ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Senin, 26 Juni 2017
BS logo

GRETCHEN ALCATARA LARGOZA, Managing Director Ogilvy One Indonesia

Jangan Tinggal di Masa Lalu
Senin, 5 Juni 2017 | 18:49

Gretchen Alcatara Largoza, Managing Director Ogilvy One Indonesia. Foto: Investor Daily/IST Gretchen Alcatara Largoza, Managing Director Ogilvy One Indonesia. Foto: Investor Daily/IST

Kebanyakan orang memutuskan untuk ’menyerah’ jika harus dihadapkan pada pekerjaan yang selalu dikejar-kejar tenggat (deadline), semrawut (chaotic), dan acapkali dilanda kepanikan jika tugas belum selesai.

Namun, perempuan berpenampilan kalem dan senang bercanda ini malah memilih untuk menikmati suasana chaotic. Ia justru menganggapnya sebagai sebuah kesenangan sekaligus tantangan dalam pekerjaan yang dijalaninya di bidang digital advertising communications.

Bisa jadi sifat pantang menyerah itu muncul berkat pesan yang selalu disampaikan sang ibunda kepadanya. Sifat itulah yang membuat Gretchen Alcatara Largoza mampu bertahan mengatasi setiap masalah dalam pekerjaannya.

“Ibunda saya berpesan agar saya tidak mudah menyerah dan tidak tinggal di masa lalu,” tutur Gretchen Alcatara Largoza kepada wartawati Investor Daily Happy Amanda Amalia di Jakarta, belum lama ini.

Tugas pertama Gretchen saat menempati posisi puncak di Ogilvy One Indonesia di Jakarta sempat membuatnya kesulitan. Soalnya, sebagai Managing Director, perempuan asal Filipina ini diwarisi setumpuk masalah dari pemimpin sebelumnya. Alhasil, ia harus bekerja keras, terutama mengembalikan kepercayaan klien untuk bekerja sama lagi dan memulihkan kondisi keuangan.

“Saat itu tidak ada yang mau bekerja sama dengan Ogilvy One. Pada 2014, waktu saya datang ke sini, banyak klien yang memecat kami, pendapatan kami juga tidak baik. Saat itu kami menjalin kerja sama dengan salah satu brand Unilever dan brand tersebut memecat kami. Bahkan jumlah karyawan kami kurang dari 20 orang,” papar Gretchen.

Karena diberi kepercayaan memimpin Ogilvy One di Jakarta maka semua warisan yang ditinggalkan pemimpin sebelumnya harus diatasi dengan baik. “Masalah-masalah itu memang diwariskan ke saya, tapi pokoknya bagaimana caranya saya harus bisa mengatasi dan bertanggung jawab. Jadi, itu adalah masalah utama saya pasa 2014,” ujar Gretchen.

Tidak mau menyerah, penggemar rendang ini pun bekerja keras memulihkan kondisi perusahaan. Setiap akhir pekan, ia menerima telepon dari pimpinannya di Hong Kong yang mempertanyakan berbagai laporan soal angka yang salah dan angka yang terlalu rendah.

Kini, Gretchen bisa membusungkan dada, boleh tersenyum bangga. Itu karena ia bisa memperbaiki kondisi perusahaan di Jakarta, mulai dari kondisi keuangan, jumlah karyawan yang bertambah, dan banyak klien. Berikut petikan lengkapnya.



Bagaimana perjalanan karier Anda hingga menduduki posisi puncak di Ogilvy One Indonesia?

Sebelumnya saya memimpin sebuah grup interaksi di Indonesia, namun saya memutuskan untuk meninggalkannya karena ingin mengejar bidang lain yang lebih kreatif. Kemudian saat bekerja di Filipina, saya ditawari peluang lagi untuk bekerja di Indonesia karena ada yang baru saja meninggalkan posisi Managing Director di sini. Jadilah saya datang ke sini pada 2014 untuk memimpin Ogilvy One Indonesia.

Saya sebenarnya pernah datang ke Indonesia pada 2007. Itu pertama kalinya saya datang ke sini. Pada tahun itu, saya sedang bekerja di Leo Burnett dan sempat menetap di Indonesia, mungkin sekitar 1,5 tahun. Kemudian saya kembali Filipina karena dipanggil lagi oleh Ogilvy One.

Apa yang menarik dari digital advertising communications?

Ini bidang chaotic, fun, sama seperti yang terjadi di Filipina, meskipun tidak sama persis. Di sini lebih chaotic dan ada banyak hal yang harus dilakukan. Saya sendiri sangat senang bekerja dengan banyak orang dan tantangannya benar-benar berbeda.



Contoh tantangan yang Anda hadapi di Indonesia?

Saat itu tidak ada yang mau bekerja sama dengan Ogilvy One. Pada 2014, waktu saya datang ke sini bekerja di Ogilvy One Indonesia, ada banyak klien yang memecat kami. Pendapatan kami saat itu juga tidak baik.

