ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Sabtu, 24 Juni 2017
BS logo

Tugas Wimboh
Jumat, 9 Juni 2017 | 11:13

Hajatan uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) oleh DPR berakhir. Wakil rakyat itu akhirnya menjatuhkan pilihan kepada Wimboh Santoso sebagai bos baru OJK periode 2017-2022.

 

Dia menyingkirkan kandidat pesaingnya, Sigit Pramono. Wimboh mengantongi 50 suara, Sigit 4 suara, dan satu suara abstain. Selain memilih ketua, DPR juga memilih tujuh anggota Dewan Komisioner (DK) OJK. Mereka yang lolos adalah Nurhaida, Tirta Segara, Riswinandi, Heru Kristiyana, Hoesen, dan Ahmad Hidayat. Kita berharap mereka menjadi tim yang solid dan kompak.

 

Terlebih lagi, sebagian besar berasal dari orang-orang dunia finansial yang cukup berpengalaman, kompeten, dan profesional. Mereka juga memiliki rekam jejak yang baik. Hanya disayangkan nyaris tidak ada perwakilan dari industri yang lolos, kecuali Riswinandi.

 

Sungguh tidak ringan tugas yang harus diemban oleh Wimboh untuk membawa OJK agar lebih baik ke depan. Lembaga ini harus benar-benar mampu menjalankan tugas sebagai otoritas yang bertanggung jawab dalam masalah mikroprudensial, sehingga stabilitas industri jasa keuangan benarbenar terjaga.

 

Dalam menjaga stabilitas sistem keuangan tersebut, OJK yang saat ini membawahkan aset industri keuangan senilai Rp 16.000 triliun harus berkoordinasi dengan otoritas penting lainnya, yakni Bank Indonesia, Lembaga Penjamin Simpanan, dan Kementerian Keuangan. Koordinasi sangat diperlukan baik ketika perekonomian dalam kondisi normal maupun krisis.

 

Selain itu, ketua DK OJK harus mampu meneguhkan posisinya sebagai lembaga yang kredibel dalam pembuatan regulasi, perizinan, serta pengawasan. Sistem pengawasan oleh OJK menjadi aspek yang amat krusial jika melihat jumlah industri keuangan yang harus diawasi. Sistem pengawasan yang dilakukan semestinya mampu menjadi alat yang efektif dalam mendeteksi dini ada tidaknya masalah yang menyelimuti industry keuangan.

 

Tantangan lain OJK ke depan adalah menaikkan literasi dan inklusi keuangan. Saat ini, pemahaman masyarakat terhadap produk-produk dan instrument keuangan relatif masih rendah. Demikian pula jumlah orang yang mendapat akses keuangan juga masih terbatas, bahkan terendah di Asean. Sosialisasi dan edukasi harus lebih digencarkan agar literasi dan inklusi keuangan meningkat.

 

Pimpinan baru OJK juga mesti mengakomodasi keluhan industry jasa keuangan, khususnya perbankan, menyangkut iuran. Sudah lama kalangan perbankan mengeluhkan iuran yang harus disetor ke OJK. Besaran iuran berupa persentase dari aset dinilai sangat tidak adil. Sebab, dengan aturan demikian, apakah industri keuangan tersebut meraih untung atau tidak, tetap wajib membayar iuran ketika asetnya membesar.

 

Semestinya, persentase iuran dihitung berdasarkan perolehan laba. Dengan persentase dari aset, banyak sekali uang yang dikelola OJK. Hal itu akhirnya menimbulkan kritik bahwa para aparat OJK terkesan hidup bermewah-mewah dari iuran industri keuangan. Dengan menikmati iuran yang besar dari industri keuangan, sudah selayaknya jika OJK benar-benar memberikan pelayanan yang optimal kepada industri. Jangan sampai para awak OJK bermental layaknya amtenar seperti yang dikeluhkan sejumlah kalangan.

 

Sementara itu, agar kapasitas industri keuangan meningkat sehingga mampu memobilisasi dana lebih besar lagi, OJK perlu mendorong pendalaman pasar keuangan. Produk-produk derivative perlu diperbanyak, sehingga alternatif instrumen investasi pun kian beragam. Salah satu produk derivatif yang perlu digenjot adalah instrumen yang dapat dimanfaatkan untuk pembiayaan jangka panjang, khususnya bidang infrastruktur yang saat ini sangat dibutuhkan untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi.

 

Pekerjaan rumah OJK lain yang belum terselesaikan adalah harmonisasi peraturan yang menyangkut lintas industri. Salah satu hal yang mendesak adalah revisi Undang-Undang tentang Pasar Modal. Selain itu, sejalan dengan kemajuan teknologi, OJK juga harus mampu mendorong sekaligus mengantisipasi regulasi yang terkait dengan financial technology (fintech).

 

OJK adalah lembaga yang sangat berpengaruh, layaknya super body, yang akan menentukan arah dunia keuangan Indonesia di masa depan. Kita berharap tim Dewan Komisioner OJK pimpinan Wimboh Santoso mampu membawa OJK sebagai lembaga yang kredibel, berwibawa, dan disegani sehingga mampu memajukan industry keuangan nasional. (*)


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!




Data tidak tersedia.