ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Minggu, 26 Maret 2017
BS logo

Agung Nugroho, Co-Founder & COO PT Kudo Teknologi Indonesia

Tidak Berhasil Bukan Berarti Gagal
Senin, 27 Februari 2017 | 17:53

Agung Nugroho, Co-Founder & COO PT Kudoteknologi Indonesia. Foto:  Investor Daily/EMRAL Agung Nugroho, Co-Founder & COO PT Kudoteknologi Indonesia. Foto: Investor Daily/EMRAL

Para tamatan sekolah luar negeri umumnya enggan pulang kampung untuk berkarier di Tanah Air. Gaji besar dan fasilitas serba lengkap di negeri orang adalah alasan utamanya. Namun, tak sedikit pula yang memutuskan pulang dengan berbagai alasan, mulai dari kangen keluarga, kangen makanan, sampai ingin membangun kampung halaman.


Agung Nugroho termasuk dalam kelompok yang disebut terakhir. “Saya pulang karena saya cinta Indonesia. Beneran!” ujar Co-Founder dan Chief Operating Officer (COO) PT Kudo Teknologi Indonesia itu saat ditanya alasannya kembali ke Indonesia setelah menamatkan pendidikan di Haas School of Business, University of California, Amerika Serikat (AS).


Agung tidak sendirian. Bersama temannya, Albert Lucius yang kini menjabat sebagai Chief Executive Officer (CEO) Kudo, ia memutuskan pulang karena yakin kesempatan di Indonesia jauh lebih banyak.


“Kami melihat Indonesia itu land of opportunity. Banyak banget yang bisa dikerjakan di sini. Kalau ada yang tidak mau kembali, itu tergantung orangnya masing-masing. Di luar negeri mungkin bisa hidup enak, tapi nggak bisa kasih impact banyak,” tutur Agung Nugroho kepada wartawati Investor Daily Happy Amanda Amalia di Jakarta, belum lama ini.


Prinsip ingin memberikan dampak besar kepada orang lain itulah yang membuat keduanya memutuskan untuk mendirikan Kudo atau KUDO --kepanjangan Kios Untuk Dagang Online. Kudo adalah platform kios O2O (online to offline) yang membawa e-commerce ke jutaan penduduk Indonesia.


Tentu saja bisnis yang digeluti Agung Nugroho kerap membentur karang. Tapi penggemar film Godfaher dan Pursuit of Happynes ini selalu belajar dari kegagalan dan kesalahan.

“Omong kosong kalau saya bisa langsung berhasil. Saya juga tidak menganggap itu sebuah kegagalan, tapi lebih kepada trial and error. Sesuatu yang tidak berhasil bukan berarti gagal,” tegas dia. Berikut petikan lengkapnya.


Bisa cerita tentang awal mula bisnis Anda?

Bisnis ini berawal dari pertemuan saya dengan Albert.Sebenarnya saya bertemu Albert di Amerika setelah pisah selama delapan tahun. Kami pertama kali bertemu waktu sama-sama bersekolah di SMA yang sama. Kemudian kami berpisah dan menjalani hidup masing-masing. Dia melanjutkan kuliah di Amerika dan saya kuliah di Bandung. Kami bertemu lagi di Amerika. Setelah tamat, kami memutuskan untuk mendirikan Kudo.


Apa itu Kudo?

Kudo atau KUDO adalah kepanjangan Kios Untuk Dagang Online. Sekarang Kudo merupakan the biggest online to offline platform di Indonesia. Tujuannya untuk menjembatani orang-orang yang belum dapat melakukan transaksi online karena berbagai macam hal. Misalnya karena gagap teknologi (gaptek), tidak punya kartu kredit, atau tidak percaya, bahkan takut pada online payment system.


Padahal, sebenarnya mereka bisa melakukan transaksi barang-barang yang dijual secara online. Pada dasarnya aplikasi ini memberikan akses kepada jutaan penduduk Indonesia supaya dapat berbelanja segala macam barang yang bisa dibelanjain di e-commerce.


Tetapi yang lebih penting lagi adalah bagaimana caranya kita membuat suatu platform teknologi supaya bisa membuat orang-orang masuk ke dunia wirausaha atau kita bilangnya sebagai digital entrepreneur.



Bagaimana digital entrepreneur bisa terbentuk?

Misi Kudo adalah menciptakan satu juta digital entrepreneur, yang kita sebut sebagai agen Kudo. Pada dasarnya, dengan men-download aplikasi Kudo, lalu mendaftar menjadi agen dan memenuhi beberapa persyaratan, mereka sudah bisa buka ’toko’ dan bisa jualan. Jualan yang dilakukan para agen itulah yang tadi saya bilang dapat memfasilitasi orang-orang yang masih gaptek, yang masih takut untuk belanja online.


