ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Minggu, 26 Maret 2017
BS logo

Urgensi Jalan Tol
Kamis, 16 Maret 2017 | 9:46

Pemerintah terus mendorong pembangunan jalan tol hingga beberapa tahun ke depan. Penambahan jalan tol baru dibutuhkan untuk meningkatkan kapasitasnya seiring makin tingginya volume lalu lintas. Rendahnya penambahan kapasitas jalan tol yang tidak mampu mengimbangi pesatnya pertumbuhan kendaraan menyebabkan kemacetan di sejumlah ruas tol, terutama tol Dalam Kota Jakarta, Jakarta-Cikampek, dan Jakarta-Bogor-Ciawi (Jagorawi).

 

Berdasarkan data Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT), jalan tol yang telah dioperasikan di seluruh Tanah Air saat ini mencapai 984 km. Angka itu masih kalah dari Malaysia yang sudah mengoperasikan jalan tol sepanjang 3.000 km. Padahal, Indonesia lebih dulu membangun jalan tol dibandingkan Malaysia. Bahkan, negeri jiran itu berguru ke Indonesia sebelum mamulai pembangunan jalan tol di negaranya.

 

Tidak hanya kalah dalam hal panjang jalan tol. Indonesia juga kalah dari Malaysia dalam hal lamanya rata-ratawaktu tempuh di jalan tol. Di negeri jiran itu, waktu yang dibutuhkan untuk menempuh jarak 100 km hanya 1,5 jam, sedangkan di Indonesia sekitar 2,7 jam. Ini akibat padatnya arus kendaraan di sejumlah ruas tol di Indonesia.

 

Dalam Rencana Strategis (Renstra) 2015-2019, pemeritah memproyeksikan pembangunan jalan tol baru mencapai 1.000 kilometer (km). Namun, proyeksi itu kemungkinan akan terlampaui seiring adanya percepatan proses pembebasan lahan melalui dana talangan oleh badan usaha jalan tol (BUJT). Berdasarkan data Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT), jalan tol yang dalam proses konstruksi hingga 2019 sepanjang 1.568 km, dan yang direncanakan dibangun dalam rentang 2015-2025 sepanjang 3.583 km.

 

BPJT juga mencatat, realisasi penambahan jalan tol pada 2015 mencapai 132 km dan pada 2016 sepanjang 44 km. Lalu, pada 2017 diproyeksikan ada tambahan 391,9 km, dan 615 km pada 2018. Tahun berikutnya, penambahan jalan tol diproyeksikan 669 km. Dengan demikian, total penambahan jalan tol dalam kurun 2015-2019 akan menjadi 1.851,9 km.

 

Penambahan panjang jalan tol sudah menjadi kebutuhan yang mendesak, terutama untuk wilayah yang arus kendaraannya padat seperti di Jabodetabek. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), populasi mobil, bus, dan kendaraan barang mencapai 21,2 juta unit pada 2014. Sedangkan sepanjang 2015-2016, penjualan mobil, bus, dan angkutan barang 2,1 juta unit. Sehingga, total populasi mobil, bus, serta angkutan barang mencapai 23,3 juta unit.

 

Jumlah kendaraan roda empat diproyeksikan masih akan terus bertambah. Khusus mobil penumpang, penjualannya diperkirakan tumbuh rata-rata 11,5% per tahun sepanjang periode 2017-2021. Hal ini didorong oleh terus bertambahnya jumlah kelas menengah-atas di Indonesia. Selama ini, kendaraan penumpang menjadi motor pertumbuhan pasar mobil domestik.

 

Penambahan volume kendaraan ini harus didukung oleh penambahan kapasitas jalan tol. Kemacetan yang sudah menjadi pemandangan seharihari di ruas jalan Tol Dalam Kota Jakarta maupun tol Jakarta-Cikampek dan Jagorawi menjadi pelajaran bahwa pertumbuhan ruas jalan tol di Jabodetabek harus ditingkatkan. Sebagai upaya mengatasi kepadatan di ruas Tol Dalam Kota dan tol Jakarta-Cikampek serta mendukung akses ke Bandara Soekarno-Hatta, PT Jasa Marga Tbk (Persero) berencana pembangunan jalan tol layang (elevated) Cawang- Pluit-Cengkareng.

