ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Minggu, 26 Maret 2017
BS logo

ONGKI KURNIAWAN, Managing Director Line Indonesia

Jangan Setengah-setengah
Selasa, 7 Maret 2017 | 0:20

Ongki Kurniawan, Managing Director Line Indonesia.  Ongki Kurniawan, Managing Director Line Indonesia.

Pernah malang-melintang di dunia perbankan, Ongki Kurniawan akhirnya jatuh cinta pada dunia teknologi dan telekomunikasi. Rupanya memang di situlah passion orang nomor satu Line di Indonesia ini.

Sarjana Elektro Institut Teknologi Bandung (ITB) lulusan tahun 1995 itu pernah meniti karier di sektor perbankan, persisnya di Citibank, sebagai credit analys. Assistant Vice President adalah jabatan terakhirnya di Citibank.

 

Ongki kemudian memutuskan untuk menyelesaikan Master of Business Administration (MBA) di Haas School of Business, University of California, di Berkeley AS. Lulus pada 2003, Ongki langsung bekerja di perusahaan kosultan Boston Cosulting Group (BCG). Selanjutnya dia bekerja di perusahaan telekomunikasi, PT XL Axiata Tbk.

 

Banyak hal yang dilakukan Ongki bersama XL Axiata. Namun, karena selalu suka tantangan baru, sejak 1 Juni 2016 Ongki memutuskan untuk bergabung dengan Line.


Yang pasti, ada satu hal dalam diri Ongki yang mungkin tak selalu bisa ditemukan dalam diri orang lain, yakni totalitasnya dalam melaksanakan sebuah pekerjaan.

 

“Setiap orang harus memiliki sikap total dalam menyelesaikan pekerjaan. Artinya tidak mengerjakan sesuatu secara setengah-setengah,” ujar Ongki Kurniawan kepada wartawan Investor Daily Emanuel Kure di Jakarta, baru-baru ini.

 

Ongki punya alasan kenapa ia harus total dalam mengerjakan sesuatu. “Saya nggak bisa setengah-setengah. Mengerjakan sesuatu harus sungguh-sungguh, all out. Saya nggak bisa mengerjakan sesuatu yang kualitasnya nggak bagus. Saya harus bisa memberikan yang terbaik,” tutur dia. Berikut petikan lengkapnya.

Bisa cerita perjalanan karier Anda?

Saya lulus ITB sebagai sarjana elektro tahun 1995, kemudian bekerja di bank. Jadi, saya memulai karier sebagai bankir. Saya masuk sebagai credit analys di Citibank. Menarik, karena setahun baru bergabung, terjadi krisis moneter tahun 1998. Saya di Citibank cukup lama, sekitar lima tahun. Pada 2001, saya ambil MBA di Berkeley sampai tahun 2003. Saya lulus ITB itu sarjana elektro.

Mengapa bergabung dengan bank dan perusahaan konsultan?

Saya masuk bank karena bapak saya dulu, kerjanya di Bank Indonesia (BI). Saya sering melihat beliau membawa kerjaan ke rumah. Saya suka baca-baca. Jadi, setelah lulus dari ITB, saya langsung mencari bank.

 

Nah, setelah lulus dari Berkeley, saya masuk Boston Cosulting Group (BCG). Waktu itu ada proyek di Kamboja. Menarik, karena ternyata konsultan itu membantu cari solusi strategi bisnis. Saya merasa cocok. Saya di BCG selama enam tahun, menjadi konsultan di berbagai industri.

 

Saya kemudian mengerjakan proyeknya XL (PT XL Axiata Tbk). Saya jalankan proyek itu dan cukup berhasil. Akhirnya ada kesepatan untuk bergabung dengan XL.

 

Setelah enam tahun menjadi konsultan, saya lihat kok jadi konsultan? Saya nggak sampai melihat impact-nya seperti apa. Jadi, saya kepingin masuk dunia industri yang benar-benar langsung in action. Saya masuk XL sebagai Head of Strategy tahun 2009. Di situ dua tahun, terus saya pindah ke Director Network, terakhir sebagai Director Digital.

 

Dari Director Digital ini, saya mendapat gambaran, ternyata dunia digital itu menarik. Waktu itu, dalam perjalanan di pesawat, saya sempat membaca artikel tentang massaging platform. Itu menarik sekali. Jadi, waktu ada kesempatan di Line, saya ambil.

