ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Minggu, 26 Maret 2017
BS logo

Menanti Keputusan The Fed
Jumat, 10 Maret 2017 | 10:15

Kabar bahwa bank sentral Amerika Serikat (AS) akan menaikkan suku bunga acuannya kini paling ditunggu pelaku pasar. Ekspektasi kenaikan FFR meningkat drastis dalam beberapa hari terakhir. Kenaikan suku bunga acuan Federal Reserve atau Fed Fund Rate (FFR) itu pun sudah diisyaratkan oleh Janet Yellen, chairman The Fed.

 

Keputusan kenaikan FFR akan diumumkan setelah pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) 14-15 Maret waktu setempat. FOMC adalah lembaga pembuat kebijakan dalam Sistem Federal Reserve. Dua faktor kunci yang mengarah penaikan FFR adalah pencapaian sasaran utama penyerapan tenaga kerja baru dan inflasi yang hamper mendekati 2%. Data-data ekonomi yang positif itu mendorong spekulasi bahwa The Fed bakal bergerak lebih agresif.

 

The Fed diperkirakan menaikkan suku bunga acuannya tiga kali tahun ini dengan besaran masing-masing 25 basis poin. Jika terbukti dinaikkan pekan depan, FFR akan berada dalam kisaran 0,75-1% dan akan menjadi penyesuaian FFR pertama sejak Donald Trump menjabat Presiden AS. Kenaikan FFR berikutnya kemungkinan besar terjadi pada Juli 2017 dan Desember 2017. FFR terakhir kali dinaikkan sebesar 25 basis poin pada 14 Desember 2016.

 

Kenaikan FFR, yang dinanti dengan rasa khawatir oleh pelaku pasar, membawa dampak bagi negaranegara yang perekonomian dan pasarnya sangat terkait langsung dengan Amerika Serikat, termasuk Indonesia. Selain kenaikan bunga The Fed, kondisi dan kebijakan ekonomi pemerintahan Trump juga sangat ditunggu investor.

 

Kenaikan bunga The Fed akan berdampak terhadap ekonomi global. Ini karena The Fed masih menjadi bank sentral paling penting di dunia dan menjadi tolok ukur bagi suku bunga di setiap aset financial yang lain. Kenaikan FFR akan mengakhirisi era dana super-murah. Terbukti, rezim suku bunga sangat rendah selama ini telah menghasilkan deflasi. Dengan kenaikan bunga The Fed, harga-harga akan mulai naik dan inflasi yang sekian tahun terakhir terus rendah juga akan mulai merangkak naik.

 

Selain itu, kenaikan bunga The Fed akan mendongkrak suku bunga simpanan. Akibatnya, kebijakan moneter ini bakal mendorong orang untuk menabung lebih banyak, khususnya di negara-negara maju karena ingin mendapatkan imbal hasil yang lebih baik. Kenaikan FFR juga bakal menimbulkan tekanan anggaran terhadap pemerintah di seluruh dunia. Yang juga perlu dicermati adalah lonjakan nilai tukar dolar AS yang bakal naik tajam apabila FFR dinaikkan.

 

Dampak yang sangat terasa adalah di Eropa, dimana investor tidak akan lagi mau mendapatkan bunga nol atau malah negatif di Eropa, sedangkan di AS masih bisa mendapatkan imbal hasil 4%. Bagi Indonesia, kenaikan suku bunga The Fed kemungkinan bisa berdampak pada nilai tukar rupiah, indeks harga saham gabungan (IHSG), dan surat berharga Negara (SBN). Dampak terhadap indikatorindikator tersebut bakal menimbulkan pengaruh terhadap pelarian modal atau capital outflow.

 

Meski pada perdagangan Kamis (9/3) kemarin dana asing masuk ke pasar saham Indonesia atau net buy sebesar Rp 156,6 miliar, tapi sepanjang tahun ini atau year to date (ytd), dana asing yang keluar atau net sell sudah mencapai Rp 1,14 triliun. Sedangkan IHSG mencatatkan kenaikan 2% secara year to date. Tahun lalu, IHSG mampu tumbuh 15,32%.

 

Kita berharap dampak kenaikan FFR kali ini hanya berlangsung dalam jangka pendek atau sebentar sehingga efeknya tidak terlalu besar dibandingkan kenaikan sebelumnya. Apalagi pelaku pasar pun sudah mengekspektasi kenaikan FFR pada pertengahan bulan ini, seiring perbaikan data-data ekonomi AS. Kita juga berharap investor asing masih bisa mengandalkan Indonesia sebagai tujuan investasi. Indonesia masih menjadi tempat yang atraktif bagi investor asing karena dapat memberikan imbal hasil (rate of return) yang lebih tinggi.

 

Di samping itu, fundamental ekonomi Indonesia terbilang bagus sehingga diharapkan juga mampu menahan goncangan yang ditimbulkan dari kenaikan FFR. Cadangan devisa dan perbaikan rating Indonesia dari berbagai lembaga pemeringkat dapat mengokohkan fundamental ekonomi domestic dari turbulensi global. Faktor lain yang menjadi daya tarik investor asing ke Indonesia antara lain nilai kurs yang masih terjaga, inflasi yang masih terkendali, credit default swap yang cederung menurun sehingga risiko semakin rendah, serta pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi.

 

Indonesia juga masih bisa menjadi magnet investasi portofolio global karena menerapkan suku bunga tinggi. Sebaliknya, negara-negara lain di regional justru menerapkan suku bunga acuan negatif. Sejumlah sector bisa menjadi target utama investor. Contohnya sektor konsumsi yang didorong oleh masih besarnya permintaan domestik dan regulasi yang mendukung, di antaranya industry makanan, kendaraan bermotor, farmasi, dan jasa.

 

Selain itu, sektor yang berhubungan dengan infrastruktur, seperi konstruksi, industri berat, serta properti. Hal ini terkait dengan kebijakan pemerintahan Presiden Joko Widodo yang terus menggenjot pembangunan infrastruktur.


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!