ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Kamis, 30 Maret 2017
BS logo

Reksa Dana
Jumat, 17 Maret 2017 | 10:32

Posisi duduk, Direktur Pengelolaan Investasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sujanto (tujuh dari kiri), Direktur PT Bursa Efek Indonesia Alpino Kianjaya (tengah), Presidium Asosiasi Pengelola Reksa Dana Indonesia (APRDI)
Edward P Lubis , Wakil Ketua Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (ADPI) Suheri (kanan), Direktur PT Infovesta Utama Parto Kawito (empat dari kiri), Pemimpin Redaksi Majalah Investor Primus Dorimulu (lima dari kiri) bersama
pemenang Reksa Dana Terbaik (Best Mutual Fund Awards) 2017 versi Majalah Investor & Infovesta Utama (masing-masing duduk, dari kiri ke kanan) Direktur PT Sucorinvest Asset Management Jemmy Paul Wowaintana,
President Director PT RHB Asset Management Indonesia Rima Suhaimi, Direktur PT Mega Capital Investama Rini Subarningsih, Direktur PT Sucorinvest Asset Management Yenny Siahaan, Direktur PT Equity Sekuritas
Indonesia Carolina Tjahyadi, Branch Manager PT Sinarmas Sekuritas Peggy Jacklyn, Manager PT Sinarmas Asset Management Erlina, Direktur PT Kresna Asset Management Ashari Adityawarman, Direktur PT Bahana TCW
Investment Management Budi Hikmat. Posisi belakang (dari kiri ke kanan) Branch Manager PT Sinarmas Asset Management Daniel Hartono, Vice President PT Sinarmas Asset Management Al Iskandar Pringgodigdo, Direktur
PT Henan Putihrai Asset Management Markam Halim, Kadiv Investasi PT Henan Putihrai Asset Management Chandra Widjarnaka, Direktur Utama PT PhillipAsset Management Joko Himawan, Head of Investment PT Insight
Investments Management Genta Wira Anjalu, Director PT Samuel Aset Manajemen Instansyah Ichsan, Fixed Income Fund Manager PT Trimegah Asset Management Darma Yudha, Direktur PT Sinarmas Asset Management
Alex Widjajakusuma, Direktur PT Trimegah Asset Management Hendra Wijaya Harahap, President Director PT Samuel Aset Manajemen Agus B Yanuar, Direktur PT Manulife Asset Manajemen Indonesia Alvin Pattsahusiwa,
Director PT Pratama Capital Assets Management Yanto, President Director PT Pratama Capital Assets Management Mustofa, Senior Portfolio Manager PT Ciptadana Asset Management Jacky Gunawan, Director PT Panin
Asset Management Rudiyanto, Head of Sales & Distibution PT Ashmore Asset Management Indonesia Steven Satya Yudha, PT Ashmore Asset Management Indonesia Anil Kumar, Direktur Utama PT Net Asset Management
Antonius Lie, Direktur Utama PT MNC Asset Management Frery Kojongian, Direktur PT MNC Asset Management Suwito Haryatno foto bersama usai penyerahan penghargaan Best Mutual Fund di Jakarta, Kamis (16/3/2017).  Foto: Investor Daily/UTHAN A RACHIM Posisi duduk, Direktur Pengelolaan Investasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sujanto (tujuh dari kiri), Direktur PT Bursa Efek Indonesia Alpino Kianjaya (tengah), Presidium Asosiasi Pengelola Reksa Dana Indonesia (APRDI) Edward P Lubis , Wakil Ketua Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (ADPI) Suheri (kanan), Direktur PT Infovesta Utama Parto Kawito (empat dari kiri), Pemimpin Redaksi Majalah Investor Primus Dorimulu (lima dari kiri) bersama pemenang Reksa Dana Terbaik (Best Mutual Fund Awards) 2017 versi Majalah Investor & Infovesta Utama (masing-masing duduk, dari kiri ke kanan) Direktur PT Sucorinvest Asset Management Jemmy Paul Wowaintana, President Director PT RHB Asset Management Indonesia Rima Suhaimi, Direktur PT Mega Capital Investama Rini Subarningsih, Direktur PT Sucorinvest Asset Management Yenny Siahaan, Direktur PT Equity Sekuritas Indonesia Carolina Tjahyadi, Branch Manager PT Sinarmas Sekuritas Peggy Jacklyn, Manager PT Sinarmas Asset Management Erlina, Direktur PT Kresna Asset Management Ashari Adityawarman, Direktur PT Bahana TCW Investment Management Budi Hikmat. Posisi belakang (dari kiri ke kanan) Branch Manager PT Sinarmas Asset Management Daniel Hartono, Vice President PT Sinarmas Asset Management Al Iskandar Pringgodigdo, Direktur PT Henan Putihrai Asset Management Markam Halim, Kadiv Investasi PT Henan Putihrai Asset Management Chandra Widjarnaka, Direktur Utama PT PhillipAsset Management Joko Himawan, Head of Investment PT Insight Investments Management Genta Wira Anjalu, Director PT Samuel Aset Manajemen Instansyah Ichsan, Fixed Income Fund Manager PT Trimegah Asset Management Darma Yudha, Direktur PT Sinarmas Asset Management Alex Widjajakusuma, Direktur PT Trimegah Asset Management Hendra Wijaya Harahap, President Director PT Samuel Aset Manajemen Agus B Yanuar, Direktur PT Manulife Asset Manajemen Indonesia Alvin Pattsahusiwa, Director PT Pratama Capital Assets Management Yanto, President Director PT Pratama Capital Assets Management Mustofa, Senior Portfolio Manager PT Ciptadana Asset Management Jacky Gunawan, Director PT Panin Asset Management Rudiyanto, Head of Sales & Distibution PT Ashmore Asset Management Indonesia Steven Satya Yudha, PT Ashmore Asset Management Indonesia Anil Kumar, Direktur Utama PT Net Asset Management Antonius Lie, Direktur Utama PT MNC Asset Management Frery Kojongian, Direktur PT MNC Asset Management Suwito Haryatno foto bersama usai penyerahan penghargaan Best Mutual Fund di Jakarta, Kamis (16/3/2017). Foto: Investor Daily/UTHAN A RACHIM