 

Untuk membangun proyek sepanjang 40 kilometer (km) dan menelan investasi Rp 14 triliun ini, BUMN jalan tol tersebut akan bekerjasama dengan PT Angkasa Pura II (Persero). Proyek tol ini dibangun sekaligus sebagai upaya antisipasi kepadatan dan mengakomodasi pergerakan penumpang pesawat di Bandara Soekarno-Hatta yang ditaksir akan mencapai 70 juta orang dalam beberapa tahun ke depan. Tahun lalu, jumlah penumpang domestik maupun internasional di bandara terbesar di Tanah Air ini sudah mancapai 27 juta orang.

 

Dengan dibangunnya jalan tol layang ini, maka akses ke Bandara Soekarno-Hatta ber tambah dari akses tol eksisting. Penambahan akses ke Bandara Soetta juga dilakukan oleh PT Angkasa Pura II dan PT Kereta Api Indonesia (KAI) dengan membangun proyek kereta ke bandara. Rencananya, kereta bandara yang menghubungkan Stasiun Manggarai dan stasiun di Bandara Soekarno-Hatta sepanjang 36,3 km ini akan mulai beroperasi pada Juli 2017.

 

Dari total jarak tempuh tersebut, terdapat rel atau jalur baru (new track) sepanjang 12,1 km antara Stasiun Batu Ceper dan stasiun bandara. Sementara sisanya yang sepanjang 24,2 km lagi adalah jalur lama (existing track) yang menghubungkan Stasiun Manggarai hingga Stasiun Batu Ceper.

 

Selain Stasiun Manggarai, nantinya Stasiun Jakarta Kota juga akan digunakan sebagai tempat pemberhentian kereta bandara. Rutenya adalah Stasiun Kota menuju Kampung Bandan, Angke, Duri, kemudian Batu Ceper dan ke bandara. Kereta bandara ini akan mampu melayani 35.000 penumpang per hari dan dapat mengurangi 20% hingga 30% volume kendaraan umum atau pribadi yang menuju bandara. Jasa Marga juga telah memulai konstruksi tol Jakarta-Cikampek II Elevated sepanjang 36,4 km sebagai solusi mengatasi kemacetan di simpang susun Cikunir hingga Karawang dan diharapkan bisa selesai dalam waktu dua tahun.

 

Jalan tol melayang di atas jalan tol eksisting ini menjadi solusi dalam mengatasi kepadatan lalu lintas dari Jakarta menuju Jawa Barat dan Jawa Tengah. Proyek tol Jakarta-Cikampek II Elevated ini kemungkinan disambungkan dengan tol layang Cawang-Pluit-Cengkareng di Cikunir.

 

Kita mendukung pembangunan jalan tol baru baik oleh perusahaan BUMN maupun badan usaha swasta. Penambahan ruas jalan tol tidak bisa ditawar lagi. Penambahan jalan tol diperlukan untuk mendukung mobilitas manusia dan arus barang dari satu daerah ke daerah lainnya. Contohnya pembangunan tol Jakarta-Cikampek II Elevated yang akan membantu meningkatkan pelayanan jalan tol Jakarta-Cikampek eksisting yang telah menjadi salah satu ruas utama distribusi barang dan jasa sejak pertama kali dioperasikan pada 1988.

 

Keberadaan jalan bebas hambatan punya peran untuk mendorong konektivitas, peningkatan daya saing, maupun mendukung penurunan biaya logistik. Infrastruktur jalan tol juga dapat memberikan efek pengganda (multiflier effect) bagi perekonomian suatu kawasan. Dengan terbangunnya infrastruktur jalan tol maka akan menumbuhkan pusat-pusat ekonomi baru di daerah sehingga terjadi pemerataan pembangunan. (*)


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!