ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Sabtu, 24 Juni 2017
BS logo

Memasuki Fase Ekspansi
Senin, 12 Juni 2017 | 10:15

Kota mandiri Meikarta yang tidak jauh dari gerbang Tol Cibatu, Bekasi di Km 34+700 Tol Jakarta - Cikampek mulai dibangun. Foto: Investor Daily/PRIMUS DORIMULU Kota mandiri Meikarta yang tidak jauh dari gerbang Tol Cibatu, Bekasi di Km 34+700 Tol Jakarta - Cikampek mulai dibangun. Foto: Investor Daily/PRIMUS DORIMULU

Setelah empat tahun di masa slow down, 2013-2016, ekonomi Indonesia segera memasuki fase ekspansi, selambatnya tahun 2018. Para pelaku bisnis optimistis, laju pertumbuhan ekonomi tahun depan bisa di atas 6%. Sejumlah korporasi, antara lain, Grup Lippo, sudah mulai ekspansi. Belanja modal meningkat signifikan seperti terlihat pada data capex atau belanja modal yang diumumkan perusahaan terbuka yang tercatat di Bursa Efek Indonesia.

 

Memacu laju pertumbuhan ekonomi hingga di atas 6% adalah pilihan yang harus diambil pemerintah. Dari sisi moneter, upaya mendongkrak laju pertumbuhan ekonomi tidak ada masalah. Perbankan pun sudah bisa mendukung dengan peningkatan ekspansi kredit karena non performing loan (NPL) yang sempat mendera sudah bisa mulai mereda. Konsolidasi korporasi sudah hampir selesai.

 

Nilai tukar rupiah sudah relatif stabil pada kisaran Rp 13.250-Rp 13.370 per dolar AS. Tahun lalu, 2016, rupiah apresiasi terhadap doar AS hingga 2,25%, sedang tahun ini, Januari-6 Juni 2017, rupiah menguat 1,37% terhadap dolar AS. Neraca pembayaran Indonesia (NPI) pada kuartal pertama 2017 menunjukkan surplus US$ 4,5 miliar, jauh beda dengan kuartal pertama 2016 yang minus US$ 0,3 miliar. Surplus NPI tak lepas dari defisit current account (CA) atau neraca transaksi berjalan yang turun dari minus US$ 4,7 miliar kuartal pertama 2016 ke minus US$ 2,4 miliar kuartal pertama 2017.

 

Lonjakan surplus NPI juga disebabkan oleh membaiknya neraca modal. Selama 2016, dana investasi langsung yang masuk Indonesia menembus US$ 16 miliar, sedang investasi portofolio US$ 19 miliar. Pada kuartal pertama 2017, dana investasi portofolio yang masuk ke dalam negeri mencapai US$ 6,5 miliar. Ke depan, capital inflow diperkirakan bakal semakin deras usai predikat investment grade atau peringkat layak investasi yang diperloleh Indonesia dari S&P.

 

Gejolak moneter yang sempat terjadi tahun 2015 hingga awal 2016 kini mereda. Cadangan devisa yang dikuasai Bank Indonesia (BI) cukup stabil di level US$ 123 miliar. Posisi cadangan devisa sebesar ini cukup untuk membiayai impor 8,5 bulan. Permintaan terhadap dolar tidak lagi sebesar tahun lalu. Korporasi besar sudah mampu mengelola utang luar negerinya, antara lain, dengan mekanisme hedging. Dari sisi pasokan, surplus neraca perdagangan yang terus membesar cukup untuk memperkuat cadangan devisa.

 

Laju inflasi relatif stabil. Selama 2016, laju inflasi hanya 3,02% dan pada 2017, Januari-Mei, laju inflasi 1,67% dan yoy 4,3%. BI memperkirakan, kenaikan indeks harga konsumen tahun ini bisa terkendali di level 4% plus-minus%. Inflasi yang relatif rendah disebabkan oleh gejolak kenaikan harga pangan yang bisa dikendalikan, berfungsinya Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPDI), dan kenaikan administered price yang minim. NPL perbankan yang sempat di atas 3%, pada bulan Mei 2017 sudah turun ke level 2,9%.