Seperti pasar saham, industri reksa dana sedang bergelimang optimisme. Jika saat ini unit reksa dana baru sekitar 256,46 miliar dan nilai aktiva bersih (NAB) atau dana kelolaan (asset under management/AUM) baru mencapai Rp 345,65 triliun maka dalam beberapa tahun mendatang jumlahnya bakal berlipat ganda. Hal yang sama akan terjadi pada jumlah rekening investor reksa dana yang saat ini baru sekitar 500 ribu.

 

Secara historikal, industri reksa dana memang terus meningkat. Dalam sewindu terakhir, NAB industri reksa dana tumbuh rata-rata 25% per tahun. Hasil pengembalian investasi (return) reksa dana juga menjanjikan, malah kerap lebih tinggi dari pertumbuhan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) atau dibanding imbal hasil (yield) obligasi.

 

Tahun ini, berdasarkan prediksi moderat para analis, reksa dana masih menjanjikan return tinggi. Dengan skenario IHSG pada akhir Desember 2017 bertengger di level 5.800 dibanding 5.296 pada akhir 2016 (menguat 9,5%), reksa dana saham, reksa dana campuran, dan reksa dana pendapatan tetap masing-masing membukukan return 10,4%, 8,1%, dan 5,5%.

 

Bahkan, dalam skenario optimistis, reksa dana mampu menorehkan return yang jauh lebih besar. Dengan asumsi IHSG bercokol di level 6.100 pada akhir Desember 2017 (naik 15% dari akhir Desember 2016), reksa dana saham, reksa dana campuran, dan reksa dana pendapatan tetap diprediksi mencetak return masing-masing 17,7%, 13,4%, dan 7,5%.

 

Di luar itu, industri reksa dana di Tanah Air masih bergerak lamban. Sejak produk reksa dana diperkenalkan pada 1995, AUM reksa dana tak sebanding dengan jumlah pemegang rekening dana pihak ketiga (DPK) di perbankan. Dengan jumlah DPK saat ini sekitar Rp 4.809,30 triliun, berarti dana kelolaan reksa dana baru mencapai 16,5%-nya. Dengan jumlah rekening perbankan saat ini 196,5 juta, berarti rekening investor reksa dana baru 0,04%-nya.

 

Angka-angka itu akan terbenam lebih dalam jika disandingkan dengan pencapaian industri reksa dana negara-negara tetangga. AUM reksa dana di dalam negeri sebesar Rp 345,65 triliun (US$ 26,5 miliar) dengan rasio AUM terhadap produk domestik bruto (PDB) 2,84% masih jauh di bawah AUM industri reksa dana Thailand senilai US$ 131,49 miliar (32,8% PDB), Malaysia US$ 155,21 miliar (62,8% PDB), atau Singapura US$ 1,72 triliun (793% PDB).

