ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Kamis, 23 Maret 2017
BS logo

ROBERT CATTANACH

Bekerjalah dan Nikmati Prosesnya
Senin, 23 Januari 2017 | 17:59

Robert Cattanach, Presiden Direktur Nokia Indonesia Robert Cattanach, Presiden Direktur Nokia Indonesia

Pada usianya yang telah menginjak angka 60, boleh jadi kehidupan Robert Cattanach sudah mencapai level kesempurnaan. Dari sisi karier, ia sudah berada di puncak. Begitu pun dalam soal keluarga. Selain dianugerahi istri yang terus mendampinginya, Chief Executive Officer (CEO) Nokia Indonesia ini dikaruniai dua anak, putra dan putri, yang sudah hidup mapan.

Tapi Robert Cattanach masih ingin mengenyam karier lebih lama di bidang teknologi informasi (TI). “Saya berharap berusia 28 tahun lagi. Saya orang yang sangat aktif dan saya tidak berniat pensiun dalam waktu dekat,” ujar Robert kepada wartawan Investor Daily Imam Suhartadi di Jakarta, baru-baru ini.

Robert Cattanach memang sangat menikmati bidang TI. Pria yang lahir dan menempuh pendidikan di Australia itu menganggap kecintaannya terhadap bidang TI adalah bagian dari kecintaannya kepada kehidupan ini.

“Saya suka bersenang-senang dalam pekerjaan saya. Bertemu orang baru, kami bisa tertawa bersama, menikmati momen, dan saling belajar antara satu dengan yang lainnya,” tutur Robert yang tampak lebih muda dari usia sesungguhnya.

Bagi Robert Cattanach, mencintai suatu pekerjaan tidaklah mudah. Namun, ada satu cara untuk melakukannya. “Lakukan pekerjaan Anda sebaik mungkin dan nikmati prosesnya. Jika Anda tidak menikmatinya, pindahlah dan lakukan pekerjaan lain,” tegas dia. Berikut petikan lengkap wawancara tersebut.



Bagaimana perjalanan karier Anda hingga memimpin Nokia Indonesia? Saya bekerja di Indonesia pertama kali pada Januari 2016. Saya memulai karier sebagai programmer analyst di perusahaan TI bertahun-tahun yang lalu. Saya pernah bekerjadi Hewlett-Packard selama 10 tahun untuk wilayah Pasifik yang meliputi sebagian besar Asia Pasifik, sebagai Vice President.

Saya juga bekerja untuk Telstra di bagian penjualan. Jadi, saya bekerja di sisi lain bidang telekomunikasi. Saya pun pernah bekerja untuk Alcatel-Lucent sebelum berubah menjadi Alcatel pada 2005.

Saya bergabung dengan Nokia Siemens Network pertama kali pada 2007 dan bekerja selama tiga tahun di Selandia Baru. Selain itu, saya bekerja selama tiga tahun di Munich (Jerman) untuk Nokia, kemudian pindah lagi hingga terakhir di Vietnam selama tiga tahun dan sekarang di Indonesia.



Mengapa Anda tertarik bidang TI?

Saya terjun ke bidang teknologi pertama kali sebagai seorang programmer. Saya menikmatinya. Ketika mulai terjun ke bagian penjualan, hidup saya berubah. Saya suka bertemu orang-orang, saya suka traveling, dan menyukai perubahan.

Saya rasa ada dua tipe orang, yaitu mereka yang menyukai perubahan dan mereka yang membenci perubahan. Saya termasuk yang menyukai perubahan. Bidang TI, khususnya telefoni dan gadget, juga merupakan bagian dari perubahan.

Ketika saya bergabung dengan Nokia serta mempekerjakan orang-orang dari dalam dan luar Nokia, saya menjanjikan mereka bahwa satu hal yang benar-benar bisa saya pegang adalah perubahan. Mereka harus menerima perubahan itu sendiri.

Perubahan menciptakan kesempatan. Gadget dan teknologi berkembang sangat cepat, lebih baik, lebih menyenangkan. Ini hal yang menggairahkan bagi saya.



Apa tantangan utama bisnis Nokia di Indonesia?

Ada dua hal yang kami dapatkan dari akuisisi Alcatel-Lucent. Sebelumnya, Nokia sangat fokus pada mobile broadband. Kami memutuskan hal itu lima tahun lalu. Ini telah membantu kami menjadi perusahaan yang lebih menguntungkan dan sangat fokus. Akuisisi membantu kami menempatkan perusahaan pada ukuran dan bentuk yang tepat.