Waktu itu kami bekerja dengan salah satu brand Unilever dan salah satu brand itu memecat kami. Saya sempat mengatakan kepada klien agar mencoba dulu bekerja sama dengan kami, tapi mereka menolak. Kami kehilangan kesempatan untuk kerja sama dengan brand tersebut. Pada tahun sebelumnya, kami juga kehilangan kerja sama dengan Nestle dan kami mengalami masa-masa sulit karena mereka enggan berbicara dengan kami.

Sampai akhirnya, tim kami hanya tersisa kurang dari 20 orang. Tantangan yang saya hadapi, pertama adalah tidak ada pemasukan pendapatan, sehingga kami tidak bisa mempekerjakan orang lain. Kedua, tidak ada yang mau bekerja sama dengan kami.



Alasan klien menolak kerja sama?

Itu karena cara kerja dari kepemimpinan sebelumnya. Tapi tidak dapat diceritakan di sini karena itu bukan yurisdiksi saya. Saya hanya belajar dari masalah-masalah yang terjadi, seperti keterlambatan dalam pekerjaan, kehilangan tenggat, dan banyak pekerjaaan yang sudah dijanjikan sebelumnya ternyata belum selesai. Ada juga masalah lainnya.

Belum lagi perbedaan gaya saya dalam memimpin. Pemimpin sebelumnya adalah orang Prancis dan dia memiliki hubungan baik dengan orang-orang. Kemudian saya datang menggantikan posisinya, jadi ada sedikit guncangan yurisdiksi. Apalagi saya tipe orang yang berbicara langsung dan ingin segalanya jelas agar dapat diselesaikan.

Jadi, ketika mulai berada di sini, saya selalu mendapat telepon setiap akhir pekan dari pimpinan saya di Hong Kong, misalnya menanyakan angka yang salah, angkanya rendah, bagaimana caranya kami melakukan ini. Tapi, tapi itu semua kan warisan yang ditinggalkan kepada saya, bagaimana caranya saya harus bisa mengatasi dan bertanggung jawab. Jadi, itu adalah masalah utama saya. Benar-benar masa-masa yang sulit bagi kami.



Bagaimana cara Anda menyelesaikan semua itu?

Saya sendiri sebenarnya memiliki hubungan yang baik dengan Unilever. Jadi, yang saya lakukan adalah berbicara untuk meyakinkan mereka bahwa kami menempatkan landasan baru di Ogilvy One. Saya katakan bahwa akan ada orang-orang yang membantu dan nantinya saya juga berada di garis depan untuk menyelesaikan semuanya.

Saat itu, pekerjaan yang saya lakukan sangat banyak, mulai jadi AE (account executive), hingga mengurus soal produksi. Saya sendiri pun tahu bagaimana menyelesaikan itu semua melalui kerja sama dengan orang-orang.

Kalau kamu tanyakan ke tim, mereka pasti berkomentar bahwa saya memeriksa semuanya. Itu memang yang harus dilakukan dari awal sampai akhir. Bila tidak dilakukan, kualitas yang dicapai tidak akan terpenuhi.

Kemudian satu hal pertama yang harus saya lakukan adalah benar-benar mencari orang-orang yang sangat kami butuhkan. Saat itu, ada delapan orang bersama saya, sehingga kami meletakkan landasan baru dengan memulai prosesnya bersama-sama dan benar-benar mencari orang-orang terbaik untuk ditempatkan di dalam tim.

Satu hal lagi yang benar-benar cocok bagi saya adalah bekerja dengan anak-anak muda Indonesia untuk menjadi bagian dari tim, yang juga sangat excited melakukan hal-hal berbeda.

Perlahan tapi pasti, kami mulai membangun tim. Dari situ, kami mulai memperoleh klien lagi. Selain dengan Unilever, kini kami bekerja sama dengan 11-12 brand. Kami juga berhasil menjalin kerja sama dengan Nestle. Selama dua tahun terakhir, pertumbuhan kami di seluruh Asia Tenggara mencapai 55% dan tahun ini ada 5.000 karyawan yang bekerja di kantor kami di New York.



Target yang dibidik Ogilvy One dalam 5-10 tahun mendatang?

Target kami berjalan beriringan dengan kerja. Di Indonesia semua tentang nation building dan ada banyak yang bergerak di bidang teknologi start-up, anak-anak muda, wanita, entrepreneur, semua itu sedang berkembang. Yang pasti, kami harus dapat bekerja sama dengan orang-orang di sini. Mengejar target untuk global ada, tapi kami harus mampu bekerja dengan anak-anak muda dan perusahaan yang datang dari mana saja.



Seperti apa gaya kepemimpinan Anda?

Open door policy. Semua orang bisa datang menemui saya dan membicarakan yang ingin mereka bicarakan, dan harus menghasilkan solusi. Tapi tergantung apa yang akan dibicarakan. Ada salah satu saran bos saya waktu pertama kali saya terjun bekerja di Ogilvy One. Dia bilang saya harus menjadi spons dan mau belajar. Dengan menjadi spons, saya akan lebih mudah menjalani pekerjaan ini dan mau terus belajar. Mungkin dia melihat latar belakang pendidikan saya yang lulusan seni rupa.


