ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Kamis, 30 Maret 2017
BS logo

TASWIN ZAKARIA

Tanpa Kerja Keras, Semua Tak Berarti
Senin, 6 Februari 2017 | 15:42

Kerja keras dan ketekunan. Hanya dua kata itulah yang ada dalam kamus hidup Taswin Zakaria. Bagi bankir yang satu ini, semua rencana, strategi, dan target-target yang terdengar ‘wah’ akan menguap tak berbekas jika tidak diiringi kerja keras dan ketekunan.


“Kerja keras dan ketekunan adalah kunci untuk mencapai sesuatu. Tanpa keduanya, semua tak ada artinya,” ujar Presiden Direktur PT Bank Maybank Indonesia Tbk itu kepada wartawati Investor Daily Mardiana Makmun di Jakarta, baru-baru ini.


Rupanya, sifat tekun dan pekerja keras sudah melekat dalam diri Taswin Zakaria sejak ia kecil. Sifat itu turut mengantarkannya ke puncak manajemen bank yang merupakan bagian dari grup Malayan Banking Berhad (Maybank), Malaysia, ini.


“Ketekunan dan kerja keras saya contoh dari ayah dan ibu saya. Mungkin karena saya dulu dididik seperti itu oleh orang tua,” tutur dia.


Sejak usia muda, Taswin memang sudah hidup mandiri. Saat duduk di bangku SMA, ia jauh dari orang tuanya. “Orang tua di Medan, saya sekolah SMA di Jakarta. Jadi, saya sudah biasa hidup mandiri. Keinginan untuk maju juga datang dari diri sendiri,” papar dia.


Apa saja yang telah dilakukan Taswin Zakaria untuk Maybank Indonesia? Apa pula targetnya? Bagaimana ia menerapkan budaya kerja? Berikut petikan lengkap wawancara dengan orang nomor satu di bank yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan kode saham BNII itu.


Bisa cerita perjalanan karier Anda?

Awal karier saya memang langsung bekerja di bank. Kebetulan latar belakang pendidikan saya adalah accounting. Saya banyak membuat analisa keuangan. Dunia bank itu kan pekerjaan yang sarat dengan analisa dan pengambilan keputusan yang penuh analisa.


Apa hal paling menarik dari industri perbankan?

Yang menarik di perbankan, kami melakukan kegiatan dan fungsi intermediasi yang sangat penting untuk mendukung kelangsungan ekonomi. Bank adalah urat nadi perekonomian. Kami memberikan likuiditas untuk modal kerja, investasi, konsumi, dan lain-lain. Kami juga memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk berinvestasi di bank, misalnya lewat deposito atau menyimpan dana di tabungan. Itu semua bermanfaat bagi ekonomi dan masyarakat.


Tantangan di bank?

Sumber daya manusia (SDM). Mengapa? Ada dua hal. Pertama, karena perbankan adalah institusi yang sarat analisis. Kedua, bank sarat inovasi. Karena itu, akan sulit bagi industri perbankan untuk beroperasi dan berkembang dengan baik di lingkungan yang ketersediaan SDM-nya kurang memadai secara pendidikan maupun talenta. Itu karena bank adalah industri jasa yang memberikan solusi keuangan. Kalau SDM tidak bagus, industri tak berkembang.


Kiprah Anda di MBI?

Saya bergabung dengan Maybank Indonesia (MBI) sejak 1992. Pengalaman saya di Maybank Indonesia adalah pengalaman yang berkesan selama karier saya, karena tantangan di sini multidimensi. Saya memimpin MBI ketika industri bank memasuki periode perlambatan ekonomi, yaitu pada 2013-2014.


Saat bersamaan, harga komoditas utama yang menjadi andalan ekspor Indonesia anjlok. Apalagi ada pembatasan ekspor. Akibatnya, portofolio bank rontok.


Seberapa besar dampaknya terhadap MBI?

MBI juga terimbas kelambatan ekonomi itu. MBI saat itu bahkan harus menelan kerugian yang cukup besar. Mungkin terbesar dalam sejarah MBI, yaitu Rp 1,3-1,7 triliun.


Apa yang Anda lakukan?

Kerugian ini tidak gampang ditutup. Saya harus berpikir keras bagaimana agar pendapatan dan laba bisa tumbuh serta tetap bisa menjaga moral karyawan. Sebab, kondisi ini bisa memengaruhi moral dan netralitas karyawan. Lalu, tiga tahun lalu, saya putuskan untuk melakukan transformasi yang nggak gampang dalam keadaan ekonomi sulit dan keuangan perusahaan yang tak mendukung. Transformasi itu menjadi investasi kami untuk masa berikutnya.


