l Upah Pekerja Kerek Biaya Produksi CPO | Investor Daily
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Rabu, 24 April 2019
BS logo

Upah Pekerja Kerek Biaya Produksi CPO
Oleh Damiana Simanjuntak | Sabtu, 13 April 2019 | 8:07

JAKARTA – Biaya produksi minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) masih akan menjadi momok bagi industri sawit nasional dalam 10 tahun ke depan. Pasalnya, biaya tenaga kerja terus melonjak akibat kenaikan upah minimum provinsi (UMP) rata-rata 10% setiap tahunnya. Biaya produksi CPO yang dikeluarkan perusahaan sawit di Indonesia pada 2017 berkisar US$ 444-577 per ton.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriyono mengatakan, sejak 2008-2017 Compound Annual Growth Rate (CAGR) harga CPO hanya naik 1,50%, sedangkan biaya produksi naik 4,90%.

Sementara itu, berdasarkan pantauan atas sejumlah perusaahaan sawit nasional, per semester I-2017, biaya produksi CPO berkisar US$ 444-577 per ton, padahal perusahaan di Malaysia hanya menanggung biaya produksi US$ 329-386 per ton CPO.

Joko Supriyono mengatakan, tren harga CPO di pasaran cenderung tidak berubah, hal itu ditunjukkan dengan pola fluktuasi harga yang dalam lima dekade terakhir tetap sama, yang berbeda adalah biaya produksinya.

“(CPO) Indonesia itu menghadapi kenaikan biaya produksi akibat kenaikan UMP yang berkisar rata-rata 10% per tahun. Masalahanya, produktivitas sawit Indonesia naik? Tidak, ini menjadi tantangan," kata Joko Supriyono di Jakarta, Kamis (11/4).

Untuk itu, lanjut Joko, produktivitas sawit nasional harus dipacu. Saat ini, rata-rata produktivitas CPO nasional baru sekitar 4 ton per hectare (ha). Dengan asumsi menggunakan perhitungan harga misalnya Rp 7.000 per kilogram (kg) CPO untuk tahun dasar 2017 maka dalam 10 tahun ke depan untuk mengantisipasi kenaikan biaya produksi sudah seharusnya produktivitas dipacu menjadi 6,90 ton per ha. “Jika (produktivitas) tidak (naik), industri kelapa sawit akan merugi," kata Joko.

Selain harga dan biaya produksi, tantangan lain yang dihadapi industri sawit nasional adalah hambatan perdagangan di sejumlah negara. Untuk mengantisipasi tantangan-tantangan itu maka industri sawit nasional harus fokus pada peningkatan produktivitas dan daya saing industri.

Pengembangan pasar dan produk juga perlu digiatkan, berperang memenangkan pasar, baik dengan kampanye positif maupun penguatan perdagangan.

“Kalau bagus bisa dengan trade agreement yang baik. Kalau tidak baik, beneran perang. Kalau Indonesia dengan Eropa ini belum perang, baru ancam mengancam. Nggak tahu apakah Indonesia berani perang atau tidak, kita lihat saja," kata dia.

Pada intinya, kelapa sawit hanya menyangkut produktivitas dan mengelola biaya produksi seefisien mungkin. Terkait biaya produksi memang harus dikelola agar naiknya tidak sampai berlebihan.

“Memang, nggak akan turun. Untuk itu, butuh usaha dan inovasi teknologi untuk efisiensi itu. Di sisi lain, harga sama sekali tidak bisa dikontrol, yang bisa itu mengelola stok," kata Joko. (bersambung)

Baca selanjutnya di https://id.beritasatu.com/agribusiness/2018-produksi-cpo-lampaui-47-juta-ton/187568




Kirim Komentar Anda