ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Jumat, 24 Maret 2017
BS logo

Saatnya Meningkatkan Investasi Saham
Kamis, 2 Februari 2017 | 10:21

Pemimpin Redaksi Investor Daily, Suara Pembaruan, Majalah Investor Primus Dorimulu (kedua kiri) menerima
cindera mata dari Direktur Utama Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) Friderica Widyasari Dewi didampingi
Direktur KSEI Syafruddin (kiri) dan Direktur KSEI Supranoto Prajogo (kanan) usai media visit ke kantor redaksi
Beritasatu Media Holdings di Beritasatu Plaza Jakarta, Rabu (1/2/2017). BeritaSatu Photo/UTHAN A RACHIM Pemimpin Redaksi Investor Daily, Suara Pembaruan, Majalah Investor Primus Dorimulu (kedua kiri) menerima cindera mata dari Direktur Utama Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) Friderica Widyasari Dewi didampingi Direktur KSEI Syafruddin (kiri) dan Direktur KSEI Supranoto Prajogo (kanan) usai media visit ke kantor redaksi Beritasatu Media Holdings di Beritasatu Plaza Jakarta, Rabu (1/2/2017). BeritaSatu Photo/UTHAN A RACHIM

Tren investor domestik yang mulai menguasai bursa dalam negeri menggembirakan. Peran investor lokal ini makin penting untuk memperkuat bursa kita, di tengah tekanan gejolak global yang datang silih berganti.

 

PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mencatat, investor domestik mulai mengambil alih dominasi asing di Bursa Efek Indonesia (BEI). Sebagaimana tercatat di sistem C-BEST, investor domestic saat ini sudah memiliki aset Rp 1.838,3 triliun atau 51,77% dari total aset pasar modal yang senilai Rp 3.551,9 triliun.

 

Lonjakan drastis penguasaan aset oleh investor domestik ini terjadi tahun lalu, dengan kenaikan sekitar Rp 400 triliun. Hal itu antara lain berkat masuknya dana-dana repatriasi dari program tax amnesty (amnesti pajak). Di sisi lain, terjadi net selling (penjualan bersih) saham oleh asing yang cukup masif belakangan ini.

 

Fenomena tersebut patut disyukuri, setelah sebelumnya asing lama menguasai BEI. Cengkeraman asing puluhan tahun membuat bursa kita rawan terombang-ambing gejolak global. Bursa Indonesia pun sering tertekan permainan asing yang hanya memburu untung besar, dengan dana yang sangat cepat berpindah dari satu negara ke negara lain.

 

Seperti saat ini, sentimen kembalinya sebagian dana asing pascapelantikan Presiden Amerika Serikat Donald Trump cukup menekan harga saham bursa lokal. Padahal, kinerja bursa dalam negeri secara umum masih prospektif.

 

Sepanjang tahun lalu, indeks harga saham gabungan (IHSG) di BEI mencatatkan pertumbuhan 15,32%, setelah ditutup di level 5.296,71 pada 30 Desember 2016. IHSG mencatatkan pertumbuhan tertinggi kedua indeks saham di bursa Asia Pasifik, setelah bursa Thailand yang tumbuh 19,62%.

 

Bahkan, dalam 10 tahun terakhir, IHSG rata-rata naik 19% lebih atau yang tertinggi di antara bursa-bursa utama dunia. Dana asing juga mengalir masuk ke pasar saham Indonesia dengan mencatatkan net buying (pembelian bersih) Rp 16,17 triliun pada 2016, jauh lebih baik dari 2015 yang mencatatkan jual bersih (net selling) hingga Rp 22,5 triliun.

 

Rata-rata nilai transaksi harian pada 2016 juga meningkat sekitar 30,03% menjadi Rp 7,49 triliun, dibandingkan tahun sebelumnya Rp 5,76 triliun. Rata-rata frekuensi perdagangan harian juga tumbuh 18,91% menjadi 264.127 kali transaksi, dibandingkan tahun sebelumnya.

 

Tahun ini ekonomi dalam negeri juga masih oke, diperkirakan bisa tumbuh positif dari 5% tahun lalu menjadi 5,1%. Selain itu, profitabilitas emiten tahun ini diproyeksikan mampu tumbuh 15%. Agar bursa kita lebih stabil dan tidak gampang digoyang asing, ke depan, investor lokal harus ditambah jumlahnya maupun investasinya.

 

Untuk itu, pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), self regulatory organization (SRO), dan para pelaku pasar harus memperkuat sinergi dalam menggali potensi investasi dari dalam negeri.

 

Selain memperkuat pengawasan untuk mencegah penyelewengan dan meningkatkan kredibilitas bursa, pemerintah dan otoritas yang lain juga perlu mendorong lembaga-lembaga pemilik dana di dalam negeri meningkatkan investasi saham. Ini terutama pemilik dana besar hingga ratusan triliun rupiah, seperti Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS), perusahaan asuransi, maupun lembaga dana pensiun.

 

Selain itu, pemerintah dan OJK perlu mengefektifkan gerakan menabung saham hingga ke pelosok Tanah Air. Hal ini antara lain dengan memanfaatkan internet untuk membeli saham atau reksa dana saham secara online.

 

Hal ini mengingat pengguna internet di Indonesia tahun 2016 sudah mencapai 132 juta, atau melonjak sekitar 50% dari tahun sebelumnya. Jika 20% saja pengguna internet bisa diajak menghemat biaya pulsa dan menabung saham Rp 100.000 per bulan, berarti ada tambahan dana masuk bursa Rp 30 triliun lebih per tahun, atau Rp 150 triliun dalam lima tahun ke depan.

 

Di sisi lain, investor dalam negeri pun perlu memanfaatkan momentum murahnya harga saham-saham unggulan yang tengah tertekan sentiment Trump effect. Dengan proyeksi meningkatnya profitabilitas emiten dan pertumbuhan ekonomi nasional yang makin baik, ke depan harga saham akan tumbuh bagus dan tabungan kita meningkat.

 

Investor bisa mengikuti strategi lembaga-lembaga keuangan yang kini memperbesar investasi saham untuk mendongkrak kinerja investasinya. Per September lalu, dari total dana investasi asuransi jiwa yang sekitar Rp 386 triliun lebih, penempatan pada saham mencapai Rp 107,4 triliun atau melambung 53% dibanding posisi sama tahun sebelumnya.

 

Demikian pula penempatan pada reksa dana mencapai Rp 126,24 triliun atau melonjak 34,7%. Sejumlah lembaga dana pension (dapen) juga berencana lebih aktif trading saham. Hal ini sejalan dengan proyeksi pertumbuhan indeks harga saham gabungan yang diperkirakan setidaknya bisa sekitar 15%, jauh lebih tinggi dari bunga deposito maupun yield obligasi. (*)


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!