ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Senin, 26 Juni 2017
BS logo

Magnet Jawa Barat
Jumat, 2 Juni 2017 | 9:46

Jawa Barat dan DKI Jakarta kini menjadi daya tarik utama investasi di Tanah Air. Jawa Barat (Jabar) tercatat sebagai provinsi dengan realisasi penanaman modal asing (PMA) paling besar senilai US$ 1,5 miliar atau sekitar Rp 20 triliun pada kuartal I-2017. Sedangkan DKI Jakarta menghimpun realisasi penanaman modal dalam negeri (PMDN) terbesar senilai Rp 11,8 triliun.

 

Menjadi provinsi yang menyerap PMA dan PMDN paling tinggi merupakan sebuah kemajuan bagi Jabar dan DKI. Apalagi DKI pada kuartal I-2017 juga menempati peringkat ke-2 untuk realisasi PMA dan Jabar ke-3 untuk realisasi PMDN. Pada kuartal I-2016, DKI hanya berada di peringkat ke-6 realisasi PMDN dan ke-4 PMA.

 

Adapun Jabar menempati urutan ke-2 realisasi PMA dan ke-3 PMDN. Kontribusi Jabar dan DKI terhadap total investasi di Tanah Air sangat signifikan. Total jenderal, realisasi PMA dan PMDN di Jabar dan DKI masingmasing mencapai Rp 29,3 triliun dan Rp 24,2 triliun pada kuartal I-2017. Jabar berkontribusi sekitar 17,7%, sedangkan DKI menyumbang 14,6% terhadap total realisasi PMA dan PMDN pada tiga bulan pertama tahun ini senilai Rp 165,8 triliun.

 

Atas pencapaian itu, Jabar sepertinya akan kembali mendominasi realisasi PMA dan PMDN tahun ini yang ditargetkan tumbuh 11% dibanding tahun lalu atau mencapai Rp 678,8 triliun. Tahun lalu, Jabar juga tercatat sebagai provinsi dengan realisasi PMA dan PMDN terbesar. Dari realisasi PMDN dan PMA pada 2016 sebesar Rp 612,8 triliun, sekitar 17,18%-nya disumbang Jabar.

 

Realisasi PMDN berdasarkan jumlah proyek pada kuartal I-2017 didominasi sektor industri makanan, sektor perdagangan dan reparasi, sektor listrik, gas, dan air, serta sektor tanaman pangan dan perkebunan. Adapun realisasi PMA pada periode sama didominasi sektor perdagangan dan reparasi, sektor jasa lainnya, sektor hotel dan restoran, serta sektor industri makanan.

 

Dominasi Jabar sebagai provinsi dengan realisasi investasi langsung (direct investment) terbesar bisa dipahami. Jabar punya sejumlah kawasan industri, salah satunya di Cikarang, Kabupaten Bekasi, yang merupakan pusat industrialisasi nasional. Dari kawasan inilah lebih dari satu juta mobil, 10 juta sepeda motor, jutaan kulkas, TV, dan berbagai alat rumah tangga lain diproduksi setiap tahunnya oleh ribuan perusahaan raksasa nasional dan multinasional.

 

Magnet Cikarang kian kuat karena di kawasan ini sedang dibangun kota modern, Meikarta, yang ditargetkan menjadi kota industri manufaktur terbesar dan termegah di Asia Tenggara, menyerupai kota industri Shenzhen di RRT dan kota otomotif Detroit di AS. Megaproyek yang dibangun Grup Lippo dengan investasi Rp 278 triliun dan terdiri atas 200 gedung pencakar langit ini akan semakin menjadikan Jabar sebagai primadona investasi.

 

Daya pikat Cikarang berikut Meikarta- nya tak terbantahkan. Kawasan yang dikelilingi beberapa kota baru, seperti Lippo Cikarang, Jababeka, dan MM2100, ini persis berada di koridor Jakarta-Bandung yang merupakan jantung ekonomi Indonesia. Sekitar 60% ekonomi nasional terkonsentrasi di Jakarta-Botabek-Bandung, di mana 70%-nya berada di Bekasi-Cikarang, dengan jumlah penduduk ditaksir mencapai 15 juta jiwa dalam 20 tahun mendatang.

 

Ke depan, daya tarik Jabar –khususnya kawasan industri Cikarang—sebagai tujuan investasi makin menjadi-jadi karena di kawasan itu bakal dibangun infrastruktur strategis. Infrastruktur dimaksud antara lain kereta api (KA) cepat Jakarta-Bekasi-Cikarang- Bandung, Pelabuhan Internasional Patimban, Bandara Internasional Kertajati, tol layang Jakarta, monorel yang menyatukan tujuh kota baru, serta KA double-double track.

 

Tentu saja kita mendukung keberadaan Jabar, termasuk kawasan industri Cikarang, sebagai primadona investasi. Karena kegiatan manufaktur terkonsentrasi di sana, pemerintah harus terus ‘memoles’ Jabar agar lebih menggiurkan bagi para investor. Pemerintah harus memberikan lebih banyak insentif fiskal di kawasan industri, mempermudah perizinan investasi, dan menciptakan iklim investasi yang kondusif di sektor ketenagakerjaan.

 

Dukungan terhadap Jabar, dengan kawasan industri Cikarang-nya, tak semata berkaitan dengan kegiatan ekonomi dan manufaktur, tapi juga tata ruang dan demografi. Dalam beberapa dekade mendatang, DKI yang cuma seluas 664 km2 dipastikan tak kuat lagi menahan beban demografi. Penduduk DKI yang pada 2015 berjumlah 10,17 juta jiwa bakal terus bertambah. Dengan pertumbuhan rata-rata 16% per 10 tahun, tingkat kepadatan penduduk DKI pada 2014 mencapai 15 ribu jiwa per km2.

 

Kepadatan penduduk yang tinggi berimplikasi pada banyak hal negatif, dari mulai kemacetan lalu lintas, kesemerawutan kota, hingga kriminalitas. Maka Jabar lewat industri Cikarang- nya bisa mengambil sebagian beban DKI. Kota-kota modern di Cikarang, terutama Meikarta, bisa menjadi solusi bagi kepadatan penduduk DKI.

 

Dari sisi hunian, apartemen di sana juga bisa membantu pemerintah mengurangi backlog hunian yang saat ini mencapai 15 juta unit. Lebih dari itu, keberadaan kota terpadu di Cikarang bisa mengurangi kepadatan lalu lintas di DKI. Proyek kota baru bahkan bisa memacu pertumbuhan ekonomi di kawasan timur Jakarta, sehingga proyek ini turut membantu pemerintah dalam mendorong pemerataan ekonomi serta mengurangi angka pengangguran dan kemiskinan.

 

Jika sebagian teralihkan ke Jabar, beban DKI bakal berkurang. Dengan begitu, DKI akan menjadi kota megapolitan yang lebih sehat, efisien, terkelola dengan baik, dan manusiawi. (*)


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!




Data tidak tersedia.