ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Selasa, 21 Februari 2017
BS logo

PARWATI SURJAUDAJA

Lakukan Apa yang Dikatakan
Senin, 13 Februari 2017 | 18:34

Menjadi ibu, ayah, kakak, sekaligus chief executive officer (CEO). Mungkin itulah gambaran yang paling pas bagi gaya kepemimpinan Parwati Surjaudaja. Saat menakhodai perusahaan, ia akan menjalankan peran yang berbeda-beda sesuai kebutuhan, situasi, dan kondisi.


Sifat keibuan sangat kental dalam gaya kepemimpinan orang nomor satu di PT Bank OCBC NISP Tbk ini. Namun, kelembutan itu diiringi sikap tegas seorang ayah. Kecuali itu, dengan sifat kesabaran seorang kakak, Parwati bisa mengambil keputusan-keputusan bijak untuk perusahaan.


Model kepemimpinan yang komplet itu diterapkan Parwati Surjaudaja selama hampir tiga dekade di Bank OCBC NISP, bank hasil merger dan akuisisi antara OCBC Singapura dan Bank NISP, bank lokal yang didirikan dan dibesarkan ayahnya, Karmaka Surjaudaja.


Rupanya keluarga memiliki peran sangat besar dalam membentuk gaya kepemimpinan Parwati. Ia mendapatkan nilai-nilai leadership dari orang tuanya, mulai prinsip, moto kehidupan, hingga integritas, termasuk bagaimana ia harus berinteraksi dengan orang lain.


“Selain itu, kakak saya mengajari saya tentang kesabaran,” tutur Parwati kepada wartawati Investor Daily Gita Rossiana di Jakarta, pekan lalu.

Dari sejumlah nilai kepemimpinan yang dijalankan Parwati, ada satu hal yang tak boleh ditawar-tawar. “Yang paling penting dari sebuah kepemimpinan adalah melakukan apa yang sudah dikatakan,” ujar dia.


Ibu empat anak ini mencontohkan, ketika meminta bawahan atau karyawan melakukan sesuatu untuk kebaikan perusahaan, ia juga harus melakukannya, bahkan yang terdepan.


“Ketika mengatakan kepada staf harus seperti ini, seperti itu, tapi saya tidak melakukannya maka target atau tujuan perusahaan tidak akan berhasil. Saya terlebih dahulu harus jadi panutan,” tegas dia. Berikut petikan lengkapnya.


Anda sejak awal memang disiapkan menjadi bankir oleh keluarga?

Latar belakang saya accounting, namun awalnya saya dulu diarahkan orang tua untuk menjadi dokter anak. Tapi ayah saya sakit waktu itu. Dokter memvonis usianya tinggal lima tahun. Jadi, saya hanya diberi waktu tiga tahun untuk bisa menyelesaikan pendidikan. Saya berpikir, pendidikan apa yang bisa diselesaikan dalam tiga tahun. Akhirnya saya memilih accounting di San Fransisco, karena ilmu accounting merupakan dasar dari semua hal.


Anda langsung bekerja di Bank OCBC NISP?

Saya bekerja di perusahaan konsultan terlebih dahulu, sekitar tahun1987-1990. Selanjutnya saya baru masuk ke Bank NISP, sebelum bergabung dengan Bank OCBC. Kemudian, saya menjabat sebagai Wakil Presiden Direktur sejak 1997 dan dipromosikan sebagai Presiden Direktur Bank OCBC NISP pada akhir 2008 hingga saat ini.


Pelajaran penting yang Anda petik selama 27 tahun bekerja di bank?

Awalnya saya sempat skeptis dan beranggapan bahwa industri perbankan itu membosankan. Namun ternyata saya mendapat banyak pelajaran. Setiap hari adalah tantangan dan saya menemukan banyak pelajaran. Apalagi di tengah perkembangan teknologi seperti saat ini, semuanya harus dipelajari dan setiap tantangan harus dihadapi.


Terobosan apa saja yang sudah Anda lakukan?

Waktu masih menjadi Bank NISP, perusahaannya masih berbentuk perusahaan keluarga. Namun ketika menjadi perusahaan publik, semuanya berubah, dari yang pada awalnya hanya menjadi pembicaraan antarkeluarga, menjadi sesuatu yang harus dibuka secara transparan kepada analis, investor, publik, perusahaan sekuritas, dan otoritas. Semuanya mengubah pola pikir kami.


Kemudian pada 2009 saya sempat menginisiasi pembentukan Unit Usaha Syariah Bank OCBC NISP dan memimpin merger strategis antara Bank NISP dan Bank OCBC. Transisi yang lancar dalam menggabungkan dua kekuatan merupakan simbol komitmen yang kuat dari OCBC Bank Singapura untuk fokus kepada satu bank di Indonesia, yaitu Bank OCBC NISP.


Melalui inovasi dan penyempurnaan yang terus-menerus dilakukan, kami telah membangun kepercayaan yang kuat dari OCBC Bank Singapura yang memiliki 85,1% saham Bank OCBC NISP.


Apa yang berubah di Bank OCBC NISP setelah menjadi perusahaan publik?

Tentunya kami harus merumuskan budaya kerja. Awalnya kami memutuskan sesuatu dengan prinsip kekeluargaan, kalau berhubungan dengan keluarga dimaafkan. Namun ketika menjadi perusahaan publik, semua dituntut untuk profesional, dengan akuntabilitas. Ada reward and punishment dalam setiap pekerjaan.