 

Padahal, dari sisi potensi dan peluang, industri reksa dana di Indonesia memiliki segalanya. Di negeri ini terdapat sekurangnya 60 juta penduduk kelas menengah yang sangat potensial menjadi nasabah reksa dana. Jika para MI mampu menjaring 10% saja penduduk kelas menengah, industri reksa dana di Tanah Air akan langsung ‘terbang’.

 

Berbagai upaya sebetulnya telah ditempuh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan para pemangku kepentingan lainnya, terutama Asosiasi Pengelola Reksa Dana Indonesia (APRDI), untuk menggenjot jumlah nasabah dan AUM reksa dana di dalam negeri. Namun, sepertinya, upaya mereka belum cukup. Buktinya, target menambah jumlah investor menjadi 5 juta dan melipatgandakan AUM menjadi Rp 1.000 triliun belum terealisasi.

 

Upaya OJK mendorong pemasaran reksa dana mikro untuk menjangkau masyarakat menengah ke bawah dengan batasan nilai investasi awal minimal Rp 100 ribu sudah tepat. Langkah OJK menambah jalur distribusi agen penjual efek reksa dana dengan melibatkan perusahaan di bidang pos dan giro, pegadaian, perasuransian, pembiayaan, dana pensiun, serta penjaminan juga sudah benar. Begitu pula kemudahan membuka rekening reksa dana secara online yang memungkinkan investor mendaftar sebagai nasabah dan bertransaksi dari jarak jauh.

 

Kita percaya, melalui langkah-langkah tersebut, inklusi keuangan dapat diwujudkan. Akses masyarakat bawah terhadap produk reksa dana akan semakin luas, sehingga mereka ikut menikmati keuntungan. Ujung-ujungnya, kesejahteraan mereka meningkat dan pemerataan pendapatan tercapai. Upaya OJK itu juga bakal meningkatkan literasi keuangan di kalangan masyarakat bawah. Dengan begitu, tak akan ada lagi cerita masyarakat terjerumus dalam investasi bodong. Namun, sekali lagi, berbagai ikhtiar itu belum membuahkan hasil yang optimal.

 

Faktanya, berbagai kasus penipuan berkedok investasi bodong masih sering terjadi. Alih-alih mengembang-biakkan uangnya pada instrumen investasi yang aman dan menguntungkan, sebagian masyarakat memilih investasi yang membuat mereka ‘buntung’.

 

Maka tanpa bermaksud mengecilkan perjuangan OJK dan para pelaku industry reksa dana, tak ada salahnya jika kita mengingatkan mereka bahwa dibutuhkan langkah-langkah terobosan yang tak biasa untuk membangkitkan industri reksa dana. Tak hanya menyangkut kebijakan, tapi juga varian produk dan penetrasi pasar.

 

Dengan kata lain, upaya meningkatkan inklusi keuangan yang sedang digalakkan OJK, pemerintah, dan para pelaku industri harus seiring sejalan dengan upaya meningkatkan literasi keuangan. Itu karena literasi dan inklusi keuangan di Tanah Air masih terbilang rendah. Berdasarkan hasil survei terbaru OJK, indeks literasi dan inklusi keuangan saat ini masing-masing baru mencapai 29,66% dan 67,82%.

 

Tapi upaya-upaya itu tetap takkan membuahkan hasil optimal jika tidak diikuti sosialisasi dan edukasi. Itu sebabnya, kita mendorong OJK, manajer investasi (MI), dan pemangku kepentingan lainnya agar melakukan sosialisasi dan edukasi yang lebih efektif dan efisien. Selain itu, kita mendorong para MI meningkatkan jumlah maupun kualitas SDM-nya. Jumlah wakil agen penjual efek reksa dana (WAPERD) masih minim. Belum lagi dari sisi kualitas.

 

Kita sepakat bahwa reksa dana adalah instrumen yang paling cocok untuk meningkatkan literasi sekaligus inklusi keuangan di Indonesia. Dengan karakteristiknya yang tahan risiko, jumlah dana fleksibel, simpel, dan menguntungkan, reksa dana seharusnya menjadi instrument investasi yang paling ‘dekat’ dengan masyarakat. Reksa dana selama ini terasa ‘jauh’ dan ‘asing’ karena sosialiasi dan edukasinya belum efektif. (*)


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!