 

Laju pertumbuhan kredit yang pada tahun 2016 hanya 8,4%, pada kuartal pertama 2017 sudah tumbuh 9,2%. Ditopang bunga pinjaman yang rata-rata di bawah 10%, laju ekspansi kredit tahun ini bisa di atas 12%. Jika BI memperkirakan laju pertumbuhan ekonomi 2018 sebesar 5,2%- 5,5%, pemerintah dalam penyusunan RAPBN 2018 menggunakan asumsi laju pertumbuhan ekonomi 5,6%- 6,1%. Kalangan pelaku usaha yakin, pada tahun 2018, laju pertumbuhan ekonomi bisa di atas 6%. Ekonomi dunia umumnya menunjukkan tren membaik.

 

Prediksi laju pertumbuhan ekonomi beberapa kali direvisi naik oleh IMF dan Bank Dunia. Ekonomi Eropa dan AS relatif tetap. Tapi, ekonomi Jepang tahun 2018 diperkirakan membaik, mencapai 1%, naik dari prediksi sebelumnya 0,5%. Ekonomi Tiongkok dan negara-negara pasar berkembang diperkirakan naik.

 

Secara umum, laju pertumbuhan ekonomi dunia tahun depan diperkirakan 3,6%, naik dari 3,4% tahun ini. Data BPS menunjukkan, setelah bertumbuh di atas 6% pada tahun 2010-2012, ekonomi Indonesia hanya naik 5,6%, 5,02%, dan 4,8% tahun 2013, 2014, dan 2015. Namun, pada 2016, laju pertumbuhan ekonomi Indonesia kembali naik ke level 5,02%. Petumbuhan ekonomi 2010-2012 didongkrak oleh kenaikan harga komoditas di pasar global dan derasnya aliran dolar AS ke Indonesia akibat kebijakan quantitative easing yang diambil pemerintah Amerika.

 

Laju pertumbuhan ekonomi Indonesia langsung menurun menyusul jatuhya harga komoditas dan kebijakan tapering off atau penghentian pemompaan dolar AS ke likuiditas perekonomiannya yang dikenal dengan quantitative easing. Struktur perekonomian Indonesia yang masih tergantung pada ekspor komoditas tak mampu mengangkat laju pertumbuhan ekonomi. Wilayah yang terpukul adalah Sumatera dan Kalimantan, dua pulau yang hingga kini masih mengandalkan ekspor komoditas pertambangan dan CPO.

 

Ekonomi Indonesia juga masih menunjukkan ketimpangan antarwilayah yang serius. Sekitar 58% PDB Indonesia dikontribusi Jawa, sedang Sumatera 22%. Pangsa PDB kedua wilayah ini mencapai 80% dari total PDB nasional. Karena itu, ketika Jawa terpukul oleh melambatnya pertumbuhan industri manufaktur, antara lain, akibatnya jatuhnya harga komoditas di Sumatera dan Kalimantan, ekonomi nasional terpukul.

 

Setelah S&P memberikan predikat investment grade, indikator ekonomi makro membaik, dan konsolidasi korporasi dan perbankan hampir selesai, Indonesia segera masuk fase ekspansi. Sektor infrastruktur, properti, manufaktur, dan pariwista akan ekspansi. Grup Lippo mengumumkan pembangunan kota baru di Cikarang, Meikarta, dengan nilai investasi Rp 278 triliun. Pada tahun 2018 hingga empat-lima tahun selanjutnya, empat sektor ini akan bertumbuh pesat. Ini sinyal bahwa saham sektor infrastruktur, properti, dan manufaktur yang kini sudah undervalued perlu mulai dikoleksi oleh para investor. (*)


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!




Data tidak tersedia.