ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Jumat, 24 Maret 2017
BS logo

Mendorong IPO
Jumat, 17 Februari 2017 | 9:00

Minat pemodal terhadap saham-saham baru di pasar perdana atau initial public offering (IPO) tetap tinggi.  Foto ilustrasi: Investor Daily/DAVID GITA ROZA Minat pemodal terhadap saham-saham baru di pasar perdana atau initial public offering (IPO) tetap tinggi. Foto ilustrasi: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

Volatilitas pasar saham dan berlarut- larutnya ketidakpastian ekonomi global tak melunturkan minat para pengusaha untuk mencatatkan saham perusahaannya di Bursa Efek Indonesia (BEI). Sekitar 10 perusahaan siap melangsungkan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham hingga akhir Maret mendatang.

 

Rencana IPO 10 perusahaan pada kuartal I-2017 cukup melegakan. Jika terealisasi, IPO tersebut akan menjadi ice breaker bagi rencana IPO-IPO selanjutnya. Dengan asumsi setiap kuartal ada 10 IPO, berarti akan ada 40 perusahaan yang menggelar IPO hingga akhir 2017, melampaui target otoritas bursa sebanyak 35 perusahaan.

 

Di luar volatilitas pasar saham dan berlarut-larutnya ketidakpastian ekonomi global –terutama akibat kebijakan ekonomi Amerika Serikat (AS) yang belum jelas, tak ada alasan bagi para pengusaha untuk takut go public. Tak ada alasan pula untuk khawatir saham IPO-nya tidak laku atau tidak diserap pasar.

 

Banyak faktor yang bakal meningkatkan minat IPO tahun ini, salah satunya fundamental ekonomi Indonesia yang kokoh. Tahun ini, perekonomian nasional diprediksi tumbuh lebih baik. Meski dalam asumsi APBN dipatok 5,1%, pertumbuhan ekonomi 2017 digadang-gadang mencapai 5,4% dibanding tahun lalu 5,02% dari target 5,2%. Dalam kondisi ekonomi global yang karut-marut seperti sekarang, negara yang perekonomiannya tumbuh 5% bisa dihitung dengan jari.

 

Faktor lainnya, iklim politik dan sosial di dalam negeri sangat kondusif. Buktinya, pemilihan kepala daerah (pilkada) yang digelar serentak pecan ini berlangsung aman dan tertib. Itu mengindikasikan masyarakat Indonesia semakin matang dalam berpolitik dan berdemokrasi. Dengan iklim politik dan sosial yang kondusif, perekonomian akan tumbuh lebih pesat dan berkesinambungan (sustainable).

 

Faktor lain yang tak kalah penting, pasar saham domestik sangat atraktif. Tahun lalu, indeks harga saham gabungan (IHSG) di BEI mencatatkan pertumbuhan terbaik ke-2 di kawasan Asia Pasifik dan peringkat ke-5 di dunia. Bahkan IHSG pada 2010 tercatat sebagai indeks saham yang menorehkan pertumbuhan paling tinggi di dunia.

 

Daya tarik pasar saham domestic belum pudar. IHSG yang kini di posisi 5.377 berpotensi menguat ke level 6.000-6.500 pada akhir tahun. Salah satu pemicunya adalah kenaikan harga komoditas andalan Indonesia, seperti batubara, minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO), karet, dan komoditas alam lainnya yang menunjukkan tren penguatan secara konsisten dalam beberapa bulan terakhir.

 

Di luar itu, menjadi perusahaan publik yang sahamnya tercatat di bursa sudah menjadi kebutuhan. Dengan menjadi perusahaan publik, korporasi akan terdorong untuk menerapkan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance/ GCG) sebagaimana diwajibkan otoritas bursa. Semakin baik tata kelola sebuah perusahaan, semakin tinggi pula peluangnya untuk bertahan dan menghasilkan keuntungan.

 

Minat IPO akan naik berlipat ganda jika BEI dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memangkas berbagai prosedur dan biaya, baik selama proses IPO maupun setelah menjadi emiten. Panjangnya prosedur dan mahalnya biaya yang harus dikeluarkan emiten membuat sebagian perusahaan berpikir dua kali untuk melantai di bursa.

 

Kecuali biaya IPO (initial listing fee), emiten dikenai biaya tahunan (annual listing fee) dan kewajiban lain, termasuk dana setoran kepada OJK. Kita bersyukur BEI dan OJK berencana memangkas biaya-biaya emiten, dari mulai biaya IPO, annual listing fee, hingga dana setoran OJK. Pemangkasan biaya juga akan berlaku bagi perusahaan-perusahaan penunjang pasar modal, seperti manajer investasi, sekuritas, pemeringkat efek, dan bank kustodian. BEI dan OJK bahkan berniat memangkas prosedur IPO agar lebih efisien.

 

Terobosan OJK dan BEI sangat diperlukan, mengingat jumlah emiten di bursa saham domestik kalah jauh dari negara-negara tetangga. Dengan produk domestik bruto (PDB) sekitar US$ 862 miliar, Indonesia hanya punya 535 emiten. Padahal, Malaysia yang PDB-nya hanya US$ 296 miliar punya 806 emiten, Singapura ber-PDB US$ 293 miliar memiliki 774 emiten, dan Thailand punya 722 emiten meski PDB-nya cuma US$ 395 miliar. Jumlah investor di pasar modal kita juga masih tertinggal. Jika Malaysia punya 3-4 juta investor atau hamper 15% dari populasi dan Singapura punya 1,5 juta investor atau 30% lebih dari populasi, Indonesia baru punya sekitar 500 ribu investor atau cuma 0,2% dari populasi yang mencapai 250 juta jiwa. Potensi jumlah emiten Indonesia sejatinya sangat besar.

 

Saat ini terdapat 5.000 perusahaan di Tanah Air yang layak menjadi perusahaan tercatat di bursa (listed company). Itu di luar 70 perusahaan multinasional yang beroperasi dan meraup keuntungan dari Indonesia namun sahamnya tercatat di bursa negara-negara lain.

 

Jumlah emiten akan berbanding lurus dengan jumlah investor. Semakin banyak jumlah emiten, akan semakin banyak pula jumlah investornya, terutama investor domestik. Jumlah pemodal domestik memang harus digenjot karena turut menentukan kualitas bursa. Saat ini saja, dengan porsi investor domestikasing 51-49%, asing mengendalikan pasar saham kita. Faktanya, bursa saham kita lebih banyak ditentukan isu-isu global dibandingkan sentiment dalam negeri.

 

Kita percaya, jika debirokratisasi dan efisiensi biaya benar-benar diterapkan di bursa, akan semakin banyak perusahaan mencatatkan saham (listing) di BEI. Sebaliknya, bakal semakin sedikit perusahaan yang menghapus saham atau keluar dari bursa (delisting). Maka otoritas bursa dan otoritas pasar modal harus segera merealisasikan janji-janjinya. Mengapa harus menunggu berlama-lama?


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!