Salah satu alasan kami mengakuisisi Alcatel-Lucent adalah karena mereka memiliki bisnis yang saling melengkapi dengan Nokia. Peralatan fixed dan mobile broadband saling melengkapi. Maka jika Anda melihat ke jaringan telepon seluler, bagian terbesarnya adalah fixed dengan jaringan fiber. Tanpa kehadiran infrastruktur jaringan fiber, Anda tidak akan bisa menggunakan ponsel. Hal penting lainnya dari jaringan seluler adalah antara telepon dan antena, sisanya infrastruktur fixed.

Indonesia merupakan pasar broadband tetap yang memiliki penetrasi sekitar 2%. Peluang yang tersedia adalah 260 juta orang, 65 juta rumah, dan kawasan yang sangat luas. Indonesia punya 17 ribu lebih pulau. Pikirkan tentang 5G. Pikirkan tentang fakta bahwa industri ini, baik fixed atau mobile, sedang beralih ke cloud.

Saat ini, kebanyakan perusahaan telekomunikasi besar mungkin hanya memiliki tiga data center, satu di Sumatera, satu di Jawa, atau satu di daerah lainnya. Di Indonesia mungkin harusnya ada lima, termasuk di Kalimantan dan Sulawesi. Tapi itu pun mungkin tidak cukup untuk 5G, Indonesia mungkin perlu 25 data center.

Kami akan mengaplikasikan 5G pada 2020 atau 2021. Kami akan mengaplikasikan 5G di Indonesia untuk membantu perekonomian, membantu menyelesaikan pekerjaan dengan lebih baik, dan membantu agar kondisi lalu lintas di Jakarta lebih baik, misalnya.

Bagi kami, peluang di Indonesia sangat besar atau masif. Di sini kita berbicara tentang bisnis miliaran dolar AS di pasar. Berbicara sebagai perusahaan, kami cukup gembira dengan Indonesia. Itu sebabnya, kami ingin menjadikan Indonesia lebih dari sekadar negara dengan target pasar.



Bagaimana Anda melihat persaingan dan peluang jaringan mobile di Indonesia?

Kami memiliki tiga pesaing utama di Indonesia, tapi saya tidak akan menyebutkan nama-namanya. Mereka para pesaing yang kuat. Namun daya saing kami secara keseluruhan, baik pasar broadband maupun mobile, sangat kuat.

Bisnis ini 15 tahun lalu disebut bisnis dengan margin tinggi. Saat ini situasinya tidak seperti itu, sehingga kami harus menjalankan bisnis dengan cara berbeda. Kami harus mengoptimalkan semuanya dengan cara bekerja lebih cepat dari yang biasa kami lakukan dan menemukan peralatan dengan cara penempatan lebih mudah. Kami juga menggunakan orang-orang yang memiliki kapabilitas untuk menjadikan produk lebih berkelanjutan.



Strategi Anda?

Kami mempekerjakan 1.500 orang di Indonesia, kebanyakan para teknisi. Teknologi cloud telah hadir di sini sekarang. Dari 1.500 orang itu, mungkin hanya 200-an orang yang memenuhi kualifikasi untuk cloud. Jadi, kami harus membantu mengurangi risiko dalam proses transisi ini.

Kami juga harus terus menjaga peralatan dasar, sehingga harus seimbang antara cloud dan perangkat lama dalam beberapa tahun transisi. Kami berada di jalur yang baik pada titik ini. Dari sisi kinerja bisnis, kami berharap bisa menggandakan pendapatan dalam empat tahun ke depan di Indonesia. Itulah yang menjadi prioritas nomor dua saya.



Cara Anda membangun tim yang solid?

Para karwayan adalah prioritas saya nomor satu, begitu pula dengan perusahaan. Kami menghabiskan miliaran dolar untuk TI, produksi, dan teknologi. Apa yang pelanggan beli dari kami bukan hanya teknologi, tapi juga kemampuan untuk menerapkan teknologi.

Tahun lalu dan tahun ini di Indonesia untuk Telkomsel, kami memenangi penghargaan sebagai perusahaan dengan commissioning terbaik. Kami berniat memenanginya lagi, karena ketika kami memenangi penghargaan seperti ini, kadang-kadang kami dapat mengharapkan pembayaran lebih sebagai penghargaan atas apa yang telah kami lakukan.

Tanpa para pekerja berkualitas, terlatih, antusias, energik, dan yang fokus pada pelanggan, bisnis ini tidak akan berjalan baik. Salah satu moto kami di Indonesia adalah fokus pada pelanggan dan responsif. Tugas saya dan tim manajemen yaitu memastikan lingkungan yang nyaman untuk semua staf, sehingga mereka dapat mencoba, belajar, dan melakukan pekerjaannya. Tanpa lingkungan yang nyaman, mereka tidak bisa melakukannya.



Filosofi hidup dan karier Anda?

