ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Minggu, 26 Maret 2017
BS logo

Evy Soenarjo, Sukses Adalah Keselarasan
Senin, 25 Juli 2011 | 11:17

Setiap orang punya definisi sendiri-sendiri tentang arti sukses. Tapi, menurut Evy Soenarjo, sukses adalah terjadinya keselarasan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan.

Menangani bisnis perusahaan retail shop (toko ritel) telekomunikasi ternyata lebih pelik ketimbang toko ritel biasa. Maklum, toko ritel yang satu ini tidak seperti toko ritel kebanyakan. Jika produk yang dijual toko ritel biasa bias tahan hingga tahunan, tidak demikian dengan produk toko ritel telekomunikasi.

“Supermarket bisa menjual produk keju selama bertahun-tahun tanpa berganti jenis dan brand. Tetapi di kami, setiap ponsel atau gadget yang dikeluarkan rata-rata hanya memiliki life span paling lama 6-7 bulan,” kata Presiden Direktur PT Global Teleshop Evy Soenarjo kepada wartawan Investor Daily Imam Suhartadi dan Imelda Rahmawati serta pewarta foto David Gita Roza di Jakarta, baru-baru ini.

Toh, itu bukan halangan bagi Evy Soenarjo untuk membesarkan PT Global Teleshop, perusahaan yang belum lama dinakhodainya. Bisnis telekomunikasi yang sangat dinamis justru membuat eksekutif berusia 38 tahun ini merasa tertantang. Evy bahkan punya visi jangka panjang membawa Global Teleshop go international. Tak cuma itu. Evy Soenarjo juga mendapat tugas membawa Global Teleshop go public di Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham.

Berikut petikan lengkap wawancara dengan perempuan kelahiran Semarang, 9 Mei 1973 yang punya filosofi “semua hal harus dikerjakan secara benar sejak pertama memulai” itu.

Bisa diceritakan perjalanan karier Anda?
Pekerjaan pertama saya adalah di posisi finance and accounting pada sebuah perusahaan kaca. Sejak lulus pada 1995, saya sempat bekerja di perusahaan tersebut selama dua tahun. Langkah saya untuk mendapatkan pekerjaan terhitung cepat. Sehari setelah wisuda, saya langsung bekerja. Memang berbeda dengan teman-teman saya kala itu yang menyempatkan beristirahat selama beberapa minggu, bahkan beberapa bulan sebelum akhirnya bekerja.

Tapi tidak bagi saya. Setelah selesai sidang, saya langsung mengajukan lamaran ke beberapa perusahaan. Mungkin karena itulah saya terhitung cepat mendapat pekerjaan.

Pada 1997, saya mulai mengenal dunia telekomunikasi dengan masuk ke PT Trikomsel (pemilik retail store Oke Shop) dan menempati posisi yang sama, yakni di finance and accounting. Cukup lama saya bekerja di Trikomsel, hampir 13 tahun, sebelum akhirnya saya berhenti pada 2010.

Selama puluhan tahun di sana, saya tidak hanya berada di divisi finance. Saya sempat rotasi hamper ke semua divisi, termasuk marketing dan human resources development (HRD). Kebetulan ketika Trikomsel kala itu mau melangsungkan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham, saya memegang jabatan direktur ritel. Lebih kurangnya saya sudah tahu bagaimana suasana perusahaan ketika akan melakukan IPO.

Pengalaman tersebut sangat berharga bagi saya karena sebentar lagi PT Global Teleshop pun akan melakukan IPO. Pengalaman bekerja di Trikomsel saya jadikan pelajaran berharga. Waktu itu, setahun setelah  saya memasuki perusahaan tersebut, Indonesia didera krisis moneter 1998. Di tengah rendahnya daya beli masyarakat terhadap barangbarang lain, ternyata penjualan telepon seluler (ponsel) justru naik. Kala itu, Trikomsel menjadi distributor tunggal bagi Nokia. Saya kira masyarakat masih ingat bagaimana kepopuleran Nokia saat itu, yang salah satu produknya diberi julukan ponsel sejuta umat.

Latar belakang Anda cukup menunjang?
Kebetulan saya kuliah mengambil jurusan ekonomi manajemen di Universitas Satya Wacana, Salatiga. Menurut saya, ilmu ekonomi pasti terpakai. Sewaktu bekerja di finance, latar belakang pengetahuan saya sangat membantu. Begitu pun dalam posisi sekarang. Karena saya harus selalu menghitung besar dan kecil prospek perusahaan maka ilmu ekonomi pasti terpakai.

Pengalaman kerja saya di bidang ritel juga sangat mendukung. Itu malah bagus dan sangat membantu saya. Trikomsel dan Global Teleshop kan sama-sama bekerja di bisnis yang sama, yaitu retail shop. Bekerja di bisnis ritel perlu kehatian-hatian yang luar biasa. Buat saya, ritel sama dengan detail (retail means detail). Meskipun begitu, satu perusahaan yang lain pasti berbeda dengan yang satunya. Saya selalu berusaha sebaik-baiknya dalam menjalankan jabatan saya.

Apa filosofi hidup Anda?
Filosofi saya adalah “doing right from the beginning”. Semua hal harus dikerjakan secara benar sejak pertama memulai. Contoh gampangnya adalah jangan menunda-nunda pekerjaan. Sebagai contoh, kalau saya ingin membuka gerai baru, biasanya saya lakukan dengan melakukan survei tempat terlebih dahulu, barulah saya memperhitungkan berapa biaya sewa dan apa saja dekorasinya. Jika ada satu bagian yang terlewatkan, nanti hasilnya tidak akan bagus.

