l Penggunaan Gawai Picu Neuropati | Investor Daily
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Rabu, 24 April 2019
BS logo

Penggunaan Gawai Picu Neuropati
Oleh Indah Handayani | Minggu, 7 April 2019 | 13:09

Penggunaan gadget atau gawai saat ini menjadi kebutuhan krusial masyarakat karena kemudahan untuk berkomunikasi, mencari informasi, hingga memesan transportasi lewat aplikasi. Namun, penggunaan gawai yang terlalu intens dapat memperluas gejala neuropati terhadap masyarakat produktif. Risikonya pun bisa fatal jika tidak cepat ditangani secara benar.

Tigginya penggunaan gawai di Indonesia dapat dilihat dari peningkatan pengguna internet di Indonesia. Berdasarkan data Asosiasi Pengguna Jasa Internet Indonesia (APJII), pada 2017 jumlah pengguna internet sudah mencapai 143 juta atau hampir 55% dari penduduk Indonesia yang berjumlah 262 juta jiwa.

Ketua Kelompok Studi Neurofisiologi dan Saraf Tepi Perdossi Pusat Dr Manfaluthy Hakim, Sp.S(K) menjelaskan, aktivitas dengan gerakan berulang dapat menjadi faktor risiko neuropati, termasuk penggunaan gawai terlalu lama.

Bagian tubuh pengguna gawai yang berisiko terkena neuropati adalah jari tangan karena dapat menyerang saraf tangan dan menyebabkan kesemutan atau kebas hingga rasa nyeri yang menetap.

“Pencegahan dan pengobatan dini neuropati sangat penting untuk dilakukan mengingat kerusakan saraf akan bersifat irreversible apabila kehilangan serabut saraf diatas 50%,” ungkap dia, di Jakarta, Rabu (27/3).

Menurut dr Luthy, saraf tepi adalah penghubung organ tubuh dengan saraf pusat yaitu otak dan sumsum tulang belakang dengan seluruh organ tubuh (organ dalam, mata, pendengaran, penghidu, kelenjar keringat, kulit dan otot-otot), karena itu sangat penting untuk dijaga agar tetap berfungsi maksimal dan terhindar dari neuropati atau kerusakan saraf tepi. Ketika saraf tepi mengalami kerusakan maka akan muncul gejala-gejala seperti kesemutan, kebas, kram, dan kelemahan otot yang disebut dengan neuropati.

Sejumlah penelitian mengonfirmasi tingginya penggunaan gawai di kalangan millenial dalam jangka waktu lama dalam kehidupan sehari-hari.

Fita Maulani, Sekretaris Jenderal Asosiasi Internet of Things Indonesia, mengungkapkan berdasarkan survey APJII 2017, 50% pengguna aktif internet menggunakan smartphone. Di kalangan millenial berusia 20–35 tahun yang 94,4% telah terkoneksi internet, sebanyak 98,2% menggunakan smartphone rata-rata 7 jam sehari dan bahkan 79% langsung memeriksa smartphone 1 menit setelah bangun tidur.

“Perkembangan teknologi banyak kemudahan, namun di saat yang sama screentime lebih lama dan dapat berisiko terhadap kesehatan,” papar dia. (bersambung)

Baca selanjutnya di https://id.beritasatu.com/home/pencegahan-dapat-dilakukan-dengan-mudah/187376




Kirim Komentar Anda


Data tidak tersedia.