ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Jumat, 24 Februari 2017
BS logo

Optimisme Investasi
Rabu, 8 Februari 2017 | 11:04

Pamor investasi Indonesia tahun ini akan lebih berkilau. Dalam ancar-ancar pemerintah, investasi langsung (direct investment) pada 2017 bakal meningkat lebih pesat dibanding tahun silam. Pada 2016, realisasi penanaman modal dalam negeri (PMDN) dan penanaman modal asing (PMA) mencapai Rp 612,8 triliun, meningkat 12,4% dibandingkan 2015.

Optimisme pemerintah cukup beralasan. Banyak faktor yang akan membuat investasi di dalam negeri meningkat. Salah satunya, perbankan membuka keran pinjaman lebih lebar, sehingga kredit bakal memancar lebih deras. Jika tahun lalu hanya tumbuh 9%, kredit tahun ini diestimasikan tumbuh 12%. Berbekal suntikan kredit perbankan, investor akan agresif berekspansi.

Faktor kedua yang akan membuat investasi tahun ini lebih ’nendang’ adalah besarnya belanja modal BUMN. Perusahaan-perusahaan pelat merah tahun ini ditargetkan menggelontorkan belanja modal (capital expenditure/capex) sekitar Rp 510 triliun, naik 28% dari tahun lalu. Itu belum termasuk penanaman modal negara (PMN) yang diinjeksikan pemerintah.

Besarnya belanja modal perusahaan-perusahaan BUMN bakal menjadi pengungkit (leverage) bagi investasi swasta. Pelaku bisnis di sektor swasta akan terdorong mengalokasikan capex dalam jumlah besar dan agresif berekspansi. Ibarat rangkaian kereta api, capex BUMN adalah lokomotif, sedangkan capex swasta merupakan gerbongnya. Semakin kuat daya pacu lokomotif, semakin banyak gerbong yang bisa ditarik.

Faktor lain yang tak kalah penting adalah belanja modal pemerintah dan anggaran infrastruktur dalam APBN. Meski dalam APBN 2017 belanja modal turun 5,95% dibanding tahun sebelumnya menjadi Rp 194,3 triliun, pemerintah menggenjot anggaran infrastruktur hingga 22% menjadi Rp 387,3 triliun. Seperti capex BUMN, belanja modal APBN dan anggaran infrastruktur akan memicu investasi swasta.

Membaiknya investasi langsung akan mendongkrak investasi portofolio di dalam negeri, khususnya di pasar saham dan obligasi. Peningkatan PMA dan PMDN mengindikasikan kepercayaan investor terhadap iklim investasi di Tanah Air meningkat, sehingga para investor di pasar modal semakin nyaman berinvestasi karena portofolionya kian menguntungkan dalam jangka panjang.

Meningkatnya investasi langsung dan portofolio pada gilirannya akan memperkokoh fundamental ekonomi nasional. Cadangan devisa bertambah, rupiah stabil, inflasi terjaga, tenaga kerja banyak terserap, daya beli masyarakat meningkat, dan ekonomi bertumbuh. Angka pengangguran dan kemiskinan juga bakal menurun.

Tentu saja masih banyak faktor lain yang akan membuat pamor investasi Indonesia semakin cemerlang. Misalnya jika tren kenaikan harga komoditas berlangsung terus sepanjang tahun atau jika program pengampunan pajak (tax amnesty) periode akhir membuahkan hasil di atas ekspektasi. Juga bila lembaga pemeringkat internasional Standard and Poor’s (S&P) menaikkan peringkat Indonesia ke level layak investasi (investment grade).

Maka yang harus dilakukan pemerintah saat ini adalah menjaga agar iklim investasi di Tanah Air tetap atraktif. Perbankan harus didorong melalui peraturan-peraturan yang kondusif agar mampu menyalurkan kredit lebih besar kepada sektor riil secara berkesinambungan. Belanja modal BUMN dan PMN juga harus segera direalisasikan dengan tetap mengedepankan tata kelola yang baik (good governance) agar tidak menimbulkan sengkarut di kemudikan hari.

Tak kalah penting, pemerintah harus meningkatkan kualitas belanja modal APBN. Tradisi kejar tayang atau menggenjot belanja pada akhir tahun di kalangan kementerian atau lembaga (K/L) harus dihilangkan agar APBN tidak saja menjadi stimulan bagi pertumbuhan ekonomi yang berkualitas, tapi juga menjadikannya lebih kredibel dan akuntabel. Hal yang sama berlaku bagi pengelolaan APBD di daerah.

Pemerintah pun harus merealisasikan belanja infrastruktur secara tepat waktu, tepat proyek, dan tepat anggaran. Jangan lagi ada kabar proyek infrastruktur mangkrak atau tertunda karena alasan-alasan klise, seperti terkendala pembebasan lahan, anggaran tak kunjung cair, atau tersandung sengketa hukum.

Jangan lupa pula, pemerintah sudah merilis 14 paket kebijakan ekonomi. Paket-paket tersebut harus sudah membuahkan hasil. Karena sebagian besar paket kebijakan ekonomi mencakup kemudahan investasi, dampak keberhasilannya akan menjadi modal besar bagi pemerintah untuk menarik investasi, termasuk meyakinkan S&P agar memberikan peringkat layak investasi kepada Indonesia. Peringkat layak investasi dari S&P akan menjadikan negeri ini sebagai magnet investasi.

Selain itu, pemerintah tidak boleh kendur mengimplementasikan program tax amnesty. Ada kesan, pemerintah hanya menggebu-gebu pada periode awal. Target repatriasi Rp 1.000 triliun harus terus dikejar karena yang terealisasi sejauh ini baru sekitar Rp 140,5 triliun. Agar lebih maslahat, dana-dana repatriasi harus diarahkan ke sektor-sektor investasi padat karya dan memiliki nilai tambah tinggi terhadap perekonomian.

Dengan alasan apa pun, investasi memang harus naik. Itu jika pemerintah menginginkan pertumbuhan ekonomi tahun ini lebih tinggi dari tahun lalu yang mencapai 5,02%. Selama ini, investasi langsung atau pembentukan modal tetap bruto (PMTB) hanya berkontribusi sekitar 32,5% terhadap produk domestik bruto (PDB). Dengan kontribusi sebesar itu, sulit bagi pemerintah memangkas jumlah penduduk miskin dan pengangguran terbuka yang masing-masing masih 27,76 juta dan 7,03 juta jiwa. (*)


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!