Saya juga dekat dengan para staf saya, meski mungkin ada juga yang bilang tidak dekat. Ha, ha, ha... Tapi di tim ini ada beberapa orang yang terus bersama saya sejak saya memimpin Ogilvy One Indonesia. Meskipun bisa dekat dengan staf dan hang out bersama-sama, saya tetap profesional.



Bukankah tidak banyak perempuan yang terjun ke dunia digital?

Saya kira itu hanya mindset. Padahal kalau dilihat, banyak perempuan yang terjun ke dunia ini, bahkan di tim kami banyak perempuannya. Yang diperlukan adalah kita harus mendorong perempuan untuk berani maju berbicara dan memberikan kesempatan untuk melakukan.

Memang masih ada bidang yang didominasi kaum lelaki, biasanya teknologi. Tapi jika perempuan mau membuka mata dan sangat ingin tahu, seharusnya mereka diberi kesempatan. Kita tidak akan pernah tahu kalau belum mencoba.


Apa harapan dan impian yang ingin terus dicapai?

Simpel saja sih, saya selalu excited dan happy. Hidup kan sudah menantang setiap harinya, kita juga sudah bekerja dan melihat perubahan setiap harinya.



Hal terbaik secara fisik dan mental yang Anda peroleh saat bekerja di Ogilvy One?

Pertama, ketika sebuah tim benar-benar bekerja layaknya tim. Kedua, ketika tidak lagi mendapat telepon dari presiden kami yang memprotes angka-angka buruk yang diperoleh. Tapi yang membuat saya semangat adalah orang-orang yang memutuskan untuk tetap bekerja di Ogilvy One, mengingat banyak yang keluar pada 2014.



Target pribadi dalam menjalani hidup?

Sebenarnya banyak. Tapi yang paling dekat adalah menjaga kesehatan. Sekarang saya juga lebih sering makan makanan sehat. Menjaga kesehatan penting karena kita kan semakin tua. Selain itu, saya ingin selalu dekat dengan keluarga serta bersama-sama orangtua dan saudara.



Seperti apa hubungan Anda dengan keluarga?

Sangat baik. Bahkan saudara lelaki saya yang tinggal di Singapura sering terbang ke Indonesia untuk mengunjungi saya. Hubungan kami sangat dekat. Orang tua saya belum lama ini juga berakhir pekan di sini dan Indonesia selalu menjadi tempat favorit ibu saya. Ibu saya sudah pernah ke Bandung, Bali, Yogya, Jakarta. Kemudian ayah saya adalah orang yang sangat lucu.



Siapa tokoh yang paling menginspirasi Anda?

Salah satu bos saya, Ichay Bulaong. Dia bos perempuan pertama saya yang ’gila banget’. Selain keren, semua orang ingin selalu kerja sama dengan dia. Dia adalah sosok yang nggak mudah panik, selalu memberikan saran dan banyak yang semangat bila bekerja dengan dia. Meski dia sudah tidak di Ogilvy One lagi, saya selalu bisa menghubungi dia ketika saya mengalami kesulitan dalam mengambil keputusan.

Lalu ibu saya. Saya melihat dia sebagai sosok yang kuat dan pandai mengurus bisnis keluarga. Ibu saya selalu mengajarkan agar jangan menyerah dan harus selalu mencoba. Kalau sudah dicoba dan ternyata tidak suka, ya setidaknya sudah pernah mencoba dan tahu.


Ada satu lagi yang saya ingat tentang ibu saya, yaitu rambutnya selalu tampil rapi. Ha, ha, ha, .... Saat tidur, ibu saya selalu menggunakan rol rambut. Jangan heran kalau rambutnya selalu terlihat fantastis. Yang saya contoh dari ibu saya adalah selalu tampil rapi dan profesional saat bekerja.

Ada lagi David Mackenzie Ogilv. Saya paling ingat quote-nya, ‘Saya selalu mempekerjaan orang yang lebih cerdas dari saya’. Alasannya, kita tidak tahu semua hal. Itu yang menjadikan landasan Ogilvy lebih kuat sekarang.



Filosofi hidup Anda?

Kalimat ini seperti mantra buat saya, yakni Always be excited about the possibilities. Dalam kehidupan yang saya jalani ini sudah ada kesedihan. Oleh karena itu, saya ingin selalu merasa bersemangat tentang segala serta selalu introspeksi dan menjadi orang baik setiap hari.



Bagaimana cara Anda bangkit dari kegagalan?

Saya tinggalkan saja di masa lalu. Tapi saya akan mencoba untuk melihat apa yang salah dan bagaimana memperbaikinya. Apapun yang sudah terjadi, tinggalkan di masa lalu karena itu sudah terjadi.

Ibu saya mengajarkan kepada saya agar jangan tinggal diam di masa lalu. Kalau sudah merasakan satu kegagalan maka harus mencoba mencari cara untuk bangkit dan sukses. Sebab, tidak ada yang sempurna. (*)


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!




Data tidak tersedia.