ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Sabtu, 24 Juni 2017
BS logo

Waspadai Tekanan Inflasi
Sabtu, 3 Juni 2017 | 11:20

Indeks Harga Konsumen (IHK) Indonesia kembali mengalami inflasi sebesar 0,39% secara bulanan (month on month/mom) pada Mei 2017. Sedangkan inflasi tahun kalender (year to date/ytd) tercatat sebesar 1,67% dan inflasi tahunan sebesar 4,33% (year on year/yoy).

 

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga pada seluruh indeks kelompok pengeluaran. Kelompok bahan makanan mencatatkan inflasi tertinggi yakni sebesar 0,86%, disusul oleh kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau (0,38%), kelompok kesehatan (0,37%), dan kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar (0,35%).

 

Sedangkan kelompok sandang mencatatkan inflasi 0,23%, kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan 0,23%, dan kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga 0,03%. Secara keseluruhan, komponen harga bergejolak (volatile food) memengaruhi inflasi di bulan Mei karena mengalami inflasi hingga 0,91%, diikuti harga diatur pemerintah (administered prices) 0,69% dan kelompok inti sebesar 0,16%.

 

Kita patut mengapresiasi berbagai upaya yang telah dilakukan pemerintah untuk menjamin ketersediaan bahan pokok dan mengendalikan harga pangan sehingga inflasi tidak tinggi pada Mei. Pemerintah menempuh empat langkah, yakni penguatan regulasi dengan diterbitkannya aturan yang mewajibkan distributor melaporkan stok, penatalaksanaan dengan pemotongan rantai distribusi, pengawasan secara intensif dengan melibatkan Satgas Pangan, dan menggelar upaya khusus seperti gerakan stabilisasi harga pangan oleh Bulog dan operasi pasar (OP) oleh para importir pangan.

 

Selain itu, pemerintah juga berhasil menjaga kestabilan harga melalui kebijakan penetapan Harga Eceran Tertinggi (HET) oleh Kementerian Perdagangan pada beberapa komoditas. Kebijakan ini mampu meredam lonjakan harga pangan, khususnya komoditas gula pasir, bawang merah, cabai rawit dan tomat sayur. Bahkan, harga-harga komoditas itu tercatat mulai menurun pada minggu terakhir Mei dan awal Juni ini.

 

Meski inflasi bulan Mei lebih tinggi dari bulan sebelumnya yang sebesar 0,09%, BPS mengingatkan pemerintah agar tetap mewaspadai kenaikan harga pangan. Lonjakan harga pangan yang terjadi pada bulan lalu masih mungkin terjadi pada bulan ini karena permintaan bahan pangan yang cenderung meningkat selama bulan Ramadan dan hari raya Idul Fitri.

 

Upaya pemerintah mengendalikan harga pangan akan kembali diuji pada bulan Juni ini. Hal ini lantaran tingginya permintaan kebutuhan pokok selama bulan Ramadan dan untuk hari raya. Menurut sejumlah pakar ekonomi, bulan Juni akan menjadi puncaknya inflasi tahun ini yang dipicu oleh lonjakan harga pangan dan juga biaya transportasi.

 

Sektor transportasi berpotensi menjadi biang keladi tingginya inflasi karena adanya lonjakan harga tiket untuk keperluan mudik ke kampong halaman guna merayakan hari raya Idul Fitri. Karena itu, pemerintah perlu memantau harga tiket transportasi, terutama untuk angkutan udara yang kerap melonjak tinggi menjelang Lebaran. Harga tiket pesawat dalam beberapa tahun terakhir selalu menyumbang inflasi.

 

Tekanan inflasi pada 2017 juga patut diwaspadai berasal dari kenaikan harga barang dan jasa yang besarannya ditentukan oleh pemerintah (administered prices) dan kenaikan harga komoditas energi. Inflasi administered prices pada Mei 2017 masih cukup tinggi sebesar 0,69% (mtm), meskipun turun dari bulan sebelumnya yang sebesar 1,27% (mtm).

 

Lebih rendahnya inflasi administered prices pada Mei terutama disebabkan penyesuaian tarif listrik tahap ketiga untuk pelanggan prabayar daya 900 VA non subsidi yang jumlahnya lebih sedikit dibandingkan kelompok pascabayar.

 

Di samping itu, tantangan inflasi juga datang dari rencana kenaikan bahan bakar minyak (BBM). Kenaikan harga BBM cukup beralasan mengingat harga minyak dunia yang mulai merangkak naik secara perlahan. Namun, untuk mengendalikan inflasi, kenaikan harga BBM mesti dilakukan pada waktu yang tepat, misalnya setelah Lebaran.

 

Kenaikan harga BBM yang berbarengan dengan kenaikan harga tiket transportasi akan memicu laju inflasi tidak terkendali, selain juga berdampak menurunkan daya beli masyarakat.

 

Pemerintah menargetkan inflasi tahun ini dalam APBN 2017 sebesar 4%. Jika pemerintah mampu menekan inflasi bahan pangan (volatile food) hingga akhir tahun, peluang inflasi tahun ini akan di bawah target sangat terbuka. Bahkan, BPS memperkirakan inflasi sepanjang tahun ini akan berada di kisaran 3,96% atau masih sesuai target pemerintah.

 

Tidak hanya pemerintah, pengendalian inflasi juga dapat dilakukan oleh masyarakat. Kita berharap masyarakat tidak perlu panik dengan melakukan pembelian bahan pangan secara berlebihan selama Ramadan dan menjelang Lebaran yang pada akhirnya berdampak pada lonjakan harga. Pemerintah telah memastikan stok bahan pangan cukup selama Ramadan dan Lebaran. Jadi, sesuaikan pembelian dengan kebutuhan. (*)


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!




Data tidak tersedia.