Mungkin sekarang berbeda karena saya sudah berumur 60 tahun. Saya sih berharap berusia 28 tahun lagi. Saya menikmati bidang ini. Itu sebabnya saya pindah ke industri teknologi. Saya suka bersenang-senang dalam pekerjaan saya. Bertemu orang baru, kita bisa tertawa bersama, menikmati momen, dan belajar dari satu dengan yang lainnya. Saya orang yang sangat aktif dan saya tidak berniat pensiun dalam waktu dekat ini.

Saya tidak punya kesibukan lain, saya tidak bermain golf lagi, tidak lagi latihan menembak. Anak laki-laki saya tinggal di New York dan putri saya yang berusia 28 tahun tinggal di Kanada. Anak perempuan saya seorang rapper dan anak laki-laki saya seorang bankir. Kami menyukai traveling.

Jadi, filosofi saya adalah lakukan pekerjaan Anda sebaik mungkin dan nikmati prosesnya. Jika Anda tidak menikmatinya, pindahlah dan lakukan pekerjaan lain.



Target Anda untuk Nokia Indonesia?

Sederhana saja, kami harus menjadi perusahaan bernilai miliaran dolar. Saya rasa kami akan meraihnya. Ini masalah kapan dan alasan di belakang target ini. Kami akan menjalankan misi dan memimpin 5G di Indonesia. Orang belum terlalu memikirkan 5G, karena kita baru saja menerapkan 4G. Bahkan ini pun belum sepenuhnya.

Kami akan mengunjungi setiap wilayah di Indonesia untuk 5G. Kami akan bergabung dengan setiap asosiasi di Indonesia. Kami akan berbagi teknologi, peta, dan rencana kami. Kami akan memberikan bimbingan sebaik yang kami bisa. Bukan hanya kepada mereka yang membeli dari produk kami, tapi masyarakat pada umumnya, terkait jenis peluang bisnis yang ada.

Dengan solusi 5 G yang sangat cepat, andal, dan 100% terdepan, yang akan hadir di sini pada 2020, kita perlu berpikir apa yang harus kita lakukan, bagaimana kita akan mengambil keuntungan bisnis, bagaimana memanfaatkan hal ini. Itulah intinya. Bukan hanya tentang penjualan telco dalam menghasilkan uang, tetapi membuat Indonesia menjadi negara yang lebih produktif dan menguntungkan.



Pendapat Anda tentang Indonesia?

Saya pernah tinggal di Australia selama beberapa tahun, Selandia Baru, Jerman, Vietnam, dan sekarang Indonesia. Di Indonesia, orang-orangnya termasuk yang paling baik. Tanpa mengurangi rasa hormat, saya rasa sama seperti orang Vietnam. Saya belajar bahasa Vietnam dan saya ingin belajar bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia bisa jadi jauh lebih mudah bagi saya untuk saya pelajari dibandingkan Vietnam.

Indonesia adalah negara yang menakjubkan. Saya pernah ke Bali, sebagian besar untuk urusan bisnis. Saya baru menyadari keindahan Bali ketika saya ke sana untuk ketiga kalinya dan menggunakan perahu menuju pulau lain, seperti Derawan.

Menurut saya, berdasarkan letak geografi, sebagian besar wilayah ini aman, negara ini sangat aman. Kebanyakan orang yang saya kenal yang datang ke Indonesia, khususnya untuk urusan pekerjaan, tidak mau meninggalkan negara ini.



Bagaimana Anda membagi waktu untuk kehidupan pribadi dan karier?

Saya akan belajar dari kesalahan saya. Selama bertahun-tahun, saya tidak benar-benar menyeimbangkan urusan kehidupan dan kerja. Seringkali pekerjaan menjadi perhatian pertama saya dibandingkan keluarga. Ini tantangan bagi saya untuk menyeimbangkan keduanya. Untungnya saya energik, banyak perubahan, saya menikmati perjalanan.

Istri saya ikut bersama saya dalam beberapa tahun terakhir, karena anak-anak saya sudah berusia 31 dan 28 tahun. Saya pikir, saya sekarang lebih baik dibanding ketika saya masih muda.

Hal lain yang saya sukai adalah sifat kemanusiaan dari pekerjaan saya. Tanggung jawab besar saya adalah bekerja lebih baik lagi untuk Nokia dan menjadi seorang pria yang baik bersama istri di rumah seperti biasa.

Secara umum, saya kira para pekerja di sini bekerja terlalu keras. Padahal, Anda harus meluangkan waktu untuk diri sendiri demi keseimbangan hidup Anda. Anda harus menemukan cara yang lebih baik untuk melakukannya, cara lebih mudah untuk melakukannya, dan cara yang lebih menyenangkan. Anda harus rileks dan harus menyeimbangkan kehidupan Anda. Jika tidak melakukannya, Anda akan gagal. (*)

Baca juga http://id.beritasatu.com/home/pelesiran-ke-objek-wisata-natural/155637




Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!




Data tidak tersedia.