Misalnya saya punya warung di Depok. Di warung saya cuma dijual sampo dan rokok. Tapi dengan men-download aplikasi Kudo, saya jadi bisa berjualan tiket kereta api, pulsa, sampa baju. Kemudian ada pelanggan yang selalu belanja di warung saya dan saya tawarkan mau nggak beli tiket kereta, pesawat, pulsa, atau baju? Kalau mau, pelanggan saya tinggal bayar cash ke saya sebagai agen dan transaksi selesai, kemudian barang dikirim ke alamat pelanggan.


Kenapa pakai nama kios?

Sebenarnya karena dari awal kami mau bikin konsep bagaimana caranya mereka bisa berjualan berbagai macam barang secara digital. Biasanya di Indonesia kan kalau berjualan membuka warung, tapi sayangnya barang-barang yang dijual hanya itu itu saja. Tidak ada warung kelontong yang berjualan baju dan handphone. Atau sebaliknya kalau berjualan baju nggak berjualan kelontong.


Kenapa pilih nama kios karena itu good representation dari bayangan bahwa punya kios sebesar handphone itu keren. Memang kecil ’toko’-nya, tapi bisa ada di mana saja dan bisa jual apa saja. Kalau pakai smartphone android tinggal download. Melalui aplikasi itu, orang-orang bisa belanja di mana saja, bisa belanja macam-macam, mulai dari belanja pulsa, tiket, bayar tagihan, berjualan baju, sampai barang-barang yang biasa dijual di warung juga.


Yang membedakan dengan platform sejenis?

Kudo bukanlah e-commerce platform, melainkan perpanjangan tangan dari e-commerce platform supaya bisa diakses orang-orang yang tidak punya kartu kredit, gaptek, dan lainnya. Kami menjadi reseller-nya. Agen Kudo kalau menjual barang perusahaan e-commerce melalui applikasi kami dapat komisi.


Secerah apa prospek pasarnya?

Pasar Indonesia masih sangat besar. Jumlah penduduk kita sekitar 250 juta. Kita anggap yang berada di usia produktif, di luar anak kecil dan orang tua, ada 100 juta. Dari 100 juta itu, yang punya kartu kredit baru lima juta. Artinya, yang tidak punya kartu kredit ada 95 juta orang di usia produktif. Mereka pasti bayar tunai.


Kemudian dari 100 juta, yang pernah onliners dengan penetrasi online baru 40% atau sekitar 40 juta saja. Tapi dari 40 juta yang pernah belanja melalui e-commers paling banyak baru 5%, artinya ada dua juta orang lagi. Jadi, masih ada potensi 98 juta. Itu angka yang masih besar banget.



Bagaimana Anda melihat dukungan pemerintah?

Sejauh ini pemerintah secara umum sudah menyediakan regulasinya. Mereka sudah membuka diri dan sangat mendukung dalam hal regulasi, mulai dari regulasi digital hingga regulasi teknologi. Tapi ada satu hal lagi yang dapat didorong lagi oleh pemerintah, yakni talent empowerment di mana pemerintah bisa memfasilitasi pertumbuhan bakat-bakat yang lebih baik.


Caranya, yang pertama, pemerintah bisa mulai memasukkan kurikulum komputer sains sejak awal ke sekolah-sekolah, bisa mulai dari sekolah dasar (SD) atau sekolah menengah pertama (SMP). Yang kedua, memberikan kesempatan lebih besar dan insentif pajak untuk orang-orang Indonesia di luar negeri supaya kembali ke Indonesia.



Soal ‘memanggil’ pulang WNI di luar negeri, pengalaman pribadi Anda bagaimana?

Saya pulang kampung setamat kuliah di AS karena saya cinta Indonesia. Beneran. Lainnya karena opportunity di Indonesia lebih gampang. Indonesia itu land of opportunity. Kami, saya dan Albert, melihat Indonesia itu land of opportunity. Masih banyak banget yang bisa dikerjakan di sini, more than anything. Bahkan tidak ada tempat lagi di dunia yang punya land opportunity sebanyak di Indonesia.


Tapi ada juga yang tidak mau pulang kampung?

Sebenarnya itu semua tergantung orangnya masing-masing. Di luar negeri mungkin bisa hidup enak, tapi nggak bisa kasih impact banyak. Kalau saya sendiri sih memang ingin memberikan impact besar kepada banyak orang di sini. Bagaimana caranya supaya saya bisa memberdayakan orang dan opportunity lebih banyak lagi untuk menciptakan impact lebih besar bagi Indonesia. Apalagi market-nya masih sangat besar.



Strategi Kudo untuk lima tahun ke depan?

