l Nusyirwan: Konsultan Nasional Jangan Takut Bersaing | Investor Daily
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Rabu, 24 April 2019
BS logo

Nusyirwan: Konsultan Nasional Jangan Takut Bersaing
Oleh Euis Rita Hartati | Jumat, 12 April 2019 | 8:23

JAKARTA – Anggota Komisi V DPR RI Nusyirwan Soejono mengimbau agar konsultan nasional tidak takut bersaing dengan konsultan asing. Apalagi, pemerintah juga menunjukkan keberpihakannya dalam mendukung kelangsungan bisnis jasa konsultan.

 

“Pemerintah sudah cukup memberikan perhatian pada konsultan nasional. Buktinya untuk proyek yang didanai APBN, pasti menggunakan jasa konsultan nasional," katanya saat ditemui, belum lama ini.

 

Diakui Nusyirwan untuk proyek yang dibiayai dari loan lembaga internasional, maka banyak mensyaratkan penggunaan konsultan asing. "Di sini memang pemerintah harus berupaya agar dalam agreement dituangkan peluang keikutsertaan konsultan nasional. Namun demikian, tidak perlu adanya regulasi khusus untuk proyek yang berasal dari loan, cukup hanya keberpihakan pemerintah kepada konsultan," katanya.

 

Karena itu, kata Nursyirwan, keberadaan UU Jasa Konsultan belumlah mendesak. Sebab untuk proyek-proyek yang berasal dari APBN hampir 100 persen dikerjakan oleh konsultan Indonesia. “Yang terpenting, tingkatkan kualitas sehingga konsultan memiliki posisi tawar yang lebih baik. Saya yakin konsultan nasional mampu bersaing secara terbuka,” katanya.

 

Dirjen Bina Konstruksi Kementerian PUPR Syarif Burhanuddin mengatakan bahwa jumlah tenaga ahli atau konsultan di Indonesia baru 195 ribu, yang bersertifikat, sedangkan kebutuhan mencapai lebih dari 300 ribu. Kekurangan ini dilihat dari banyaknya kejadian gagal lelang dimana salah satu penyebabnya adalah di tenaga ahli.

 

Menurut dia, selama ini banyak regulasi yang terkait dengan tenaga ahli. "Dalam regulasi tersebut, salah satunya membahas agar perusahaan juga memiliki jasa konsultan. Jangan hanya ketika ada proyek saja lalu menyodorkan tenaga ahli dari luar," katanya.

 

Sementara itu, Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Ikatan Konsultan Nasional (Inkindo) Peter Frans menyatakan harapannya agar konsultan nasional bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Caranya dengan meningkatkan kapabilitas serta didukung penuh oleh keberpihakan dari pemerintah.

 

"Kita ingin konsultan nasional jadi tuan rumah, sehingga segala aspek pekerjaan konsultan dikerjakan sendiri. Dalam lingkup Angg kecil, konsultan daerah jadi tuan rumah di daerahnya," katanya.

 

Peter mengungkapkan bahwa saat ini banyak proyek donor yang menggunakan konsultan asing karena memang dalam agreement yang ditandatangani mensyaratkan konsultan yang berpengalaman internasional yang identik dengan pengalaman di luar negeri.

 

"Padahal menurut kami yang dimaksud pengalaman internasional adalah pengalaman walaupun di dalam negeri namun untuk proyek yang dibiayai oleh donor asing," katanya.

 

Jika dilihat dari segi lingkup pekerjaan, kata dia, bisa jadi proyek di dalam negeri lebih besar dibanding di luar negeri. Dia ambil contoh pekerjaan membangun bendungan jatigede lebih besar dibanding di Timor Leste.

 

Adanya persyaratan tersebut, kata Peter, menyebabkan perbedaan billing rate antara konsultan internasional dan nasional hingga mencapai 20 kali lipat.

 

"Sehingga kita harapkan pemerintah berani memakai konsultan nasional untuk proyek-proyek strategis nasional. Sehingga ada keberpihakan dari pemerintah. Kalau tidak ada, akan susah," kata Peter.

 

Dengan billing rate yang baik, kata dia, tersedia dana untuk pengembangan kompetensi . "Ini memang seperti telur dan ayam mana yang lebih dulu harus diperbaiki," ujarnya.

 

Saat ini, jelas Peter, Inkindo memiliki 6.252 anggota perusahaan jasa konsultan nasional dan 120 perusahaan afiliasi/asing yang tersebar di 34 provinsi.

 

 

Peter juga menilai keberadaan UU Jasa Konsultan mendesak sebagai payung hukum bagi produk usaha jasa konsultan di Indonesia. Hal ini, sangat diperlukan untuk mendukung bisnis jasa konsultan baik konstruksi maupun non konstruksi.

 

"Tapi di tahun politik ini, UU mungkin terlalu tinggi. Jadi kita harapkan dalam waktu dekat bisa terbit perpres mengenai pengembangan dan peningkatan jasa konsultan. Karena bisnis ini harus dikembangkan,"kata Peter.




Kirim Komentar Anda


Data tidak tersedia.