Seperti apa transformasinya?

Kami melakukan transformasi kantor-kantor cabang, yaitu dengan memberikan otonomi lebih kepada kantor-kantor wilayah agar mereka lebih mandiri. Kantor cabang kan bisa lebih mendekatkan diri pada peluang di daerah masing-masing.


Dalam hal ini, kami tidak menerapkan satu model bisnis yang sama. Ini kami lakukan agar pendapatan MBI tetap bertumbuh sesuai pertumbuhan wilayah masing-masng dan tumbuh di atas rata-rata nasional. Contohnya di Sumatera dan Sulawesi, mereka mencatatkan pertumbuhan di atas rata-rata nasional.


Kami lihat ekosistem di Sumatera, yaitu agribisnis, terutama perkebunan sawit dan karet. Saat itu, pertumbuhan bisnis sawit masih kuat. Meski harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) turun, CPO masih menjadi kebutuhan nasional.


Lalu Sulawesi lebih beragam. Ada perkebunan, termasuk sawit, dan hasil alam. Nah, kantor cabang di wilayah harus menangkap peluang pertumbuhan di sana. Yang menjadi tantangan adalah bagaimana mengubah mindset kepala cabang di masingmasing daerah. Yang tadinya menunggu arahan dari pusat, kini harus mentransformasikan strategi bisnis sesuai daerah masingmasing.


Hasilnya bagaimana?

Transformasi berjalan. Itu terlihat dari meningkatnya produktivitas kantor cabang.


Target ke depan?

Ke depan, kami targetkan sumber pendapatan merata di seluruh cabang di Indonesia, tidak hanya di Jawa. Target 2017, MBI bisa bertumbuh minimal sesuai dengan pertumbuhan industri. Sumber pendapatan bisa terdiversifikasi dan pendapatan fee base bisa lebih baik dari sebelumnya.


Dalam memimpin, budaya kerja seperti apa yang Anda tanamkan?

Kembalikan ke visi dan misi. Visi ini harus jelas. Lalu visi dituangkan ke dalam strategi yang jelas. Nah, strategi pendekatan ke daerah itu harus sesuai dengan visi dan misi. Kami juga melengkapinya dengan pendidikan dan training untuk para pimpinan agar mereka bisa lebih mandiri. Manajemen pusat di MBI sudah dua tahun ini memiliki hubungan yang sangat erat dengan pimpinan di seluruh wilayah. Kami rutin melakukan kunjungan untuk sosialisasi, untuk memperjelas visi dan misi. Ini interaksi dua arah.


Filosofi Anda dalam memimpin perusahaan dan kehidupan sehari-hari?

Hemm... Saya nggak punya filosofi. Tapi dalam menjalani hidup, saya adalah tipe pekerja keras. Mungkin karena saya dulu dididik seperti itu oleh orang tua. Sejak usia muda, saya sudah hidup mandiri karena sekolah jauh dari orang tua. Orang tua di Medan, saya sekolah SMA di Jakarta.


Jadi, saya sudah biasa hidup mandiri. Saya nggak ditunggui orang tua. Semua saya atur dan kerjakan sendiri. Keinginan untuk maju juga datang dari diri sendiri. Satu hal yang saya dapatkan adalah kerja keras dan ketekunan.

Rencana yang baru, strategi, target, semua tak ada artinya tanpa kerja keras. Itu saya contoh dari ayah dan ibu saya sejak dulu.


Kegiatan Anda di waktu luang?

Pekerjaan saya sudah sangat menyita waktu. Tapi agar tetap sehat, saya sempatkan latihan di fitness center. Seminggu sekali, saya juga lari di car free day sejauh 10 km. Saya punya hobi lari sejak 20 tahun lalu. Tapi lari jarak jauh 10-15 km baru saya lakukan lima tahun ini. Manfaatnya, badan terasa segar.


Waktu sehari-hari kan habis tersedot untuk pekerjaan yang melelahkan fisik dan pikiran. Ketika lari, selain badan segar, hati dan pikiran juga menjadi senang. Lari itu mengeluarkan pikiran positif. Itu menjadi kompensasi pikiran jenuh setelah bekerja.


Di akhir pekan, saya memprioritaskan waktu untuk kumpul bersama istri dan anak-anak. Anak saya dua, putri dan putra. Saya dan anak-anak saya kebetulan orang rumahan. Kami menghabiskan waktu bersama dengan menonton film di rumah, berolahraga barsama di rumah, makan juga sering di rumah. (*)


Baca juga http://id.beritasatu.com/home/pecinta-sejati-kain-nusantara/156226


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!