Bagaimana gaya Anda memimpin perusahaan?
Pada dasarnya telekomunikasi adalah dunia yang melibatkan banyak anak muda. Maka dari itu, saya tidak mau berpikiran sempit hanya karena tidak memberi kesempatan bagi yang muda. Menurut saya, semua orang berhak mendapatkan kesempatan.
Sedangkan ketika mengarahkan tim di divisi tertentu, langkah pertama saya adalah belajar mengenal tim secara personal. Selanjutnya, baru akan saya komunikasikan dengan mereka apa yang saya mau untuk membuat perusahaan maju. Hal ini penting, karena karakteristik tim di bisnis ini harus cepat dan kreatif.

Saya percaya, jika menaruh orang yang tepat pada tim yang tepat maka tanpa diatur pun semuanya akan berjalan sendiri dan lancar. Saya melihat pekerjaan di dunia telekomunikasi bukan sekadar kerja sama, tapi juga banyak unsur funnya.

Apa tantangan bekerja di bidang telekomunikasi?
Bisnis telekomunikasi adalah bisnis yang dinamis. Tidak seperti bisnis retail store pada umumnya yang bisa menjual produk dan tahan hingga tahunan. Contohnya seperti supermarket yang bisa menjual produk keju selama bertahun-tahun tanpa berganti jenis dan brand.

Tetapi di kami, setiap ponsel atau gadget yang dikeluarkan rata-rata memiliki jangka hidup (life span) yang cepat. Mungkin dulu, ketika tidak begitu banyak vendor yang bermain, satu jenis ponsel bisa tahan hingga satu tahun lebih. Tapi sekarang rata-rata life span sebuah ponsel hanya berkisar 6-7 bulan. Hal yang menjadi tantangan juga adalah bagaimana cara menangkap kemauan (demand) dari pasar.

Sama halnya dengan life span, banyaknya vendor ponsel yang bermain sekarang membuat perusahaan bingung.  Apakah produk yang akan ditawarkan? Benarkah produk ini akan laku? Global Teleshop memiliki karakteristik yang berbeda dari toko ritel telekomunikasi yang lain. Untuk segmentasi pembeli, kami selalu mengkhususkan penjualan kepada segmen A-B.

Bagaimana Anda menjawab tantangan tersebut?
Untuk mengatasi masa hidup ponsel yang sangat cepat, kami berusaha memberikan pilihan gadget yang selalu berubah tiap musimnya. Saat ini kami menjual tujuh brand di gerai kami, yaitu Nokia, Blackberry, Samsung, LG, Sony Ericsson, G-Mobile, dan nantinya Apple. Sedangkan untuk mengatasi kemauan pasar, kami atasi dengan memberikan service yang plus dibandingkan toko ritel lain.

Bagi kami, layanan sangat penting, mengingat segmentasi A-B kebanyakan menginginkan pelayanan yang prima, mulai dari penyediaan free drinks hingga asuransi gratis tiga bulan. Global Teleshop menyediakan layanan Global Training, di mana pembeli tidak sekadar membeli produk, tapi juga mendapat kesempatan training untuk menggunakan produk tersebut oleh pegawai kami.

Apa arti sukses bagi Anda?
Bagi saya, sukses berarti kehidupan pribadi dan pekerjaan berjalan berbarengan dan harmonis. Menurut saya, dari kedua sisi tersebut tidak ada yang perlu disisihkan. Berarti, saya juga harus pintar-pintar menyeimbangkan waktu bersenang-senang dan bekerja dengan serius.

Visi Anda membawa Global Teleshop ke depan?
Visi jangka panjang saya adalah membawa perusahaan ini go international. Dari pengalaman berkunjung ke beberapa negara, saya menyadari bahwa bisnis seperti ini sebenarnya sangat potensial di luar sana. Bayangkan, di Singapura atau Malaysia biasanya hanya terdapat empat hingga lima toko ritel yang sama, sedangkan di Indonesia jumlahnya bisa mencapai ratusan.

Global Teleshop saat ini punya 385 gerai di seluruh Indonesia. Hingga akhir tahun, kami menargetkan bisa menambah hingga mendekati angka 500 gerai. Akan tetapi, untuk membuat perusahaan memiliki kredibilitas tinggi ketika dibawa go international, saya berencana menjadikan perusahaan go public terlebih dahulu di Indonesia. Caranya dengan melakukan IPO.

Saya merasa, perusahaan yang sudah go public otomatis akan lebih kuat dan sehat karena menerapkan prinsip-prinsip dasar good corporate governance (GCG), yaitu transparency (keterbukaan informasi), accountability (akuntabilitas), responsibility (pertanggungjawaban), independency (kemandirian), serta fairness (kesetaraan dan kewajaran). Dana yang diperoleh dari IPO akan digunakan untuk ekspansi.

Apa obsesi Anda yang belum tercapai?
Kalau dengan Global Teleshop, tentu obsesi yang belum terjawab adalah membawa perusahaan ini go international. Adapun di luar perusahaan mungkin obsesi yang belum kesampaian sekarang adalah membuka usaha food and beverages. Saya ingin sekali membuka sebuah toko atau restoran wine.

Peran keluarga bagi Anda?
Sangat penting. Meskipun saya sendiri mengakui kalau waktu bersama keluarga tidak terlalu banyak karena saya sering berpergian, namun saat-saat bersama keluarga selalu saya sempatkan. Terkadang, jika waktu weekend saya tetap bekerja, saya sempatkan mengontak keluarga, entah melalui BBM atau Skype. Saya sangat mensyukuri kecanggihan teknologi saat ini.


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!




Data tidak tersedia.