 

Di XL, saya juga bantu Axis, tapi itu cuma formalitas saja. XL kan waktu itu merger dengan Axis. Saya sebenarnya masih di XL. Itu cuma dikasih double title sebagai Chief Executive Officer (CEO) Axis sementara, selama proses transisi.

 

Mulai kapan Anda memimpin Line Indonesia?

Saya masuk Line sejak 1 Juni 2016 sebagai Managing Director. Intinya sebagai CEO Line di Indonesia.



Alasan Anda memilih profesi yang terkait langsung dengan teknologi dan telekomunikasi?

Kalau saya lihat sih, saya orangnya selalu suka tantangan. Saya senang melihat sesuatu yang ada hasilnya langsung, yang langsung dirasakan banyak orang. Saya lihat, waktu di XL itu berasa banget. Bayangin, waktu itu kami menurunkan tarif 10 kali lipat. Tiba-tiba orang yang nggak bisa punya akses ke telekomunikasi, bisa punya akses. Saya senang sekiali.

 

Saya juga membantu meluncurkan teknologi LTE (long term evolution) pertama kali. Kami yang push pemerintah untuk re-arrangement LTE lebih cepat. Jadi, kalau kita nggak menjalankannya waktu itu, mungkin LTE masih setahun lagi baru diluncurkan. Sekarang orang-orang sepertinya nggak bisa deh kalau nggak punya LTE. Jadi, saya melihat teknologi ini berdampak langsung ke masyarakat.

 

Kita bisa lihat Gojek, Uber, dan aplikasi lainnya. Saya senang pekerjaan yang dampaknya dirasakan langsung oleh banyak orang. Sama, di Line juga begitu. Intinya, teknologi memudahkan masyarakat dan membantu mereka menyelesaikan pekerjaannya. Kalau saya lihat, ini bukan hanya di satu dua sektor, tetapi semua sektor.

Kiat Anda dalam mencapai kesuksesan?

Pertama, saya selalu merasa bahwa saya nggak bisa mengerjakan sesuatu setengah-setengah. Mengerjakan sesuatu harus sungguh-sungguh, all out. Saya nggak bisa mengerjakan sesuatu yang kualitasnya nggak bagus. Saya harus bisa memberikan yang terbaik.

 

Kadang-kadang, itu juga dilihat anak buah. Akhirnya saya juga paksa mereka agar punya standar yang terus naik. Ada yang bisa ngikutin dan ada yang nggak bisa. Tetapi saya selalu punya motivasi untuk mengerjakan sesuatu agar menjadi yang terbaik di mana pun saya berkarya.

 

Kedua, saya selalu bertanya, saya ini masih berguna atau tidak bagi saya sendiri, keluarga, maupun bagi masyarakat? Kalau saya selalu stay di suatu tempat, itu akan ada limit-nya. Mungkin setelah dua atau tiga tahun, saya merasa sebegini ini nih batasnya. Saya selalu mencari sesuatu yang baru. Dalam mencari sesuatu yang baru, saya nggak bisa mengerjakannya setengah-setengah.

 

Ketiga, saya lihat, apa yang saya lakukan ini ada impact-nya atau tidak bagi orang lain. Bukan hanya secara layanan, tetapi supaya membuat mereka juga melihat, ternyata ini lho trik-trik atau tips-tips untuk bisa sukses dan maju. Dan saya juga share kepada mereka. Saya pun kepingin feel good dalam melakukan share kepada mereka. Saya bisa share kepada beberapa startup, penerima beasiswa, pada saat mereka balik. Saya share, apa sih yang harus mereka buat saat masuk dunia kerja. Tiga itu sih yang selalu saya pegang dalam hidup.

 

Strategi Anda memimpin Line?

Saya lihat ada perbedaan besar antara cara memimpin dulu di XL dan sekarang di Line. Workforce-nya berbeda. Range usianya juga beda. Dulu di XL usianya rata-rata 35-40 tahun, tetapi di Line 22-27 tahun. Generasinya berbeda. Saya lihat di Line ini mereka pengen berpartisipasi dalam suatu keputusan.

 

Jadi, nggak bisa kita bilang, kerjain ini, kerjain itu. Mereka harus diyakinkan, kenapa harus lakukan itu. Mereka juga cepat bosan. Mereka siap menerima responsibility yang besar lebih cepat. Memang kita lihat, mereka belum berpengalaman. Dengan tantangan-tantangan seperti itu, saya harus bisa memimpin, di mana saya harus lebih banyak share dulu gambaran pekerjaannya seperti apa. Jadi, mereka mengerti kenapa harus kerjain yang ini sekarang. Atau kenapa yang dikerjakan ini penting.

