ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Jumat, 24 Februari 2017
BS logo

Penilaian Positif Ekonomi RI
Jumat, 10 Februari 2017 | 13:41

Perekonomian Indonesia yang terus membaik mendapat penilaian positif dari sejumlah lembaga internasional. Di tengah kondisi global yang masih diliputi ketidakpastian, ekonomi Indonesia mampu mencatatkan pertumbuhan 5,02% pada tahun lalu. Sedangkan untuk tahun ini, kondisi ekonomi Indonesia akan lebih baik.

 

Belum lama ini, Dana Moneter Internasional (IMF) memberi pujian terhadap pemerintah Indonesia karena berhasil menjaga stabilitas makro ekonomi dan mampu menyesuaikan dengan perubahanperubahan yang terjadi di lingkungan eksternal selama 2016. IMF menilai, meski menghadapi sejumlah risiko, outlook perekonomian Indonesia positif dan sekarang ini kondisinya lebih baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya dalam menghadapi lingkungan eksternal.

 

Sementara itu, pada Rabu (8/2) lalu, lembaga pemeringkat Moody’s Investors Service (Moody’s) telah memperbaiki outlook sovereign credit rating Indonesia dari stabil menjadi positif, sekaligus mengafirmasi rating pada Baa3 (investment grade). Moody’s menyatakan terdapat dua faktor kunci yang mendukung perbaikan outlook sovereign credit rating Indonesia. Pertama, penurunan kerentanan sektor eksternal yang diperkirakan terus berlanjut sebagai dampak dari kebijakan otoritas Indonesia. Kedua, perbaikan kelembagaan melalui peningkatan efektivitas kebijakan.

 

Sebelumnya, awal November 2016, lembaga pemeringkat internasional yang lain, Fitch Ratings, menegaskan sovereign credit rating Indonesia di posisi BBB- dengan outlook stabil (investment grade). Penegasan Fitch itu meneguhkan kembali pengakuan terhadap komitmen otoritas Indonesia untuk melanjutkan reformasi struktural di tengah ketidakpastian ekonomi global.

 

Penilaian positif dari lembaga internasional itu menandakan bahwa pemerintah Indonesia dianggap bisa mengelola perekonomian dengan baik dan berhasil mengatasi beberapa risiko yang dipicu oleh ketidakpastian global. Pemerintah juga dianggap konsisten melakukan reformasi struktural perekonomian. Karena penilaian positif tersebut, investor akan semakin percaya untuk menanamkan dananya di Indonesia.

 

Didukung oleh sejumlah factor positif, aliran modal asing (capital inflow) baik ke sektor riil maupun portofolio tahun ini diharapkan bakal lebih tinggi lagi. Tahun lalu, aliran dana asing yang masuk ke pasar saham Indonesia atau net buy tercatat sebesar Rp 16,17 triliun. Angka tersebut lebih tinggi dari tahun sebelumnya yang mencatatkan aksi jual bersih (net sell) hingga Rp 22,5 triliun.

 

Sementara itu, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat realisasi investasi sepanjang 2016 mencapai Rp 612,8 triliun, meningkat 12,4% dibandingkan realisasi 2015 sebesar Rp 545,4 triliun. Dari jumlah itu, realisasi investasi penanaman modal dalam negeri (PMDN) sebesar Rp 216,2 triliun dan realisasi penanaman modal asing (PMA) Rp 386,4 triliun.

 

Meski mendapatkan pujian dan penilaian positif dari sejumlah lembaga internasional, pemerintah jangan cepat puas. Masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Pemerintah harus mampu merealisasikan target-target asumsi makro ekonomi yang telah ditetapkan dalam APBN 2017. Pemerintah juga harus mampu meningkatkan penerimaan negara yang tiap tahun selalu defisit.

 

Dengan demikian, APBN makin kredibel di mata investor. Tidak hanya soal anggaran, investor pun mencermati kemampuan pemerintah dalam mengatasi sejumlah risiko. Investor akan terus mengamati keberhasilan program pengampunan pajak (tax amnesty) hingga akhir Maret 2017. Realisasi program-program pemerintah dalam pembangunan infrastruktur dan berbagai industri juga sangat ditunggu kalangan investor. Kebijakan-kebijakan pemerintah yang mendorong daya beli masyarakat akan sangat membantu meningkatkan kinerja dunia usaha.

 

Untuk tetap menjaga ekonomi tetap bergerak, yang tak kalah penting adalah menjamin stabilitas politik di Tanah Air. Stabilitas politik selama pelaksanaan pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak akan ikut menentukan arah perekonomian Indonesia tahun ini. Pemerintah dan aparat keamanan diharapkan mampu mendinginkan suhu politik yang kian panas menjelang pilkada. Kondisi politik yang stabil akan menciptakan iklim kondusif bagi dunia usaha.

 

Sedangkan dari eksternal, risikorisiko yang perlu dicermati adalah rencana bank sentral AS (The Fed) menaikkan suku bunga acuannya hingga tiga kali, kebijakan proteksionis Presiden terpilih AS Donald Trump, dan gejolak harga komoditas yang masih akan terjadi. Meski tak mungkin mengatasinya secara langsung, setidaknya pemerintah Indonesia sudah menyiapkan beberapa skenario bagaimana meminimalisasi dampak dari risiko-risiko tersebut. Dengan begitu, perekonomian Indonesia akan tetap kokoh meski dihantam badai ketidakpastian global.

 

Kita berharap semua risiko yang muncul baik dari internal maupun eksternal tidak mengganggu perekonomian Indonesia. Kita juga berharap ekonomi Indonesia tahun ini dapat tumbuh lebih baik. Kita pun berharap pertumbuhan ekonomi tahun ini lebih berkualitas dan inklusif sehingga akan berdampak besar dalam menurunkan angka kemiskinan dan pengangguran. (*)


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!