Kalo untuk start up, lima tahun itu terlalu lama. Saya bikin strategi setiap satu tahun. Bisnis kami kan untuk memberdayakan lebih banyak orang. Jadi, sebisa mungkin kami memberdayakan agen sebanyak mungkin. Sekarang sudah ada 300 ribu agen dan tahun ini kami targetkan menjadi sekitar 500 ribu agen. Nanti pada 2018 targetnya satu juta agen.




Gaya kepemimpinan Anda seperti apa?

Harus selalu profesional. Jangan mencampur-adukkan hubungan pertemanan dengan profesionalisme karena hal itu akan membuat semuanya menjadi complicated.



Usia Anda masih sangat muda, ada kendala dalam memimpin karyawan?

Saya pikir pada akhirnya semua berjalan by example. Sebagai pemimpin, meskipun seumuran dengan karyawan, saya harus punya authority dan leadership supaya mereka juga bisa sejalan dengan visi dan misi perusahaan.

Fungsi saya sebagai pemimpin adalah lebih untuk memastikan arahannya sampai jelas. Dari situ saya mengharapkan masing-masing karyawan akan mengorganisasikan, kreatif, dan bisa mengeksekusinya secara independen dengan kreativitas mereka sendiri. Kalau ada masalah, mereka bebas datang menemui saya.


Pernah ada clash?

Menurut saya, semakin banyak argumen akan semakin bagus. Artinya, diskusinya semakin kaya. Jadi, lebih banyak disagreement malah lebih bagus karena semua yang ada di sini dipekerjakan untuk saling tidak setuju demi meningkatkan quality of idea. Kalau semua cuma bilang ya, lebih baik saya bikin robot.


Dalam disagreement, yang jadi penengah adalah logic. Karena ini bukan soal siapa lawan siapa atau seseorang lebih benar dari yang lain. Jumlah karyawan Kudo sekitar 300 orang, semua usianya bervariasi 22 tahun sampai di atas 40 tahun.


Seperti apa dinamikanya?

Saya selalu senang datang ke kantor karena setiap hari selalu ada tantangan yang berbeda, selalu fun. Setiap hari punya pressure berbeda. Artinya, semakin lama semakin tinggi, targetnya juga makin hari makin tinggi. Setiap hari tidak ada kejadian yang sama dan masalahnya juga bermacam-macam. Setiap hari saya paling senang kalau ngeliat tim saya sedang pusing. Itu artinya ada tantangan. Kalau semua happy berarti tidak ada tantangan, nggak seru.


Anda pasti pernah gagal, bagaimana cara bangkitnya?

Saya berupaya bangkit dengan melihat dan belajar dari kegagalan saja. Sebab, menurut saya, omong kosong kalau saya bisa langsung berhasil. Pasti harus mencoba dulu dan mengalami kegagalan. Saya juga tidak menganggap itu sebuah kegagalan, tapi lebih kepada trial and error. Sesuatu yang tidak berhasil bukan berarti gagal. Oleh karena itu, saya harus pick the right battle to win the war.


Obsesi pribadi Anda?

Creating being an inspiration untuk generasi muda Indonesia supaya mereka menyadari bahwa tidak ada yang tidak mungkin di dalam hidup ini. Semuanya mungkin. Dan yang paling penting adalah bagaimana caranya menjadi entrepreneurship, bukan entrepreneurship untuk diri sendiri, melainkan untuk memberdayakan orang lain. Kudo adalah salah satu contoh. Intinya sih bagaimana caranya memajukan Indonesia. Kalau Indonesia menjadi besar, saya pasti happy.


Cara Anda menyeimbangkan keluarga dan pekerjaan?

Keluarga selalu menjadi nomor satu, kerjaan nomor dua. Ini bukan soal menyeimbangkan dan juga bukan soal mengalokasikan waktu, tetapi tentang prioritas. Kehidupan sebagai entrepreneur selalu seperti ini, sibuk. Untuk itu, saya butuh support dari keluarga.

Malah saya menganggap hobi saya adalah kerja. Terkadang kalau liburan malah bikin saya stres karena banyak e-mail yang masuk, yang harus saya kerjakan. Orang bisa mengalami stres karena mereka tidak menghadapi realitas. Kalau buat saya, semua tabrak saja, kerjakan semua yang harus dikerjakan.


Filosofi hidup Anda?

Membuat sesuatu yang bagus dan gampang harus dilakukan dengan berusaha. Tapi hidup adalah soal berdoa dan berusaha. Kalau sudah memberikan semua usaha kita tapi tidak ada berkat dari yang Di Atas maka tidak akan berjalan. Begitu pula sebaliknya, hanya berdoa tanpa berusaha tidak akan berhasil. (*)


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!




Data tidak tersedia.