 

Yang berikut, kita harus lebih banyak lagi kasih kesempatan kepada mereka untuk lebih cepat maju. Kebetulan di Line orangnya nggak banyak. Jadi, bisa saja baru lulus setahun atau dua tahun punya responsibility yang besar.

Gebrakan yang pernah Anda capai?

Waktu di Citibank, saya bertugas menjaga agar Citibank tidak terlalu dalam terkena krisis ekonomi. Sebab waktu itu, pada 1998, terjadi krisis moneter, krisis ekonomi. Dan itu cukup berhasil. Buktinya, Citibank masih ada hingga sekarang.

 

Waktu di XL, namanya project Rp 1. Itu sampai dibukukan Rhenald Kasali. Di XL sebenarnya banyak sekali, mulai dari kelanjutan Rp 1, kemudian peluncuran LTE. Penggabungan XL dan Axis juga tidak gampang.

 

Itu, menurut saya, prestasi yang luar biasa bagi tim. Tim waktu itu bekerja dengan sangat keras. Mudah-mudahan di Line juga ada gebrakan-gebrakan baru yang berguna bagi masyarakat. Saya harapkan momentumnya ke depan lebih cepat lagi.

 

Filosofi hidup Anda?

Pertama, menurut saya, yang paling penting adalah integrity. Kita janjikan orang sesuatu, kita mesti penuhi atau tepati. Ini berlaku di dunia kerja maupun secara personal.

 

Bagi saya, bagi orang Indonesia, yang paling penting itu kan integritas. Kita sudah janji sekian, dengan kualitas sekian, kita harus memenuhinya, bahkan kalau bisa lebih.

Kedua, apa yang saya jalani ini semua ada maksudnya dari Tuhan. Tujuannya supaya kita bisa membagikannya kepada orang lain, terutama mungkin dari sisi monetary. Jadi, saya lebih open lagi untuk membantu keluarga dan orang lain. Mereka banyak sekali butuh bantuan.

 

Sebenarnya orang-orang seperti saya yang bisa membantu. Sekarang, saya juga menjadi Sekjen di iCIO Community, saya coba lihat apa saja yang paling penting bagi teknologi informasi (TI) di Indonesia. Jangan sampai semua pasar TI Indonesia larinya ke luar negeri.

 

Ketiga, relationship. Menurut saya, apa yang kita kerjakan ujung-ujungnya pertemanan. Relationship begitu penting dalam menjalankan karier maupun dalam bertugas.

 

Anda ingin menjadikan Line seperti apa?

Sekarang sih cukup clear bahwa kami nggak akan setop di massaging saja. Kami harus mulai ke smart portal. Mungkin konsep smart portal ini agak abstrak. Namun, pelanggan harus bisa membayangkan apa sih Line itu? Di Line kan itu ada, line pay, line shop, line jobs, dan sebagainya.

 

Menurut saya, ujung-ujungnya, user akan melihat Line ini seperti apa. Tinggal user yang menentukan saja. Mungkin orang sekarang melihat Facebook sebagai media sosial, tetapi menurut saya Facebook juga platform konten. Jadi, ujungnya yang menentukan adalah user need. Kita yang harus jeli menangkap kebutuhan-kebutuhan masyarakat dan langsung menerjemahkannya ke dalam layanan-layanan yang dibutuhkan masyarakat.

 

Bagaimana Anda menyeimbangkan pekerjaan, keluarga, dan kehidupan sosial?

Keluarga tentu yang paling utama. Saya sudah punya dua anak. Yang satu sudah kelas dua SMA, yang satu kelas dua SMP. Mungkin sekarang, dengan usia seperti itu, mereka sudah tidak terlalu demanding lagi, dibandingkan waktu masih kecil. Pada akhir pekan, mereka kadang-kadang malas kalau diajak jalan. Mereka sudah punya waktu sendiri. Saya sekarang malah lebih banyak waktu dengan istri kalau weekend.

 

Sebenarnya, kalau urusan keluarga, nggak bisa hitam-putih begitu. Saya banyak jelasin pekerjaan saya ke mereka, sehingga mereka juga tahu bahwa saya sedang bekerja. Kenapa saya harus pulang malam, misalnya. Jadi, mereka lebih bisa paham. Tapi sebisa mungkin saya juga spend time buat mereka.

Baca juga http://id.beritasatu.com/home/golf-dan-travelling/157399


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!




Data tidak tersedia.