Yang ingin Anda capai ke depan?

Dalam era baru ini, semua hal serba transparan, terbukti dengan adanya program tax amnesty dan pembukaan data nasabah. Artinya ke depan, banyak kesempatan yang terbuka lebar dan saat ini kami berpikir bagaimana caranya menangkap peluang tersebut.


Dengan memiliki jaringan induk Bank OCBC, Bank OCBC NISP memiliki kesempatan untuk menjadi bank regional. Tinggal bagaimana kami bisa memanfaatkan jaringan, baik individu maupun bisnis, ke dalam bentuk pemberian layanan dan jasa kepada nasabah.


Pencapaian yang ingin Anda peroleh dari sisi bisnis?

Kami memulai Bank OCBC NISP pada 2008 dengan aset Rp 34 triliun. Pada 2016, asetnya sudah menjadi Rp 138 triliun. Sedangkan total laba bersih meningkat lima kali dari Rp 317 miliar menjadi Rp 1,8 triliun.


Tentunya kami ingin terus menumbuhkan aset dan menjadi 10 bank terbesar di Indonesia. Sekarang kami baru masuk 12 bank terbesar. Pencapaian aset 10 bank terbesar di Indonesia bisa saja kami capai dalam 3-5 tahun ke depan. Namun, persoalannya adalah pencapaian tersebut harus diiringi dengan pertumbuhan yang berkualitas dan berkesinambungan.


Anda punya gaya kepemimpinan seperti apa?

Yang paling penting dari sebuah kepemimpinan adalah melakukan apa yang sudah dikatakan. Ketika saya mengatakan kepada staf harus seperti ini, seperti itu, tapi saya tidak melakukannya maka target atau tujuan perusahaan tidak akan berhasil. Saya terlebih dahulu harus jadi panutan.


Anda juga menerapkan sistem reward and punishment?

Untuk kinerja kuantitatif, tentunya ada reward and punishment yang diterapkan. Namun kalau berbicara kualitatif, kita berbicara nilai, sehingga perlu dijaga pula integritas supaya perusahaan menjadi lebih sustainable.


Filosofi hidup Anda?

Semuanya, menurut saya, harus diawali dengan niat baik. Kita harus melakukan sesuatu dengan sepenuh pikiran, melakukan yang terbaik. Mengenai hasil, itu terserah Allah. Kalau misalnya sesuatu tidak sesuai dengan yang diharapkan, mungkin belum waktunya.


Apa kunci sukses Anda?

Kunci sukses itu meliputi berbagai lingkup kehidupan, mulai dari kehidupan pribadi hingga profesional. Dalam setiap kehidupan tersebut, kita harus memenuhinya secara berimbang, termasuk memenuhi kebutuhan stakeholder, yaitu nasabah, karyawan, pemegang saham, masyarakat.

Begitu pun ketika di rumah, harus seimbang pula memerankan peran sebagai sebagai ibu, yakni menyiapkan anak-anak dengan nilai-nilai yang baik.


Peran keluarga dalam kehidupan Anda?

Keluarga memiliki peran sangat besar dalam hidup dan karier saya. Ayah dan ibu saya merupakan panutan yang luar biasa. Prinsip, moto kehidupan, integritas, bagaimana berinteraksi dengan orang lain, semuanya saya dapatkan dari orang tua.


Begitu pula dengan kakak saya, Pramukti. Dia merupakan orang yang paling sabar. Maka apabila menemukan masalah, saya sering menemui dia. Namun, karena Pramukti juga merupakan presiden komisaris di Bank OCBC NISP, saya tentunya berinteraksi secara profesional ketika di kantor serta mengesampingkan hubungan kakak dan adik.


Hubungan Anda dengan anak-anak?

Menjadi presiden direktur membuat saya hampir tidak memiliki liburan. Ketika di rumah pun saya harus bekerja menjadi seorang ibu. Namun, saya tetap menganggap peran ibu adalah prioritas saya. Sebab, pekerjaan di kantor bisa saja saya delegasikan. Tapi peran ibu, yakni mendidik anak agar memiliki nilai-nilai yang benar dan menjadikannya mandiri tentunya itu tanggung jawab saya.


Saya tidak seperti ibu kebanyakan yang memaksa dan membuat anak manja. Saya lebih memberikan tanggung jawab kepada mereka. Ketika mereka meminta bantuan, baru saya turun tangan.



Bagaimana Anda membagi waktu dengan keluarga?

Saya memiliki empat anak, satu sudah berumur 26 tahun dan tinggal di Amerika. Anak kedua sedang kuliah sejarah, anak ketiga masih kelas 3 SMA, dan anak bungsu kelas 1 SMA. Kami biasanya menghabiskan akhir pekan bersama dengan pergi ke supermarket atau memasak bersama.


Apa kira-kira yang Anda lakukan setelah pensiun nanti?

Saat ini saya berusia 52, mau masuk 53 tahun. Tentunya terlebih dahulu saya memastikan bekal pendidikan anak saya terpenuhi sebelum pensiun. Lalu ketika pensiun, saya ingin kembali kepada masyarakat dalam bentuk kontribusi nyata. Namun, saya belum bisa memikirkan bentuk kontribusinya seperti apa.


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!