indonesia sebagai ketua IORA periode 2015-2017.

 

Berdiri pada 1997, IORA merupakan forum kerja sama antarnegara terbesar di Samudera Hindia, beranggotakan 21 negara yaitu Australia, Afrika Selatan, Bangladesh, Komoros, India, Indonesia, Iran, Kenya, Madagaskar, Malaysia, Mauritius, Mozambik, Oman, Seychelles, Singapura, Somalia, Sri Lanka, Tanzania, Thailand, Uni Emirat Arab, dan Yaman. Hadi pula 7 negara mitra wicara yaitu Amerika Serikat, Inggris, Jepang, Jerman, Mesir, Tiongkok, dan Prancis serta 6 negara mitra IORA anggota G20, yakni Tiongkok, Jerman, Inggris, Jepang, dan Prancis.

 

Keanggotaan itu membuktikan betapa strategisnya peran IORA dalam perekonomian dunia. Seperti diungkapkan Presiden Joko Widodo dalam pidato saat membuka KTT ini bahwa Samudera Hindia adalah samudera masa depan dan masa depan dunia ada di kawasan samudera yang membentang dari selatan Asia hingga Antartika tersebut. IORA memiliki peran yang sangat strategis sebagai forum pendorong stabilitas kawasan.

 

Potensi ekonomi negara-negara yang tergabung dalam IORA memang sangat menjanjikan. Lihat saja, perdagangan intra-regional IORA tahun 2015 mencapai US$ 777 miliar atau naik 300% dibandingkan tahun 1994 yang sebesar US$ 233 miliar. Selain itu, Samudera Hindia merupakan 70% jalur perdagangan dunia, termasuk jalur distribusi minyak dan gas. Bahkan lebih dari setengah kapal kontainer dan dua per tiga kapal tanker minyak dari seluruh dunia melewati kawasan ini.

 

Tidak hanya itu, IORA mencakup kurang lebih 2,7 miliar penduduk atau 35% penduduk dunia. Namun, peran ekspornya baru mencapai 12% pangsa pasar dunia, 10% PDB global, dan 13% tujuan penanaman modal asing (PMA). Sebesar 96% perdagangan intra-IORA dikuasai enam negara, yaitu Singapura, Malaysia, India, Indonesia, Australia, dan Afrika Selatan.

 

Itulah sebabnya, Indonesia harus memanfaatkan sebaik mungkin momentum KTT IORA sebagai strategi untuk ekspansi pasar ekspor. Selama ini, Indonesia seperti kesulitan dalam membuka pasar-pasar baru sebagai strategi diversifikasi, sehingga sangat tergantung pada pasar tradisional seperti Amerika Serikat, Eropa, Jepang, dan belakangan Tiongkok.

 

Padahal, di lingkup IORA terdapat kawasan-kawasan yang potensial, dan peran Indonesia masih relatif kecil. Sebagai contoh, potensi ekspor di pasar Afrika mencapai US$ 550 miliar pada 2016, namun realisasi ekspor Indonesia baru mencapai US$ 4,2 miliar. Demikian juga potensi ekspor ke pasar Timur Tengah yang mencapai US$ 975 miliar, namun Indonesia hanya berperan sebesar US$ 5 miliar.

 

Meski demikian, menembus pasar baru di IORA tentu tidaklah mudah. Kuncinya adalah daya saing produk dan mengetahui persis apa yang dimaui pasar. The Yang lebih penting lagi, sinergi dan kerja sama antara pemerintah dan perusahaan, atau Indonesia Incorporated, merupakan sebuah keniscayaan agar memiliki daya dobrak yang lebih besar dalam menembus pasar.

 

Dalam konteks itu, Indonesia harus memperbanyak produk ekspor yang bernilai tambah, jangan hanya mengandalkan bahan mentah dan komoditas yang sampai saat ini masih terjadi. Itu sebabnya, hilirisasi di semua lini harus dipercepat dan didukung para pelaku usaha. Bersamaan dengan itu, struktur industri harus diperkuat untuk menghasilkan produk yang bernilai tambah dan bersaya saing.

 

Kita tahu bahwa dalam struktur industri nasional, masih banyak yang bolong-bolong, baik itu di industri dasar dan hulu, industri intermediate, maupun industri hilir. Strategi lain untuk menyukseskan ekspor adalah menjalin perjanjian perdagangan bebas (free trade agreement) dengan negara-negara IORA. Sejauh ini, Indonesia sudah menjalin kesepakatan perdagangan bebas dengan sejumlah negara anggota IORA, terutama Asean dan Australia.

 

Intinya, perlu strategi yang komprehensif dalam memanfaatkan potensi ekonomi Negara-negara yang tergabung dalam IORA. IORA adalah kekuatan geopolitik dan geoekonomi yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal, baik untuk perdagangan maupun investasi. Sebagai kawasan masa depan ekonomi dunia, IORA adalah peluang baru yang sangat strategis bagi Indonesia dan sejalan dengan strategi diversifikasi pasar ekspor. (*)


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!